Bahasa Dan Sastra

Minggu, 4 Agustus 2019 - 12:06 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

TAKDIR [Kumpulan Puisi KYI]

Takdir

Di sini aku sendri di kota ini Aku merasa asing di sini.
Tak ada lagi kamu yang menjadi alasanku mengejar mimpi kita.

Aroma tubuhmu perlahan hilang terbawah angin.
Tak ada lagi yang memberiku kecupan manis saat menyambut mentari. Semua hilang tanpa memberiku isyarat.

Aku terbangun, terdiam merenung. Sulit, bingung semua bercampur jadi satu. Hampa….

Sumpah serapah mulai keluar dari mulutku Mengutuk takdir yang begitu kejam hempaskan kita.

Semua hari adalah keterpaksaan Setiap yang aku lakukan adalah kepalsuan. Aku tak lagi bisa menjadi diriku.

Aku berjuang setiap waktu memodifikasi setiap perasaan sakit menjadi tawa Setiap kata tidak menjadi iya. Berperang melawan nurani yang terus membrontak.

Memaksaku untuk pergi Tapi aku telah terperangkap oleh takdir yang mematikan ini.

Mbolata

Masih teringat jelas olehku lima tahun yang lalu Kau duduk di kursi di pojok ruangan itu.

Tanpa ragu tanganku menjabat jemari tanganmu. Dengan sedikit senyum yang aku buat agak genit Itulah awal pertemuan kita.

Masih teringat jelas olehku saat kita menikmati sunset Di pantai Mbolata.

Gemuruh ombak, degup jantungku Bercampur jadi satu bergelorah mengusik sukma.

Tapi semua itu hanya cerita kita di hari kamarin.

Lihat aku, Lihat diri kita.

Kita bukan lagi dahulu yang selalu tertawa.

Lihat nestapah ini.

Menyelimuti kita seakan menetap dan telah menyatu Kita tak punya pilihan untuk ini.

Kita dangan takdir kita.

Takdir yang tak pernah kita inginkan.

Kita hanya butuh keberanian.

Untuk kembali ke masa lalu kita.

Dosa

Berdosakah aku jika aku diam diam jatuh cinta padamu? Berdosakah aku bilah aku terus merindumu.. Berdosakah aku bila aku akui ini didepanmu..

Tidak.. tidak.. aku terlalu naif jika hanya bersembunyi Meski ku tau siapa dirimu

Aku mulai egois.

Bodoh amat dengan status anda.

Meski bertentangan dengan pikiranku.

Tapi sungguh tak bisa aku hentikan rasa ini.

Aku terlalu mencintaimu.

Pesonahmu mulai merusak nuraniku.

Pikiranku menjadi sangat rumit olehmu.

Mengapa tak ku temukan saat dirimu dan diriku masih sendiri Semuanya serasa tak adil buat kita.

Hasratku semakin tak bisa terbendung.

Saat aku tau dirimu dan diriku memiliki rasa yang sama Meski kita tau kita tak mungkin pernah satu.

Kita hanya terbelenggu dalam dosa yang kita sadari.

1

Artikel ini telah dibaca 205 kali

Baca Lainnya
x