Bahasa Dan Sastra

Senin, 5 Agustus 2019 - 21:21 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Patah Hati Dan Pelarian

Cerpen ini diangkat Dari Kisah Hidup Penulis sendiri

Masih teringat jelas olehku, saat terakhir kali aku memelukmu di bandara soekarno hatta jakarta. Gayamu yang akuh namun romantis terus menghipnotisku. Itu yang terakhir kali aku melihatmu, berbulan bulan aku menunggu kabar darimu.

Masih ingatkah dirimu tentang nasi goreng yang aku buatkan dengan segenap cinta untukmu??

Kau semakin jarang mengabariku, sampai akhirnya aku menyerah.
Tetapi kau harus tahu cintaku selalu untukmu bahkan sampai hari ini saat aku menulis ini.

Waktu empat tahunpun berlalu, bahkan pernikahanpun tak pernah bisa menghapus rasa cintaku padamu, kau ku sebut saja pria April.

Kecewaku padamu membuatku mencoba membuka hati untuk yang lain, tetapi itu semua tak semuda inginku. Bayangmu terus mengikutiku mengacaukan kewarasanku.

Bodoh amat dengan bayang dan rasa cintaku padamu, aku ingin terus melanjutkan hidup baruku meskipun sebenarnya aku tak pernah bisa mencintai ornglain, seperti aku mencintai kamu.
Pikirku toh nanti cinta akan datang karena terbiasa, dengan keyakinan itu, aku bertekat meninggalkan ibu kota yang penuh dengan kenangan tentang kita.

Sampai akhirnya aku sampai di tempat ini.

Aku memulai kehidupan baruku yang sebenarnya aku bingung akan memulai dari mana, aku hidup bersama seorang pria yang saat ini adalah suamiku.

Hari yang kulalui terasa berat, bayang bayang hari kemarin denganmu masih sangat jelas tempat baru inipun tak mampu menghapusmu.

Aku tetap berpura pura menunjukan kalau aku mencintai pacar baruku yang sekarang adalah suamiku, meskipun hati kecilku selalu bertolak belakang dengan mauku.

Itu semua tidak penting aku hanya ingin hidup dan punya keluarga kecil, tetapi ternyata tak semuda inginku, hari hari terasa sangat berat aku terus memanipulasi perasaan karena aku tak ingin ada yang terluka, biar aku saja yang menanggung luka ini karena aku tahu aku yang memulainya.

Aku terus memaksakan diri menjadi harmonis meski hati kecilku terus memberontak.

Tiga tahun sudah aku di kota ini, kami dikaruniai seorang bayi laki laki yang sangat lucu dan menggemaskan, aku sangat senang dengan kehadirannya setidaknya aku bisa melupakan kesedihanku.

Tetapi ternyata tidak. Masalah lain mulai muncul, suamiku yang aku rasa selama ini mencintaiku kini mulai berubah terhadapku, belum lagi keluarganya yang terlalu banyak menuntut membuatku hampir mati.

Sampai suatu hari kecurigaanku terbukti, sengaja aku pulang siang dari kantorku, ya.. maklum biasanya aku pulang jam 20:00 itupun sudah termasuk cepat.

Aku sengaja lewat di kos kosan dekat kantornya, di depan kos itu aku berhenti sejenak karena memang aku sudah mendapat informasi dari teman temanku tentang suamiku.

Aku tertegun melihat sepatu suamiku didepan kamar teman kantor wanita itu, sengaja aku mampir di kantin samping kos, memesan segelas kopi biar menetralkan otakku yang lagi kacau, tapi sebenarnya bukan itu maksut ku, aku hanya tidak mau suntuk menunggu terlalu lama.

Sejam kemudian kamar itu terbuka, aku melihat baju suamiku sangat kusut, rambut berantakan, yang membuatku tidak enak saat wanita itu mengecup pipi suamiku, serasa mimpi tapi tidak. Aku berusah tenang.

Sesaat kemudian aku menyapa suamiku ” hay Pi dari mana kamu kusut begini?” Suamiku langsung balik bertanya “Ami suda lama disini?” Aku berusaha untuk terus bersikap manis, “tidak Pi aku baru saja sampai,” gumam ku.

Aku melihat raut wajah ketakutannya mulai berkurang, dia menemaniku menghabiskan kopi itu tanpa rasa bersalah, dalam hati aku berkata “Loh kira gue bego bego amat gue da tau dari tadi kali da mau sejam lebih gue tungguin”.

Tapi aku merasa tidak terlalu sakit hati padanya karena memang saya tidak mencintai dia, tetapi yang aku sesalkan kenapa dari dulu dia tidak melakukan ini? Kenapa sekarang saat saya suda berusaha menerima takdir ini, dan kita sudah menikah dan punya anak.

Aku mengakhiri pertemuan kami karena aku segera balik ke kantor, aku hanya menitip pesan padanya “Pi nanti malam aku mau bicara” diapun menyetujuinya.

Hari ini aku pulang kantor sekitar jam 19:00 aku melihat ibu mertuaku di kamarnya sambil menggendong anakku. Aku menghampiri ibu mertuaku dan menggendong anak ku. Aku dan anakku menunggu suamiku di kamar kami, sejam kemudian suamiku baru pulang, aku biarkan dia mengganti baju kantornya, dia mengajakku makan malam tapi aku menolaknya.

Setelah makan malam dia menghampiriku, dan aku bertanya ” bagaimana bisa kamu berada di kos wanita itu? Dia menjawab dengan sedikit gugup, “Tadi kita masi buat laporan kan sebentar lagi mau akhir bulan”.

Aku sudah tidak kuat lagi menahan emosi “kamu pikir saya ini bodoh? Saya juga bekerja sama seperti kalian, tidak ada aturannya buat laporan keuangan di kos, masak data bank di bawa ke kos kan aneh”

Dia mulai panik, langsung keluar kamar membangunkan ibu mertuaku, sesaat kemudian ibu mertuaku mulai memarahiku karena menuduh anaknya berselingkuh, jelas jelas saya tidak menuduh saya hanya bertanya, salahkah saya bertanya tentang suami saya,??

Mulai hari itu aku makin muak dengan semua orang di rumah itu yang terus memojokanku.

Aku buang jauh jauh harapanku akan hidup selamanya dengan suamiku, meskipun aku sudah memiliki buah hati tetapi aku tidak peduli, rasaku telah habis untuknya.

Aku tidak menginginkan dia lagi meskipun dia masih berstatus suamiku tak pernah aku anggap lagi.

Karya: KYI

Artikel ini telah dibaca 247 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya