Ekososbud

Minggu, 10 Maret 2019 - 15:49 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Sanggar Budaya Manggarai-Makassar mempersembahkan tarian Woja Leros saat event pembukan Turnament bola kaki Manggarai Timur Cup (Foto: TeamYPF/FN)

Sanggar Budaya Manggarai-Makassar mempersembahkan tarian Woja Leros saat event pembukan Turnament bola kaki Manggarai Timur Cup (Foto: TeamYPF/FN)

Tarian Woja Leros Dipentaskan Saat Pembukaan Turnamen Manggarai Timur Cup di Makassar

Floreseditorial.com, Makassar- Sanggar Budaya Manggarai (SBM)-Makassar mempersembahkan tarian Woja Leros saat event pembukan Turnament bola kaki Manggarai Timur Cup di Makassar, 10/3/19.

Turnamen ini dibuka secara resmi oleh bapak Bupati Manggarai Timur, Agas Andres SH, M.,Hum.

Dalam acara pembukaan Manggarai Timur Cup ini, tampak seluruh hadirin bertepuk tangan meriah saat menyaksikan tarian Woja Leros dari kelompok Sanggar Budaya Manggarai-Makassar, Sulawesi Selatan.

Sebagai warisan adat tanah congkasae, SBM ini pun berani menampilkan kebolehan mereka dalam acara pembukaan Manggarai Timur Cup ini.

Salah seorang pelatih tarian adat Manggarai, Petrus Gauk mengungkapkan makna tarian Woja Leros.

Loading...

Petrus memaparkan, bahwa tarian Woja Leros merupakan suatu tarian kreasi daerah Manggarai tentang cerita rakyat.

Pada intinya, Petrus mengatakan bahwa tarian tersebut mau menjelaskan suatu proses menanam padi sampai panen.

Gauk menambahkan, tarian ini juga ingin menceritakan suatu kebiasan masyarakat Manggarai. Bagi orang Manggarai, padi merupakan salah satu makanan pokok.

Sementara itu, lengokan badan para penari dengan menggunakan peralatan lokal Manggarai seperti Keranjang (Roto) sebetulnya menjelaskan tentang banyak hal.

“Roto yang artinya keranjang memiliki makna tertentu. Roto ini sebetulnya sebuah wadah untuk menyimpan semua hasil panen masyarakat Manggarai,” papar Gaguk kepada media ini.

Tidak hanya itu, lenggokan badan yang membentuk beragam formasi sebetulnya menjelaskan tentang sikap dasariah orang Manggarai terkait budaya gotong royong.

Budaya gotong royong atau dalam term Manggarai ‘dodo’ merupakan suatu kesatuan tentang nilai kebersamaan orang Manggarai dalam menyelesaikan suatu pekerjaan, dalam konteks ini proses panen padi tersebut.

“Secara parsial, dalam ragam tarian tersebut terkandung juga suatu makna tentang nilai religius. Artinya, dalam mensyukuri hasil panen, orang Manggarai tidak pernah lupa mengucap syukur kepada Tuhan Semesta Alam.

Dalam kesempatan yang sama, ketua umum sanggar Budaya Manggarai,
Fransiskus Jebaru, S.Pd menambahkan, bahwa tarian tersebut tidak terlepas dari kearifan lokal adat masyarakat Manggarai dalam proses menanam padi yang diwariskan secara turun-temurun.

Terkait hal itu, suatu kebanggan besar dari segenap Keluarga besar SBM-Makassar karena bisa menampilkan tarian adat Manggarai di tanah rantau. Bagi mereka, upaya tersebut merupakan sebuah tanggungjawab moral bagi generasi milenial.

Pada bagian penutup, saat diwawancarai oleh media ini, ketua umum SBM-Makasar mengucapkan banyak terimakasih.

“Kami berterimakasih kepada jajaran panitia yang telah memberi kesempatan kepada sanggar kami untuk menampilkan tarian tersebut dalam event besar ini”, tutup Fransiskus.

Laporan Kontributor Makasar: FN
Editor :Hardy Sungkang

Artikel ini telah dibaca 42 kali

Baca Lainnya