Oleh : Kanis Lina Bana

Paundoa-Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur. Langit sedang ditemani permadani biru. Hawa sedang hangat-hangatnya. Warga kampung setempat lagi pulang ke rumah setelah sepekan mengakrabi lahan-lahan kebun mereka. Hari itu Minggu (24/2/2019). Seperti pada galibnya, setiap hari minggu umat nasarani kembali berhening, mendaraskan doa-doa, menghitung biji-biji kontas sesuai intensi masing-masing.

Namun pada hari itu bagi sebagian orang-orang muda Paundoa dan beberapa tokoh masyarakat, usai mendasarkan mazmur syukur mereka berkumpul di rumah budaya di kampung itu. Satu unit bangunan permanen rumah budaya tersebut merupakan bantuan Ibu Janed dan Sius Unda. Letaknya bertentangga dengan kantor desa setempat. Akuistik ruangannya sangat apik. Ada kamar ganti dan tempat menyimpan perlengkapan tarian budaya. Ada pula panggung utama dan arena pementasan. Halamannya luas. Sudah memperhitungkan bila ada pentasan budaya yang melibatkan banyak orang.

Siang itu mereka duduk berjejer membentuk lingkaran. Para tokoh-tokoh adat di bawah komando Thomas Ola, Yoseph Panggu, Primus Nggajing, Bertolomeus Fan dan beberapa tokoh lainnya menempati panggung utama. Sedangkan anak-anak muda duduk di seputaran arena pementasan. Kelompok inisiator kegiatan hari itu di bawah asuhan Gabriel Sarong dan Aryanto Musri menggunakan kostum yang bertuliskan Rongga Komba. Ada daya tarik performance mereka. Ada nuansa dan aliran energi terbetik di sana.

Suasana begitu akrab. Tukar kasih dan saling pengertian. Kasat kelihatan gestur tubuh dan rona wajah memancarkan aura gembira. Terulur dan bersahut-sahutan. Lebur dalam keakraban yang hangat. Sungguh…larik-larik kerinduan bersenyawa dalam asa yang sama.

Kehadiran mereka hari itu bernaug di bawah tema yang sama. Memikirkan masa depan kultur budaya etnik Rongga. Bagaimana realitas masa lalu dan prospek ke depannya. Sebab dalam bilik hati dan jiwa mereka menginginkan keutuhan, keadaban yang beradab dan bermartabat. Mereka mendambakan karakter dan kulutr budaya Rongga tetap bestari. Kehadiran hari itu juga serentak membendung badai, menantang godaan seraya mengurai kisah demi merawat peradaban budaya Rongga.

Itu sebabnya di bawah genangan kesadaran, mereka duduk berhening. Kembali pada kedalaman nubari. Menukik sendi-sendi kebersamaan komunitas Rongga yang sedang ditengarai cobaan mengganas. Betapa tidak. Sejak adanya komunitas ini, sesungguhnya sudah memperlihatkan kekhasan dan keunikannya. Komunitas Rongga dalam kapasitas dan adanya menorehkan warisan budaya yang kuat, lengket dan beradab. Misalnya narasi-narasi, fragmen-fragmen, folklor lisan, seni bertutur, cerita rakyat, peri bahasa, kerajinan tangan dan kebiasaan serta tradisinya sangat kaya dan bermakna.

Namun kekayaan yang mewaris tersebut, pada siklus kehidupan saat ini sudah terasa adanya ancaman yang sangat serius. Bahkan kekayaan yang dimiliki itu bisa hilang terutama pergeseran paradigma budaya sebagai akibat adanya internalisasi internal maupun eksternal baik melalui perdagangan, perkawinan maupun interese lainnya. Ancaman tersebut, sadar atau tidak sadar-lambat laun kian kronis dan mengkhwatirkan. Dan, jika itu dibiarkan terus-menerus serta tidak ada upaya sadar untuk menemukan kembali, niscaya cepat atau lambat orang Rongga akan kehilangan identitasnya. Komunitas Rongga akan tergerus sampai titik nadir.

