Ekososbud

Kamis, 6 Juni 2019 - 20:01 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Telur Ayam (Pixabay)

Telur Ayam (Pixabay)

Di Borong, Harga Telur Tembus Rp 2.500 Per-Butir

Floreseditorial.com, Borong – Pasca Ramadan, harga telur ayam ras di Borong, kabupaten Manggarai Timur terus merangkak naik.

Kondisi ini sangat menyulitkan masyarakat Kabupaten tersebut, apalagi disaat bersamaan, harga ikan di kabupaten tersebut juga ikut merangkak naik dikarenakan kurangnya tangkapan nelayan yang urung melaut karena cuaca buruk.

Penelusuran media ini pada Kamis (06/06) harga terlur ayam ras di pasar rakyat Borong naik hingga Rp. 2500 per butirnya.

Hardy (37), salah seorang pedagang di pasar rakyat Borong menjelaskan bahwa kenaikan harga telur ini sudah berlangsung sejak bulan puasa silam

Loading...

Para pedagang mengaku terpaksa membandrol harga ecer telur cukup tinggi karena harga ditingkat grosir yang memang ikut naik.

“Ini sudah sejak bulan puasa pak, kita dapatnya juga mahal, terpaksa dijual dengan harga tinggi,” kata Hardy, Kamis (06/06).

Kenaikan harga terlur ini mulai dikeluhkan warga, salah satunya Yanti (27), seorang pengusaha roti di Borong.

Kenaikan harga telur ayam ras ini membuat dirinya harus berpikir dua kali untuk melanjutkan usahanya.

“Kalau telur ayam sebagai bahan pokok pembuatan roti sudah naik seperti ini, kita tak dapat untung pak, belum minyak, listrik dan bahan pokok lain,” katanya kepada wartawan florededitorial.com.

Kenaikan Tidak Terjadi Ditingkat Grosir

Kenaikan harga telur yang semakin menyulitkan masyarakat ini nyatanya tidak terjadi di tingkat grosir.

Salah seorang pengusaha telur ayam di kota Borong yang enggan namanya di mediakan kepada floreseditorial.com menjelaskan bahwa di tingkat grosir, harga telur ayam masih terbilang wajar.

“Cuma Rp 260.000 per 10 ikat pak, itu harga partai, artinya cuma 26 ribu satu papan,” jelasnya.

Biasanya, katanya lebih lanjut, ada selisih sebesar tiga sampai lima ribu rupiah saat sampai ditingkat penjual yang ingin menggrosir kembali, hingga harga mencapai Rp 31 ribu rupiah per papannya.

“Dan itu masih wajar, tetapi kalau ditingkatkan pengecer harganya sampai dua ribu lima ratus rupiah per-butir, sepertinya ada yang tidak beres,” tukasnya.

Laporan: Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 355 kali

Baca Lainnya