Ekososbud

Sabtu, 8 Juni 2019 - 21:42 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Peletakan tiang 
utama rumah adat (Siri Bongkok) diibaratkan sebagai seorang gadis cantik yang datang setelah di jemput dari gunung (Foto: TeamYPF/Adrian Juru)

Peletakan tiang utama rumah adat (Siri Bongkok) diibaratkan sebagai seorang gadis cantik yang datang setelah di jemput dari gunung (Foto: TeamYPF/Adrian Juru)

Roko Molas Poco, Ritus Budaya Manggarai di Rahong Utara

Floreseditorial.com, Ruteng – Salah satu tradisi yang berkembang dalam kebudayaan Manggarai, Flores, NTT adalah roko molas poco.

Roko molas poco merupakan ritus memikul (roko) tiang utama (siri bongkok) yang disimbolkan sebagai gadis cantik (molas) yang datang dari gunung (poco) lalu dijemput di gerbang kampung (pa’ang) untuk selanjutnya diarak masuk ke lokasi pembangunan rumah adat (gendang).

Yang menarik di sini adalah bagaimana masyarakat Rembong mengidentifikasi tiang utama rumah adat sebagai seorang gadis cantik yang datang dari gunung.

Gunung selalu dihubungkan dengan kesejukan, keindahan, keharmonisan, dan kerjasama. Kayu itu mendapat perlakuan istimewa. Tanpa kayu ini, maka rumah adat tidak akan berdiri kokoh.

Demikian pula yang dilakukan oleh masyarakat Gendang Adat Rembong, kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, pada sabtu 8/06/2019.

Loading...

Ketua panitia Gendang Adat Rembong Maksimus Garus kepada floreseditorial.com menjelaskan bahwa upacara adat Roko Molas Poco yang dilakukan oleh masyarakat Gendang Rembong Rahong itu diawali dengan acara teing hang atau pemberian sesajian di altar sesajian (compang) yang dipimpin oleh tu’a golo.

“Setelah upacara teing hang (Memberi sesajian kepada arwah nenek moyang) usai upacara, barulah kelompok Roko Molas Poco berangkat ke hutan (puar) dengan membawa manuk (ayam), Tuak (Arak) , cola (kapak), kope (parang), serta alat-alat lain yang dibutuhkan saat upacara tersebut berlangsung,” ujarnya menjelaskan.

Setiba di hutan, jelas Maksimus Garus, kelompok Roko Molas Poco beserta tu’a golo duduk menghadap pohon yang akan dijadikan sebagai Molas Poco atau Siri Bongkok.

“Kemudian tu’a golo, menyampaikan permohonan atau kepok atau torok tae (bahasa kiasan Manggarai) kepada arwah-arwah nenek moyang. Setelah torok tae tersebut selesai barulah kayu-kayu dipotong dan Molas Poco tersebut diusung ke kampung oleh kelompok Roko,” jelasnya.

Sesampainya di dekat kampung (Pa’ang beo) kelompok Roko Molas Poco tersebut dijemput (sundung/curu) oleh kelompok penjemput dengan diiringi tarian-tarian dan dilanjutkan torok atau kepok sundung atau curu.

Maksimus Garus juga menyampaikan terimakasih kepada Kementrian pendidikan dan kebudayaan yang melalui Direktorat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa telah membantu dan mendorong programnya sampai di kampung Rembong.

“Kami bersyukur dan terimakasih kepada Direktorat Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa Mendikbud yang telah mengakomordir proposal kami sehingga sampai hari ini kami bisa melakukan ritual Roko Molas Poco dan Derek Bongkok”, katanya.

Atas nama masyarakat, ia juga menyampaikan terimakasih kepada pemerintah dan DPRD Kabupaten Manggarai atas segala dukungan yang telah diberikan sehingga ritual adat roko molas poco dan Derek Bongkok gendang adat Rembong bisa terlaksana.

“Secara khusus kepada bapak Edelbertus H.R.Ganggut yang telah membantu kami panitia dalam kegiatan Work Shop (pelatihan khusus) kemarin di Mendikbud Jakarta” tandas Maksimus.

Sementara Wakil ketua komisi C DPRD kabupaten Manggarai Edelbertus H.R.Gangut mengatakan bahwa usulan tersebut bisa disampaikan ke Kemendikbud atas dorongan Pemerintah daerah kabupaten Manggarai.

“Sehingga Kemendikbud mengakomordir sembilan proposal rumah adat dan satu Sanggar tari dengan dana 350 juta di Tahun Anggaran 2019 ini, salah satunya untuk Gendang Adat Rembong”, jelasnya.

Pantauan media, acara tersebut dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi C DPRD Kab.Manggarai Edelbertus H. R. Ganggut, Anggota DPRD PKB Florianus Kampur, Camat Rahong Utara Geradus Tanggung, Bhabinkatibmas Kornelis Jemarus dan kepala desa Se-kecamatan rahong uatara.

Laporan :Adrian Juru.

Artikel ini telah dibaca 518 kali

Baca Lainnya