Harga Minyak Naik Tipis, Menuju Kenaikan Mingguan Di Tengah Isu Resesi

- Jumat, 12 Agustus 2022 | 15:57 WIB
Ladang minyak Equinor
Ladang minyak Equinor

 

Floreseditorial.com - Harga minyak naik tipis di perdagangan Asia pada Jumat sore, dengan kontrak acuan menuju kenaikan mingguan karena kekhawatiran resesi mereda, meskipun prospek permintaan yang tidak pasti membatasi kenaikan.

Harga minyak mentah berjangka Brent terangkat 23 sen atau 0,2 persen, menjadi diperdagangkan di 99,83 dolar AS per barel pada pukul 07.36 GMT. Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3 sen, menjadi diperdagangkan di 94,37 dolar AS per barel.

Brent berada di jalur untuk kenaikan lebih dari 3,0 persen pada minggu ini, menutup sebagian dari penurunan 14 persen minggu lalu, penurunan mingguan terbesar sejak April 2020 di tengah kekhawatiran bahwa kenaikan inflasi dan kenaikan suku bunga akan memukul pertumbuhan ekonomi dan permintaan bahan bakar.

Baca Juga: Mendag Musnahkan Pakaian Bekas Impor Senilai Rp9 Miliar

Ketidakpastian membatasi kenaikan harga minyak karena pasar menyerap pandangan permintaan yang kontras dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Badan Energi Internasional (IEA).

"Sementara narasi inflasi yang memuncak telah memberikan beberapa daya tarik untuk aset berisiko akhir-akhir ini, pergerakan harga minyak yang lebih terukur sejak Juni menunjukkan bahwa beberapa tekanan tetap ada mengingat prospek permintaan yang suram," kata Yeap Jun Rong, Ahli Strategi Pasar di IG.

Trade-off untuk pertumbuhan dapat terus membatasi kenaikan harga minyak, dengan resistensi psikologis utama untuk Brent di level 100 dolar AS per barel, Yeap menambahkan.

Baca Juga: Tuntaskan Pasokan BBM Guna Optimalkan Pemulihan Sektor Perikanan

Pada Kamis (11/8/2022), OPEC memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia pada tahun 2022 sebesar 260.000 barel per hari (bph). Sekarang memperkirakan permintaan meningkat sebesar 3,1 juta barel per hari tahun ini.

Itu bertentangan dengan pandangan dari IEA, yang menaikkan perkiraannya untuk pertumbuhan permintaan menjadi 2,1 juta barel per hari, karena peralihan gas-ke-minyak dalam pembangkit listrik sebagai akibat dari melonjaknya harga gas.

"Ada banyak ketidakpastian tentang permintaan dalam jangka pendek. Sampai itu selesai, (pasar) akan seperti ini untuk sementara waktu," kata Justin Smirk, Ekonom Senior di Westpac.

Baca Juga: BNI Usung Program Orange Synergy Dalam Kolaborasi Dengan Bank Sumut

Pada saat yang sama, IEA menaikkan prospek pasokan minyak Rusia sebesar 500.000 barel per hari untuk paruh kedua 2022, tetapi mengatakan OPEC akan berjuang untuk meningkatkan produksi.

"Gambaran bersih yang dilukis IEA adalah beragam," kata analis Commonwealth Bank Vivek Dhar. "Pasokan Rusia lebih tangguh dari yang diperkirakan."

"Menilai keseimbangan minyak global pada akhir tahun sekarang, mengingat apa yang terjadi di sisi permintaan versus apa yang terjadi di sisi pasokan - itu hanya rumit. Itu sebabnya Anda memiliki volatilitas harian."

Editor: Maria H.R Waju

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jalan Panjang Menuju Bebas Defisit Pangan

Selasa, 27 September 2022 | 13:25 WIB

Mengendalikan Inflasi Dari Lahan Bekas Tambang Di Babel

Senin, 19 September 2022 | 14:23 WIB
X