Bahasa Dan Sastra

Minggu, 30 Juni 2019 - 08:35 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Surat Cinta Yohana

Di malam ini, antara diam dan sepi,aku mencoba menulis dengan menghitamkan lembaran putih ini,mencoba untuk memulihkan ingatan lewat rangkai kata yang ku kirimkan untukmu.

Di bawah remang-remang rembulan depan beranda rumah, ku tegukan secangkir kopi dari gelas milik suamiku, yang disugukan mama mantu beberapa saat tadi.

Bukan maksudku untuk mengusik kebahagiaanmu, tapi aku hanya bersikap jujur dengan hatiku,kalau dikau masih kusanjung dalam ingtanku,Mungkin karena begitu lamanya masa lalu bersamamu dan begitu jauhnya ku gapai cintamu.Tapi ku berharap ketika kau membaca suratku ini,kau temukan kedamaian dan kesejukan serta jawaban,Mengapa ku harus meninggalkanmu waktu itu ?

Jangan tanyakan kenapa status kita menjadi mantan yang jika bertemu memiliki tatapan yang menggambarkan 1000 kenangan bersama,tapi tanpa sapa,sepi.Hai,engkau mustahil kulupakan,karena engkaulah ingatanku ,dengan seketika itu perasaan yang hilang ,Kini muncul kembali mengambang
Di tengah peraduan dan pikirankupun mengambang.

Wahai engkau, sesekali duduklah berdua dengaku sambil minum kopi tanpa gula di Pendopo rumah Pak Lukman, yang kita jadikan persinggahan hati untuk berbagi cerita, biar rasanya seperti kenangan yang dulu saat pernah bersama. Aku tak bisa berkata-kata dalam dukaku,hanyalah air mata yang menetes membasahi terus, hati yang kering ini.Bagaimana tidak ? Aku menangis, sudah tak bisa dihitung lagi purnama berganti dan kita belum bersua muka.

Sejujurnya saya tak pernah lupakan semuanya itu, ijinkan saat ini aku hadir menemani mimpimu lewat ruang rindu untuk nantinya kita bertemu,meskipun itu berat,karena tentang kita hanyalah masa lalu. Egios rasanya jika harus kukatakan Dirimu berdosa, karena kamu telah memberikan cinta dan hidupmu ke orang lain yang sebenarnya bukan milikmu. Jangan paksakan memorimu untuk lupakan itu. Itu adalah nostalgia bukan tragedi,Tak ada yang harus dustakan , karena cinta itu tentang kejujuran dan tentang ketulusan untuk menerima setiap kenangan menjadi pelajaran.

Rasanya mataku tak pernah letih malam ini,untuk mengajakku ke ranjang, akan kucoba terus menerus penaku bermain, mearangkaikan kata rindu untukmu meski harus itu berat.

Aku bahagia, dari kemarin saat kau berpamit pergi dari kerisauan hati yang terus mengelu dan menyesal akan perpisahan yang telah terjadi.

Dahaga rasanya aku haus akan rindu yang pernah dimiliki , tentang Gereja Tua yang menjadi lagu bersama.

Handpone ku tak lagi bergetar , ada pesan darimu dan tak lagi berdering ada Call darimu,karena kini telah berubah getaran dan deringan itu sudah menjadi milik orang lain.

Maaf yach aku hampir lupa, Bayiku sudah menangis, aku harus gantikan susu dalam dotnya, lagian ini malam sudah larut,tak puaslah rasanya kalau ku curahkan semua kata dan bahasaku dalam lembaran ini,akan kusisahkan sebagiannya biar ku ucapkan saat kita bertemu nanti. Kaulah Mentari yang selalu menyisahkan sendu,Kaulah nama dari rindu yang tak pernah pudar. (YM)

Artikel ini telah dibaca 185 kali

Baca Lainnya