Bahasa Dan Sastra

Selasa, 26 Maret 2019 - 09:07 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Model Brigita (Foto Model: Biand Gorman)

Model Brigita (Foto Model: Biand Gorman)

Namanya Lusiana

Aku mengenalnya sejak dia masih berseragam merah putih. Saat sepatu Dalas berwarna hitam masih terlihat cantik di kaki mungilnya. Saat dia masih menyukai bando pink. Saat dia belum mengenal bagaimana rasanya gatal-gatal di hati yang tak dapat digaruk, orang dewasa biasa menyebutnya sebagai jatuh cinta. Ia belum mengenal itu. Belum mengenal rindu, kecewa dan dunia asmara dan aku telah mengenalnya sejak saat itu.

Namanya Lusiana. Gadis kecil bermata bening. Anak dari seorang perempuan yang baik hati dan lelaki yang sangat menyayangi kedua anak serta istrinya. Hidup di suatu Desa. Rumah tepat di pinggir jalan raya dengan kios di samping kirinya. Konon, aku dan teman-temanku sering mampir di sana untuk membeli pena, buku tulis, permen atau kadang kala hanya untuk nongkrong saja sambil menghitung kendaraan yang lewat.

Aku sering melihat Lusiana ada di sana. Keramahannya pada pembeli, Kecakapannya dalam mengkalkulasi jumlah belanja dan berapa uang yang harus dikembalikan, patut aku beri apresiasi setinggi langit. Kalau boleh jujur, aku yang berusia lebih lima tahun darinya belum bisa menghafal kali, bagi, tambah, kurang, seperti dia.

Kerap kali kami yang nongkrong di sana, meski sedikit merusak pemandangan dipersilakannya untuk menduduki sebuah kursi plastik dan tentu saja kami sangat senang dan beramai-ramai merebut kursi itu. Kalau boleh dibandingkan, merebut kursi yang diberikan Lusiana itu juga hampir sama dengan mereka yang merebut kursi di Senayan. Hanya saja kami tidak menggunakan spanduk dengan memaparkan visi-misi yang aduhai.

Kami merebut kursi itu seperti merebut takhta di hati Lusiana. “Siapa yang dapat, kelak dia akan menjadi pendamping hidupnya.” Begitulah kami menyakininya. Kalau dihitung-hitung, aku adalah orang paling beruntung dari teman-temanku. Karena dari beberapa undian konyol itu, aku adalah orang sering mendapat kursi tersebut. Selain bisa duduk santai, satu keyakinana di antara kami bahwa suatu saat nanti Lusiana akan semakin dekat dengan orang yang sering menduduki kursi yang dia berikan. Ini tidak main-main, meski secara rasional teramat konyol.

Loading...

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Memanjangkan rambutnya. Melesungkan sedikit pipinya. Menampakan gigi ginsulnya. Lusiana sungguh diberkati oleh Sang Waktu. Dia dianugerai wajah yang cantik, tubuh yang seksi, kulit yang putih dan mulus serta keramahan yang semakin memanjakan siapa saja. Sudah dewasa dan hampir masuk perguruan tinggi. Kalau dibanding dengan teman-teman seangkatannya, dia adalah orang yang paling cepat dalam hal kedewasaan. Gayanya bertutur kata, kebijaksanaannya dalam bertindak dan caranya menempatkan diri dalam pergaulan sudah melebihi kata cukup. Aku sangat kagum dengan perkembangannya. Aku semakin terkesima padanya. Aku semakin menyukainya dan yang pastinya kini kami telah menjalin kasih. Sudah dua tahun perjalanan cinta ini kami lewati bersama dan aku semakin mencintainya dalam segala hal.


Meyakini sesuatu yang belum tentu akan terjadi itu memang tampak konyol. Apalagi jika itu berkaitan dengan cita-cita masa kecil yang selalu tampak ngawur dan diakui bersama dengan teman-teman di masa itu. Tetapi keyakinan itu sepertinya tidak terasa konyol lagi ketika dua tahun lalu, keyakinan masa kecil itu muncul lagi meski tidak sepenuhnya terjawab dengan pasti. Setidaknya keyakinan itu membawa aku dan Lusiana menjadi seakrab dan sedekat mungkin meski ujungnya juga belum tentu berakhir di pelaminan atau sebuah perpisahan.

Kami. Aku dan Lusiana bertemu kembali di suatu terminal, itu terjadi tepatnya dua tahun yang lalu. Saat itu aku pulang ke kampung untuk menuntaskan rasa rinduku pada kedua orangtua, juga sanak saudaraku, sekaligus ingin menghabiskan waktu liburan panjang bersama teman-teman di kampung. Pada sebuah kursi panjang di ruang tunggu, aku duduk sendiri membaca beberapa lembaran terakhir dari “Sang Aklemis”, novel karya Paulo Coelho. Terminal hari itu cukup sepi, tidak seperti biasanya. Bus yang akan aku tumpangi belum juga muncul. Menunggu dan menikmati semuanya sendiri.

Belum sampai pada lembaran terakhir “Sang Aklemis”, seorang anak kecil muncul dari arah belakang dan duduk tepat di sampingku. Serempak menyadari kehadirannya, aku menutup novel itu dan mengajaknya bercakap-cakap. Pelan-pelan aku mulai perkenalan singkat dengannya, tentang nama, asal dan tujuannya. Kemudian berlanjut pada pertanyaan yang membuat jantungku berdegup kencang, dengan siapa dia akan bepergian. Aku sangat terkejut dengan jawabannya. Aku kalang kabut dengan sebuah nama yang rupanya tidak asing lagi di telingaku.

Saya datang dengan, Kak Lusiana. Jawabnya sambil menunjuk ke arah kios kecil di ujung terminal.

Aku melihatnya, Lusiana yang sedang bercakap-cakap ramah dengan pemilik kios. Mereka terlihat sengat menikmati perbincansgan itu. Siapa pemilik kios itu, keluargamu juga dik? Tanyaku pada anak itu. Ia menggelengkan kepala. Lantas siapa orang itu, mengapa begitu akrab dengan Lusiana? Pertanyaanku hanya ada kepala yang berakhir dengan sebuah senyum untuk adik yang ada di hadapanku dan kudapati dia juga ikut tersenyum.

Lusiana yang sekarang sudah jauh berbeda dengan Lusiana yang sering kutemui dulu. Tak ada lagi baju seragam merah putih. Tak ada lagi sepatu Dalas dan bando berwarna pink. Lusiana yang sekarang, yang berdiri kurang lebih lima puluh meter dari tempat dudukku sudah semakin cantik. Tubuhnya sudah semakin seksi. Senyumnya semakin tulus. Keramahannya semakin menjadi-jadi. Seketika aku kembali terpukau. Mataku hanya terpaku padanya.

Hai…! Sapaku pada Lusiana.
Hai… Kak. Masih ingat aku, ya? Aduh… Kak pulang dari mana? Mau ke kampung juga?

Ah Tuhan. Berkat macam apa hingga Engkau jadikan Lusiana sebagai pribadi yang begitu ramah?. Tuhan. Kalau Engkau berkenan, nyatakan keyakinan konyolku bersama teman-temanku dulu. Semoga dia adalah perempuan yang Engkau bentuk dari tulang rusukku. Amin. Aku membatin di tempat dudukku.

Pertemuan dan segala macam tema percakapan di terminal kala itu adalah awal dari kedekatan kami. Disusul lagi dengan beberapa potongan pertemuan lain selama liburan panjang itu. Kami begitu akrab. Sangat akrab, hanya saja kami masih mendiamkan perasaan yang ternyata belakangan kuketahui mulai bertumbuh.

Kubiarkan rasa kagumku tetap tumbuh dan mekar dalam diam. Dia juga begitu. kubiarkan dia sendiri yang tahu seberapa besar rasa cintanya padaku. Kami sembunyikan semuanya dalam diam. Hingga akhirnya tak ada satu pun kalimat yang mewakili perasaan kami masing-masing sampai masa liburanku berakhir dan aku harus kembali ke kota ini, tempatku mengenyam pendidikan.


Aku sudah di sini dan dia tetap di sana. Potongan-potongan pertemuan, canda-tawa di dalamnya tidaklah lebih dari kisah masa liburan.

Kau tahu, Lusiana? Kisah paling menarik yang aku sungguhkan kepada teman-temanku di sini adalah kisah tentang engkau. Tentang pertemuan-pertemuan yang begitu akrab dan tentang perasaanku yang masih menggantung di lubuk hatiku.