Ancaman yang paling menyedihkan bahkan naif adalah Bahasa Rongga sebagai media komunikasi perjuampaan. Belakangan ini sudah terasa di beberapa titik kampung orang Rongga, dalam komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa lokal etnik lain. Idiom atau ungkapan tertentu yang mengandung spiritualitas kemasyarakatan sudah tidak tahu-menahu lagi. Tragis memang.

Padahal mereka adalah anak asli orang Rongga. Turunan Rongga tulen. Sebagai contoh. Hanya karena perkawinan, menikah dengan pasangan hidup yang berasal dari etnik lain sudah tercebur dalam bahasa lokal istrinya. Padahal pasangan etnik lain yang menikah dengan orang Rongga tersebut tinggal di wilayah Rongga. Seharusnya pasangan hidup yang berasal dari etnik lain itu pelan-pelan belajar bahasa Rongga. Bahasa ibu asalnya pelan-pelan ia ditinggalan sebagai konsekuensi logis atas pilihannya hidup dan ada di tengah masyarakat etnik Rongga.

Tetapi yang terjadi sebaliknya, dalam percakapan setiap hari justru menggunakan bahasa lokal ibunya. Bahkan dengan penuh bangga ketika sudah bisa berbahasa bahasa ibu etnik lain. Apakah ini tanda kemajuan atau kelunturann benteng jati diri orang Rongga. Padahal sesuai hukum perkawinan patrilineal sang wanita sudah masuk klen Rongga dan pelan-pelan belajar bahasa Rongga.

Inilah ancaman yang membahayakan. Dan cepat atau lambat bahasa Rongga akan pudar, ditinggalkan dan lenyap dari peradaban orang Rongga sendiri. Berangkat dari salah satu keprihatinan inilah lahir komunitas Rongga Komba di Paundoa, Desa Komba.

Jauh sebelum forum itu terbentuk, Gabriel Sarong, Aryanto Musri dan Ferdinandus Tetu, selaku inisiator duduk bersama. Mereka mendiskusikan kegelisahan itu. Membahas lebih dalam ‘godaan zaman’ yang menguliti peradaban Rongga. Mencari akar soalnya. Diskusinya intens. Refleksinya menukik, meliuk hingga ke kedalamannya. Sebab mereka sangat merasakan adanya hempasan, terpaan zaman yang sedang mengerubuti komunitas Rongga.

Akhirnya konsep dan pikiran mereka temukan jodoh. Sebab peristiwa hari itu-ketika mereka duduk bersama, menukar kegelisahan menjadi momentum penting dalam tapak jejak etnik Rongga. Mereka menyadari akan pentingnya kebersamaan dalam penguatan basis budaya. Karena itu mereka sepakat membentuk satu komunitas yang bernuansa sosio-budaya. Di komunitas inilah mereka berbela rasa, menoleh hari-hari yang telah lewat, seraya meracik harap di masa depan bagi lestarinya entitas dan jati diri orang Rongga. Maka, tepat 17 Pebruari Tahun 2018 lalu komunitas itu dibentuk. Mereka membabtis dengan nama Rongga Komba.

Komunitas Rongga Komba yang telah terbentuk itu belum popler di kalangan publik. Masih terbatas di Desa Komba saja. Namun bersama komunitas ini ada kekuataan. Media perjumpaan jati diri. Medium pendalaman meraih hakekat terdalam esensi komunitas Rongga itu sendiri.

Usia komunitas itu baru sebentar. Belum berakar dan meluas. Namun setidaknya, komunitas ini menjadi cikal bakal gerakkan bersama bagi komunitas Rongga untuk menggali kembali sumur-sumur kearifan yang sudah kering. Menemukan kembali kebajikan-kebajikan yang sudah hilang. Dan, kebersamaan yang tercipta pada 24 Pebruari 2019 lalu, sesungguhnya beraras dalam kesadaran mengenang peistiwa satu tahun berdirinya komunitas Rongga Komba.

