BI: Uang Beredar Naik 13,6 Persen, Ditopang Akselerasi Kredit

- Jumat, 27 Mei 2022 | 14:19 WIB
Ilustrasi: Tumpukan aung kertas rupiah di tempat penukaran valuta asing di Jakarta. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ss/mes/aa.
Ilustrasi: Tumpukan aung kertas rupiah di tempat penukaran valuta asing di Jakarta. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ss/mes/aa.

Floreseditorial.com - Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada April 2022 tumbuh 13,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy), ditopang berlanjutnya akselerasi penyaluran kredit.

"Posisi M2 pada April 2022 tercatat sebesar Rp7.911,3 triliun atau tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret 2022 yang tercatat sebesar 13,3 persen (yoy)," ungkap Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.

Erwin menjelaskan perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 20,8 persen (yoy) dan surat berharga selain saham sebesar 59,3 persen (yoy).

Baca Juga: Rupiah Dibuka Menguat Usai BI Tahan Suku Bunga Acuan

Peningkatan pertumbuhan M2 pada April 2022 terutama dipengaruhi oleh berlanjutnya akselerasi penyaluran kredit, yang pada April 2022 tumbuh 8,8 persen (yoy) atau meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,4 persen (yoy).

Akselerasi pertumbuhan kredit bersumber baik dari golongan debitur korporasi maupun perorangan.

Berdasarkan jenis penggunaan, ia menuturkan peningkatan penyaluran kredit pada April 2022 juga terjadi pada seluruh jenis penggunaan.

Sementara itu ekspansi keuangan pemerintah melambat, yang tercermin dari pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat sebesar 22,3 persen (yoy) atau lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan Maret 2022 sebesar 27,9 persen (yoy).

Baca Juga: Pertamina Pastikan Distribusi BBM-Elpiji Tidak Terdampak Banjir Rob

Kondisi tersebut disebabkan oleh perlambatan tagihan sistem moneter kepada pemerintah pusat berupa kepemilikan surat berharga negara serta naiknya kewajiban berupa simpanan pemerintah pusat pada sistem moneter.

Di sisi lain, Erwin menyebutkan aktiva luar negeri bersih terkontraksi 4,4 persen (yoy), yang merupakan kontraksi lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya yang turun 1,5 persen (yoy).

Editor: FEC Media

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Mengendalikan Inflasi Dari Lahan Bekas Tambang Di Babel

Senin, 19 September 2022 | 14:23 WIB

Ini Daftar Tarif Baru Angkot di Kota Kupang

Minggu, 11 September 2022 | 15:38 WIB

Pemerintah Canangkan Pembangunan Paket CP 202 MRT Jakarta

Minggu, 11 September 2022 | 07:00 WIB
X