Tidak masalah bagiku. Aku adalah seorang penganut Sang Waktu. Aku meyakini bahwa suatu saat nanti, cepat atau lambat kita akan mengungkapkan perasaan kita masing-masing. Tidak hanya itu, aku juga masih meyakini keyakinan yang dulu aku dan teman-temanku ciptakan. Tentu kau belum tahu tentang itu. Bagaimana aku bisa memberitahumu? Hubungan kita saja belum diberi nama.

Lagi-lagi ini hanya soal waktu. Nanti kita akan menyatu dan akan mengarungi lautan cita bersama-sama. Aku akan menjadi bapak dan kau akan menjadi ibu dari anak-anak kita. Aku masih meyakini itu, Lusiana. Sangat yakin.
Sekarang dia adalah alasanku, sesering mungkin online di Facebook dan WhatsApp. Atas kesepakatan bersama, kami berkomitmen untuk saling menelefon, memberi kabar secara bergantian sekali dalam seminggu. Itu kami lakukan di malam minggu, kalau tidak di malam senin. Di sana kami saling bertukar sapa, kabar dan cerita. Di sana kami memperoleh senyum dan ketawa meski terkadang terlihat seperti orang sakit jiwa. Kami menikmati masa PDKT itu selama satu semester, berdasarkan rentang waktu masa kuliah. Kami sudah mengetahui lebih banyak tentang kepribadian kami masing-masing. Dia yang menyenagkan. Dia yang periang. Dia yang keras kepala dan dia yang membuat rinduku semakin meruap-ruap di dada.


“Kak, tanggal dua puluh tiga yang akan datang kami mulai libur. Aku akan pulang. Natal bersama mama dan papa. Kak, tidak Natal di kampung ka? Ayolah…Aku menunggumu, Kak”. Pesan dari Lusiana.
“Baiklah. Aku pikir-pikir dulu. Nanti akan kukonfirmasi lagi sebelum tanggal dua puluh dua” Jawabku singkat

Aku memutuskan untuk pulang. Lagipula dari tempat aku kuliah, perjalanan ke kampung bisa ditempuh dalam tempo waktu duabelas jam. Pada jam ketigabelas aku sudah bisa merasakan sejuknya udara kampung. Sudah bisa memeluk mama dan papa. Sudah bisa merasakan hangatnya tungku api.

Aku harus pulang. Selain rindu suasana Natal di kampung, aku juga sangat merindukan Lusiana. Aku betul-betul ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, empat mata. Tentang cinta yang terus membuncah di dada. Tentang rindu yang kian menggunung dan tetang pertemuan yang masih sebatas angan. Aku ingin bertemu dengannya.


Selamat sore, Ade. Aku sudah di kampung. Tiba kemarin sore. Kamu di rumah? Salam hangat untuk mama dan bapakmu. Untukmu tidak usah. Nanti aku berikan secara langsung. Hehehehe. Pesan singkat ini kulayangkan di messenger lite.

Hahahaha….Kapan datang ke rumah? Besok hari minggu. Aku di rumah saja. Datang ya, kak. Aku menunggumu. Jawabnya disertai dengan emoji jantung berwarna darah.

Lusiana, apa yang kau makan saat kecil? Kau teramat mulia untuk menjadi penghuni di bagian terdalam hatiku. Pesanmu yang selalu bilang “menunggu” membuat aku terus bertanya. Adakah kau betul-betul mengharapkan kedatanganku? Lalu, laki-laki macam apakah aku ini yang takut menginjakkan kaki di pintu rumahmu dan menemui engkau serta bapak dan mamamu? Lusiana, aku tidak lagi seperti aku di beberapa tahun lalu. Aku yang tidak tahu malu nongkrong di depan rumahmu, yang tidak segan-segan meminta permen karet padamu. Sekarang semuannya telah berubah. Rasa cinta yang masih terpendam ini membuat aku menjadi pemalu. Malu padamu, juga kepada diriku sendiri yang mencintaimu tanpa mengenal usia dan status sosial kita.

