Cheap NFL Jerseys From China Wholesale Jerseys

Ende

Sabtu, 21 November 2020 - 02:27 WIB

1 minggu yang lalu

logo

Jhon Ire, salah satu Pemerhati Anak di Wilayah Kabupaten Ende. (Foto: Rian Laka)

Jhon Ire, salah satu Pemerhati Anak di Wilayah Kabupaten Ende. (Foto: Rian Laka)

Wale Pela Harus Dilihat Dalam Perspektif Anak

Ende, Floreseditorial.com – Dalam adat istiadat masyarakat Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) dikenal istilah wale pela, yakni hukuman berupa saksi atau denda adat yang dijatuhkan kepada seorang apabila terbukti melanggar norma kesusilaan. Namun, sanksi adat tersebut tidak serta merta menghilangkan sanksi pidana.

Pemerhati Anak, Jhon Ire, mengatakan, dalam konteks hukum adat, wale pela bisa dijalankan sesuai prosedur dan tuntutan budaya serya adat yang berlaku.

“Namun, wale pela tidak bisa membatalkan proses hukum pidana. Sebab, penerapan wale pela itu sendiri telah mengabaikan kepentingan anak,” tegas Jhon Ire, saat ditemui Floreseditorial.com, Kamis (19/11/2020).

Jhon mengatakan, untuk kepentingan anak dan kaum perempuan, hukum adat wale pela bisa dijalankan sesuai mekanisme adat.

“Tetapi setiap proses hukum karena kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, harus tetap diusut. Penyidikan harus tetap berjalan demi kepentingan anak dan perempuan,” ujarnya.

Menurutnya, wale pela harus dilihat dalam perspektif anak.

“Meski wale pela bisa diterima secara adat, tetapi hak anak untuk mendapatkan perhatian dan perlindungan hukum, itu lebih penting,” tegasnya.

Menurutnya, banyak kasus di mana anak dan perempuan selalu menjadi korban. Namun perimbangannya selalu berdasar pada relasi kepentingan orang dewasa.

“Dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak, sering terjadi, kepentingan orang dewasa yang mendominasi dan dianggap terbaik bagi anak, hingga anak dituntut mengikuti kepentingan orang tua. Namun, dampak traumatis anak akan terus terbawah sampai mati,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Peduli Kasih (LPK), Afra Babo Raki, mengakui bahwa saat ini kasus kekeraaan seksual terhadap anak di wilayah Kabupaten Ende sangat tinggi.

“Namun anehnya, dalam penanganannya, pihak keluarga sering meminta kasus seperti ini agar diselesaiakn secara adat yang dinamakan wale pela. Padahal, wale pela sebetulnya bukan maunya anak, melainkan maunya orang tua atau keluarga,” tutur Alfa.

Menurutnya, tidak heran jika pihak Kepolisian kemudian tak bisa berbuat banyak.

“Karena meskipun kekerasan seksual yang terjadi, menempatkan anak mereka sebagai korban, tetapi  keluarga akan meminta untuk diselesaikan secara adat,” jelasnya.

Menurutnya, cara pandang inilah yang harus diubah. Karena dalam konteks ini, orang tua lebih mementingkan diri dan bukan anak.

“Sementara hal ini, akan menjadi luka traumatis berkepanjangan pada anak yang sulit disembuhkan,” tukasnya. (ral)

Artikel ini telah dibaca 4255 kali

Baca Lainnya