Merawat Peradaban

Penangung jawab komunitas Rongga Komba, Gabriel Sarong, menuturkan komunitas Rongga Komba didirikan bukan secara kebetulan. Tetapi lahir dari keluhuran aklak, ketukkan kesadaran batin yang mendalam. Orang muda, lanjutnya, merasa terpanggil menyelamatkan kekayaan budaya Rongga. Sebab sebagai orang muda sungguh merasakan adanya cobaan yang kian runyam dan mengkwatirkan. Bahwa cepat atau lambat orang Rongga akan kehilangan entitas budayanya.

“Kita bersyukur ada orang luar yang meneliti tentang komunitas Rongga. Mengapa orang Rongga sendiri tidak melakukan hal yang sama”? Terutama menyelamatkan warisan budaya yang mulai digerus roda zaman. Kesadaran inilah kemudian menjadi pelatuk munculnya ide membentuk komunitas Rongga Komba,” katanya.

Dia menceritakan, ide mendirikan komunitas Rongga Komba diprakarasai oleh orang-orang muda yang memiliki keprihatinan yang sama. Sebab komunitas Rongga dalam konteks eksistensinya dianggap unik dan menarik. Unik karena kultur dan budaya yang khas dan terwariskan yang tidak ditemukan di belahan bumi lainnya. Menarik karena penyebarannya hanya berada di satu kawasan saja.

Salah satu tarian budaya yang menarik dan unik adalah Phera (Vera dalam dialeg lokal Rongga). Tarian mewaris itu kurang mendapat tempat di hati orang muda. Orang-orang muda lebih terpikat tarian modern. Menyadari hal itu maka kumunitas Rongga Komba memperjuangkan tarian tersebut menjadi tarian nasional. Berkat kerja keras dari komunitas inilah, urainya, tarian Phera (Vera, Red) mendapat restu dari pemerintah pusat menjadi tarian nasional.

“Inilah prestasi yang sudah diletakkan komunitas ini. Besar harapan ke depan elemen masyarakat Rongga turut terlibat aktif dalam membesarkan komunitas ini. Terutama melibatkan etnik Rongga dalam upaya sadar menemukan, menghidupkan dan melestarikan warisan kekayaan budaya orang Rongga,” paparnya.

Sementara tokoh masyarakat, Thomas Ola, Yoseph Panggu, Primus Nggajing dalam arahan singkat masing-masing mereka menekankan hal yang sama. Yakni terpanggil bersama agar komunitas yang telah dirintis ini mendapat perhatian secara serius dan bertanggung jawab dari semua orang Rongga. Sebab komunitas yang ada bukan hanya menjadi wahana efektif dalam menyelamatkan budaya Rongga. Tetapi serentak dengan itu menjadi basis utama dalam kapasitas yang lebih luas di tengah percaturan kehidupan dunia saat ini dan ke depannya.

Kecuali itu, Thomas Ola dan Primus Nggajing meminta agar muatan lokal di setiap jenjang pendidikan yang berbasiskan masyarakat Rongga dapat memasukan mata pelajaran bahasa Rongga. Sekurang-kurangnya menetapkan hari tertentu menggunakan bahasa daerah Rongga. Dengan cara itu dapat menyelamatkan bahasa ibu etnik Rongga.

Bertolomeus Fan, salah seorang tokoh pendidikan di Paundoa menegaskan, imbauan menjadikan Bahasa Rongga sebagai salah satu mata pelajaran lokal sah-sah saja. Hanya perlu materi dasar yang disiapkan secara sistematis agar tema-tema yang diajarkan kontekstual dan relevan.

“Kita harapkan ke depannya, komunitas ini dapat menghasilkan sebuah modul pembelajaran bahasa Rongga yang bisa diajarkan di sekolah-sekolah di wilayah Rongga,” imbuhnya. ***

*)Penulis Caleg Hanura/Dapil Kota Komba

Tinggalkan Balasan