Ok Lusiana, setelah misa aku akan mampir ke rumahmu. Bilang mamamu kalau aku akan ke datang. Tapi jangan beritahu papamu. hehehehe

Bagiku, cinta itu sederhana saja. Ketika aku melawak, dia tertawa. Itu saja, selebihnya adalah tentang ketulusan dan kesetiaan dan itu adalah suatu keniscayaan yang mutlak ada dalam sebuah hubungan. Itu sebabnya aku kerap kali terlihat bodoh di hadapan diriku sendiri. Berusaha menjadi orang paling gila sedunia. Bagiku itu adalah suatu hal yang layak dan wajar dilakukan. Intinya hanya satu, asalkan bisa buat dia tersenyum.

Rindu yang mengidap jiwaku selama ini perlahan normal saat pertemuan di hari minggu itu. Dua gelas kopi dan satu piring kue Pao. Kursi, meja, dan Salib yang tergantung di dinding ruang tamu itu adalah saksi bisu atas perbincagan kami. Berbagai macam tema di angkat di sana. Mulai dari yang ringan-ringan sampai pada tema yang membuat dahi kami merengus. Meskipun begitu, tertawa bersama selalu menjadi kesimpulannya.
Dari pertemuan itu, aku bertambah yakin tentang apa yang dikatakan orang-orang bahwa racun paling manjur untuk mematikan rindu adalah pertemuan. Kalupun ada cara lain, itu tidak melebihi pertemuan. Kali ini hatiku lega. Hal yang paling memalukan diriku sendiri adalah ketika merasa berat untuk pulang. Aku ingin menetap di ruang tamu itu. Menetap pada kedua bola mata Lusiana dan bersemayam sampai mati di hatinya. Dasar perasaan sialan!suguhku pelan tanpa didengarnya. Beruntung waktu menghantar senja ke dunia. Membuat aku sadar kalau dunia merangkak menemui malam dan aku harus pulang ke rumah juga.
Aku pamit, Ade. Sampai ketemu di lain kesempatan.
Ia menghantarku sampai di halaman rumah. Melihat aku sampai aku betul-bebul hilang di ujung tatapannya.


Satu minggu lagi liburan Natal akan mencapai ujungnya. Waktu untuk bertemu, Lusiana semakin sempit. Apalagi dia sudah kembali ke kota, tempat ia bersekolah. Mengingat waktu yang begitu singkat. Kami memutuskan untuk bertemu di sana. Untuk diketahui, bahwa kota kami mengenyam pendidikan itu berbeda. Itu artinya aku harus ke sana. Tidak apa. Ini juga bagian dari agenda liburan. Dia masih dengan pesan yang sama. “Aku menunggumu, Kak”.

Cuaca siang itu sangat bersahabat. Sinar matahari dan udara dengan takaran yang pas. Kami menyusuri jalan menuju tempat paling indah di kota itu dengan Jupiter MX kesayanganku. Kali ini, Lusiana terlihat lebih cantik dari biasanya. Bukan karena bedak, gincu apalagi pensil alis yang sering dipakai oleh nona-nona di Korea sana. Dia memang pecinta kenaturalan. Dibiarkannya rabut terurai. Bak air terjun yang jatuh dari ketinggian menuju punggung sungai yang jernih. Dengan balutan jeket Levis yang sangat sesuai dengannya. Dia tampak cantik dan sangat anggun.
Aku mau katakan sesuatu, Lusiana. Kali ini serius. Berkenankah kau untuk mendengarnya?
Ungkapku di sela perbincangan itu sambil kutarik kedua tangannya dan kupengang sangat erat.

