Bahasa Dan Sastra

Kamis, 8 Agustus 2019 - 20:12 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

Yang diDEWAKAN SEBAGAI SANG MAHA

Kumpulan Puisi Bibiana Monika Bumi

TAKDIR
Harusnya petak petak narasi ini
Mampu mengurai kiasan hidup
Bukannya merengkuh penggalan
Paragraph paragraph terbengkelai
Yang berserakan di dinding ilusi

Tak perlu bertanya mengapa
Karena jawab hanyalah sebuah jedah
Dari ritme pergolakkan jati diri
Tentang sebuah takdir

Lantas kemanakah alunan kecapi
Atau pintalan airmata itu
Apakah telah sampai di sudut bayangMU
Yang diDEWAKAN SEBAGAI SANG MAHA

Ayat ayat suci Klerus tua
Menukik menitip asa
Terdengar mirip rintihan AYUB
Yang lelah dalam keperihan

DiribaanMU banyak Tanya
Bahkan musafirpun mengais prinsip
Direruntuhan nirwana kelabu
Dan aku…?
Ah…letih ini tiada jawab
Tapakku terus tertatih maju
Karena hidup tak pernah menunggu

                        Kembur,1/09/2019

 MAGNIFICIAT

Dear rasa…
Rasa yang pernah meraja pongah
Titahmu magis berbisa
Akupun tak mampu berdaulat
Bahkan di alam hayalku

Dear waktu…
Kamu nakal
Untuk beberapa saat
Atau bukan..
Mungkin sajadahku telah berkiblat
Menembus langit

Dear hati…
Kamu hebat,..
Ah..pada akhirnya hukuman mati itu tiba
Tidak ada pleidoi untuk seorang pecundang
Halleluya hallelluya hallelluya
Setidaknya autumku telah berhenti

Kembur 5/8/2019

Bibiana Monika Bumi S.Pd. Staf guru d SMAN 2 Borong

42

Artikel ini telah dibaca 225 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya