Yohanes Berchmans R. Kardoso,S.H (Foto: Istimewa)

FLORESEDITORIAL, ENDE – Yohanes Berchmans R. Kardoso. Pria kelahiran Debos, 04 April 1984 ini adalah sosok yang sepenuhnya telah mengabdikan diri untuk masyarakat NTT khususnya masyarakat kabupaten Ende.

Rekam jejak sosok yang dikenal sederhana dan selalu siap melayani masyarakat melalui profesinya sebagai seorang Advokat itu berhasil diwawancarai oleh media Floreseditorial.com pada Rabu, 7/11/2018 dikediamnya di Jalan Nangka, kota Ende.

Kardoso, menempuh pendidikan dasar di SDK Debos Timor Leste dan melanjutkan pendidikan tingkat SMP di SMP Katolik Hati Suci Maria Atambua, Belu dan pendidikan menengah atasnya ia tempuh di SMA Katolik Surya Belu.

Tak ingin tinggalkan kampung halaman, Ia Kemudian melanjutkan pendidikan tingginya di perguruan tinggi dan memilih Universitas Flores Fakultas Hukum.

“Karena saya merasa terpanggil untuk kembali ke daerah asal orang tuan saya di Aimere, Kabupaten Ngada,” ungkapnya.

Saat menjadi mahasiswa Kardoso dikenal sangat aktif di Kampus tempatnya menempuh pendidikan. Ia terlibat aktif dalam sejumlah organisasi lokal maupun organisasi organisasi nasional. Hingga menjadikan Kardoso sebagai sekretaris jenderal (Sekjen) PMKRI cabang St. Yohanes Don Bosco, Ende.

Tidak berhenti disitu saja, talenta kepemimpinannya juga terus ia kembangkan dalam sejumlah organisasi lainnya dan menghantarnya menjadi ketua senat Universitas Flores.

Perjalanan hidup Kardoso tidaklah mudah. Usai menyelesaikan pendidikan di Universitas Flores, Kardoso pun merasakan susahnya hidup. Ia pernah menjadi seorang Penjual Es keliling.

Menyandang gelar sarjana hukum tak membuatnya malu menjadi seorang penjual Es.

Tak hanya sampai disitu, berkat ketekunannya dalam bekerja, Kordoso pun dilirik pihak management salah satu perusahaan nasional untuk bekerja di bidang pemasaran.

“Karier saya cukup baik disitu, namun semuanya itu tidak membuat saya puas, saya ingin bekerja langsung untuk masyarakat. Dorongan inilah yang membuat saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan profesi advokat,” tandasnya.

Selama tiga bulan ia dilatih sebagai seorang advokat di pengadilan negri Jakarta, Kardoso pun dinyatakan lolos pendidikan profesi Advokat.

Dalam profesinya menjadi seorang advokat, sering ia membantu masyarakat tanpa imbalan.

“Karena saya menyadari bahwa saya hidup dan dibesarkan dari keluarga yang susah,” jelasnya.

Terjun Ke Politik

Menjadi seorang advokat, tidak cukup baginya untuk membantu masyarakat secara total.

“Hal inilah yang membuat saya memilih untuk bergabung di dunia politik,” ungkapnya.

Politik, kata Kardoso, adalah panggilan hidup untuk membantu rakyat secara keseluruhan.

Ia berujar bahwa banyak wakil rakyat yang sudah duduk di gedung DPRD yang belum sepenuhnya menyadari bahwa kepercayaan rakyat adalah panggilan dan amanah.

“Bahkan ada juga anggota wakil rakyat yang justru merampas hak rakyat uuntuk kepentingan pribadi,” ungkap Kardoso.

Pria berusia 34 tahun itu mengatakan bahwa kesederhanaan akan menghantar hidup kita untuk menjadi pelayan yang baik bagi masyarakat.

“Memihak sepenuhnya pada pada kepentingan Rakyat, adalah alasan utama saya terjun ke Politik, Hidup adalah pengabdian untuk rakyat” tukasnya.

Laporan: Nikolaus Tari.

Komentar Anda?

Komentar Anda?