Salib dan Misteri Cinta Allah

- Selasa, 14 Maret 2023 | 06:48 WIB
RP. Fidel Wotan, SMM (Istimewa)
RP. Fidel Wotan, SMM (Istimewa)

 

OPINI, Floreseditorial.com-SALIB DAN MISTERI CINTA ALLAH

(Refleksi Teologis atas ‘Salib’ Menurut St. Montfort)

Oleh: RP. Fidel Wotan, SMM

 

Di bawah terang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Santo Louis Marie Grignion de Montfort (1673-1716) mencoba menginterpretasi misteri penderitaan Kristus sebagai rencana Allah yang ingin mencintai dan merajut persahabatan-Nya dengan manusia. 

Dalam konteks ini, orang kudus Prancis ini ingin mengajak seluruh umat Kristiani agar mau dan berani menempuh “jalan salib” dengan penuh imana dan keberanian, tanpa merasa malu dan takut. Santo Montfort (selanjutnya Montfort), selain dikenal sebagai “teolog klasik” oleh Paus Yohanes Paulus II (1978-2005) dan misionaris Apostolik oleh Paus Klemens XI (1700-1721), dikenal secara luas sebagai pendiri dan “bapa rohani, pelindung” beberapa tarekat religius maupun persekutuan kaum awam lainnya. Salah satunya adalah persekutuan kaum awam yang tertarik oleh “cinta kepada salib”.

Baca Juga: Damai Paskah! dengan 15 Ucapan Salam dari Jauh untuk Keluarga, Teman dan Kerabat Disebrang Sana!

Berkenaan dengan ini, sang misionaris Apostolik mendesak setiap orang yang terbakar oleh cinta akan salib untuk mau meneladani Kristus dengan jalan memikul salib setiap hari dan mengikuti-Nya (bdk. Luk9:23).

Salib: Misteri Cinta dan Kebijaksanaan

Misteri Salib pertama-tama adalah misteri cinta, yang dilahirkan karena cinta. Bapa mencintai Putra dengan cinta yang tak terbatas di dalam penjelmaan-Nya dan Sabda yang tersalib: Inilah Anak yang Kukasihi .... (Mat 3:17). Putra yang menjelma dan tersalib mencintai Bapa-Nya dengan cinta yang sama sebagaimana Bapa mencintai-Nya sejak kekal (Yoh. 14:31). Bapa tidak dapat mencintai Putra-Nya tanpa mencintai Dia dalam keadaan bebas-Nya sebagai manusia yang menderita; Putra, dalam keadaan yang sama akan menerima dengan gembira cinta Bapa-Nya.

Begitu pula halnya dengan Roh Kudus merupakan cinta kasih timbal balik dari Allah Bapa dan Putra yang dapat diberikan juga kepada manusia. Untuk itulah Allah ingin memperlihatkan dan memberikan cinta-Nya kepada manusia. Di dalam cinta-Nya yang tak terbatas, Dia menjadi penyelamat dan pengantara kita kepada Bapa (BS 85, 87).

Dalam konteks ini, Montfort melihat “salib” sebagai jalan perwujudan cinta Allah bagi manusia. Dengan kata lain, orang kudus Prancis ini tidak melihat sarana lain yang lebih memungkinkan cinta-Nya itu terwujud dan hanya kepada saliblah Ia menjatuhkan pilihan-Nya. Montfort menulis: … Ia lebih suka memilih salib dan penderitaan untuk memberikan bukti cinta yang lebih besar kepada umat manusia (CKA 164; bdk. K 19; 25).

 

Halaman:

Editor: Vinsen Huler

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Rocky Gerung, Lulusan S1 yang Mengajar S2 dan S3

Sabtu, 25 Maret 2023 | 10:05 WIB
X