Aku melihat dia mulai merengus. Mungkin sedang keheranan atau apa. Kali ini aku gagal lagi untuk menebak apa yang ada di kepalanya. Intinya, aku mulai merasa malu dan kehilangan kata-kata untuk melanjutkan perbincangan. Lebih tegang dari detik-detik terakhir pengambilan keputusan di kantor pengadilan. Itulah kelemahanku. Selalu merasa begitu kalau dia begitu. Aku akui itu.
Hahahhahaaha…..
Dia tertawa sementara aku semakin dilanda kebingungan.
Kak, mengapa harus kaku begini? Bukankah kita sudah omong panjang lebar? Lagipula kita sudah sangat serius dari tadi, ia kan? Bahkan dari pertama kali kita bertemu. Oh, aku mengerti. Ini tentang perasaan dan status kita. Aku sudah tahu itu dari dulu, Kak. Bahkan kita sudah merasakannya, bukan? Aku juga sengat mencintaimu. Mencintaimu, Kak”Jawabnya lugas, jelas dan padat.
Yaa… Tapi..
Ah…. Kalau kau sudah tahu begitu, lantas mengapa tidak dari dulu kau ungkapkan itu padaku
? Bantahku padanya.
Aku melihat dia tersenyum dan diikuti dengan suara tawa.
Ayolah kak, nyatakan perasaanmu. Aku mau mendengarnya.Tantangnya.
Begini, Ade”. Ungkapku sambil meraih tubuhnya dan kami menyatu dalam pelukan.
Persetan. Aku tidak malu kalau dia merasakan betapa kenjangnya denyut jantungku. Aku memeluknya erat. Dia juga demikian.
Aku mencintaimu, Lusiana. Bisikku di telingannya.

Pohon-pohon bersorak kegirangan bersama tiupan angin sepoi-sepoi. Rumput-rumput juga berjoget. Latar di langit barat perlahan menjingga. Senja telah tiba. Sementara kami mabuk oleh rasa cinta.
Kita pulang, Lusiana!


Aku sudah di sini, di tempat kuliah. Dia tetap di sana. Hari-hariku dilalui dengan cinta dan rindu yang masih sama. Hubungan jarak jauh sama sekali tidak membendung cinta kami. Kami masih punya waktu yang banyak untuk bebagi cerita lewat telpon, WhatsApp atau media sosial lainnya.

Pada suatu kesempatan, aku menulis dan mengirim puisi, khusus untuknya:

Aku Tetap Mencintaimu
Semenjak kita tak lagi bersama. Cinta menjadi rawan dari bermacam-macam prasangka yang mustahil. Demikianlah ada rasa yang datang mengharu biru dan kemudian pergi meyisakan rindu. Selebihnya hanya hening yang selalu membawa serta bayangmu.
Kemudian aku tekat menunggu waktu yang tepat dengan penuh sabar. Secara sengaja kubiarkan hari-hari berlalu dengan caranya sendiri sembari menanti saat-saat di mana kita berjumpa kembali.
Maka terjadilah demikian dan tentu saja aku menikmatinya. Aku masih dengan keyakinan yang sama bahwa aku dan kau akan disatukan menjadi kita.
Namun,sejauh ini kita mesti besyukur telah mengenal cinta yang paling hakiki. Adalah ketika hati kita berbunga-bunga tanpa mengenal musim. Sampai-sampai kita tidak merasa sendiri meski kita betul-betul sendiri. Atau ada masanya kita merasa sementara terbang meski kita berada di tempat paling sunyi di muka bumi ini.

Kalau begitu, biarlah. Biarlah hatimu terbang dan berbunga-bunga asalkan kau tidak lupa memikirkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Sebab ada kemungkinan suatu saat sayapmu patah dan kau jatuh terkapar dengan hati yang remuk redam. Tapi ingat! Itu hanyalah kemunginan yang mungkin saja tidak terjadi.

Mari. Berjalanlah bersamaku seperti air sungai yang mengalir tak kenal jarak. Apabila dalam perjalanan nanti kita berhadapan dengan jalan yang berlika-liku atau berhadapan dengan bebatuan yang tajam. Maka, tenanglah. Sapalah dengan lembut sampai ia tumpul dan kitapun melewatinya dengan senang hati sambil tertawa riang.

Saat kita tetah melaluinya. Kita sampai juga di lautan cinta tak bertepi. Kita melebur dalam cinta sambil menyakini bahwa kita telah ditakdirkan untuk bersatu sampi kita mati ditimbun cinta kita sendiri.

Lusiana, kau adalah kekasihku. Tuan dari cinta dan rinduku. Penyebab gunda, cemburu dan luka yang nikmat. Kau adalah muasal dari air mata dan pangkal dari keabadian.
Aku mencintaimu. Mencintaimu, Lusiana.

Penulis: Fenan Jabur. Penyuka puisi dan cerpen. Sekarang lagi studi filsafat di STFK Ledalero-Maumere.

Artikel ini telah dibaca 58 kali

Baca Lainnya