Ekososbud

Kamis, 11 Juli 2019 - 21:13 WIB

6 hari yang lalu

logo

Kursi dari ayah untuk Arsen (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

Kursi dari ayah untuk Arsen (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

Kisah Arsen dan Karung Goni: Potret Ketidakberpihakan Negara Pada kaum Disabilitas

Floreseditorial.com – Labuan Bajo, Satu lagi kisah pilu menyayat hati datang dari kota Pariwisata, Manggarai Barat.

Kota pariwisata terkenal dengan komodo yang kemarin dan hari ini dihebohkan dengan kunjungan sang tuan RI 1 itu. Namun di sudut kabupaten lainnya di kecamatan welak, kampung benteng, desa Semang mengisahkan cerita pilu satu keluarga yang terabaikan oleh negara.

Bertolomeus Mere nama kepala keluarga yang gigih dan berjuang keras untuk terus melalui kerasnya badai yang menghantam rumah tangganya.

Berto, hari harinya bekerja sebagai buruh penjaga penggilingan padi. Penghasilan yang tidak menentu tidak menyurutkan perjuangan Berto melawan arus kehidupan.

Loading...

Dalam keterbatasan, Berto harus mampu memikul beban yang sangat berat. Tiga tahun lalu, dia harus rela kehilngan istri tercinta bersama putra kedua mereka saat proses melahirkan.

Aresen (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

Hari-hari bahagia bersama keluarga kecilnya kini hanya tinggal kenangan semata. Berto iklas melepaskan semuanya. Ia menyadari, Tuhan lebih mencintai kedua orang tercintanya, dan dia percaya jika mereka telah bahagia di Surga.

Pilu itu tidak berakhir disaat sang istri bersama putra kedua pergi untuk selamanya. Kini berto harus berjuang lebih keras lagi untuk menjadi Ayah sekaligus ibu bagi putra sulungnya, Arsenius Goo.

Arsen, biasa dipanggil sang ayah untuk putra tunggalnya. Dalam gubuk sederhana mereka menata hari hari penuh harap hanya berdua.

Arsen tidak seperti kebanyak anak lainya. Bisa bermain, bisa sekolah, bisa bantu orang tua. Arsen memang diciptakan menurut rupa Tuhan dalam kekurangan. Arsen yang telah ditinggal Sang mama adalah satu dari sekian banyak anak anak yang memiliki kelainan fisik. Dia tidak pernah bisa duduk apalgi berdiri.

Tubuhnya yang kaku, melemas hanya mampu bersanding dengan tikar. Dia tak selayaknya anak usia 11 tahun yang selalu riang bermain. Arsen hanya bermain dengan kahayalan indah, khyalan jika kelak suatu saat ada tangan ajaib meraba dan merubah nasibnya.

Sayang beribu sayang, sebelas tahun berlalu, yang dikhayal belum juga tiba. Hingga suatu ketika, sang ayah berjuang alakadarnya untuk wujudkan khyalan putra tersayangnya.

Dengan alat seadanya, sang ayah membuatkan kursi khusus untuk arsen. Kursi kayu dan dari karung goni bekas sebagai alasnya.

Kini, Arsen sedikit bahagia karena bisa duduk di kursi beralaskan karung goni buatan ayahnya.

Laporan : Edison Risal

Artikel ini telah dibaca 1136 kali

Baca Lainnya