Bisnis Featured

Kamis, 21 Mei 2020 - 18:07 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Bidan Mira Oka, berjualan Rotiboy keliling kota dengan sepeda motor miliknya. (Foto: Martin Lusi)

Bidan Mira Oka, berjualan Rotiboy keliling kota dengan sepeda motor miliknya. (Foto: Martin Lusi)

Bidan Mira, Tergoda Aroma Roti Boy

Floreseditorial.com, Bajawa – Wanita berkulit kuning langsat, berambut lurus dan murah senyum itu sehari-hari berkeliling kota Bajawa. Menggunakan motor metik berwarna hitam, perempuan paruh baya ini menyusuri setiap lorong dan jalan protokol. Di atas sadel motor terdapat 3 rak kotak berisi roti yang siap Ia bagikan kepada para pelanggan. Itulah pekerjaan rutin yang Ia lakoni setiap hari. Para pelanggan sebagian tersebar di Langa dan kota Bajawa. Dia adalah Mira Oka, penjual roti yang juga berprofesi sebagai bidan berstatus tenaga honorer di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) kota Bajawa.

Ditemui floreseditorial.com, Kamis (21/5/2020) Mira mengisahkan pengalamannya menjadi tukang roti sekaligus seorang perawat. Ia mengisahkan, awal bulan Agustus 2019 lalu, Ia ketinggalan pesawat di Bandara Udara Soekarno Hatta, saat Ia hendak kembali ke Bajawa. Ketika pesawat hendak berangkat, para petugas memanggil-manggil namanya namun rupannya Ia ketiduran di ruang tunggu bandara itu. Karena nyenyak, Ia tidak mendengar namanya dipanggil oleh petugas bandara. Ketika ia terjaga, pesawat sudah lepas landasan. Ia pun protes kepada petugas, namun gagal dan tidak dapat berbuat banyak lantaran pesawat sudah take off.

Ia akhirnya memutuskan membeli tiket baru dengan penerbangan berikutnya. Di saat sedang mananti penerbangan, Ia mencium aroma Rotiboy yang ada di sampingnya. Aroma roti itu sangat khas. Ia pun tergoda untuk membelinya, selain untuk dimakan dalam perjalanan, Ia juga mencoba mencari tahu cara membuat Rotiboy yang sedang dicicipinya. Lewat perangkat telepon genggam miliknya, Ia pun mulai mengotak atik internet tentang tata cara membuat roti.

Tiba di Bajawa, Mira mulai mempraktekkan bagaimana cara membuat Rotiboy sesuai petunjuk yang dipelajarinya lewat media. “Awalnya saya buat untuk konsumsi keluarga, namun saya coba membawa ke rumaah sakit untuk dibagi-bagikan kepada sesama rekan kerja. Banyak teman yang suka makan roti buatan saya, sehingga saya mulai berani berjualan,” kisahnya dengan nada bangga.

Awalnya Ia menjual kepada rekan-rekan se-kantor, namun dalam perjalanan permintaan semakin bertambah sehingga, Ia menjualnya secara online via Facebook, WhatsApp atau Instagram. Rotiboy Ia jual dengan harga Rp 5.000/pcs. Para penikmat roti buatannya merasa senang membeli dan menjadi pelanggan lantaran aroma rasanya yang enak dan penuh cita rasa.

Meskipun sehari-hari Ia menjalani rutinitas sebagai pelayan kesehatan di rumah sakit umum Bajawa, namun tidak menghambat aktivitas berjualan roti tetap berjalan lancar. Ia mengaku, semua Ia jalani dengan senang hati dan segala sesuatu bisa diatur waktunya. Waktu untuk pelayanan kesehatan di rumah sakit dan waktu untuk berkeliling berjualan roti hasil karya tanggnya.

“Pagi hari biasanya jam dinas, jadi saya harus ke rumah sakit. Biasanya, sore hari saya isi dengan berjualan roti. Demikian pula jika dinas sore hari, maka pagi hari saya gunakan untuk berjualan,” ujarnya.

Banyak atau sedikit roti yang diproduksi sangat tergantung banyaknya permintaan atau pembeli. Biasanya, setiap hari roti yang Ia hasilkan sebanyak 60 buah. Namun akan disesuaikan dengan jumlah permintaan. Pasalnya, Ia pernah mengalami kerugian ketika pada suatu waktu tak satu pun roti yang dibeli oleh pelanggan, padahal hari itu Ia memproduksi roti lumayan banyak. Ia sempat menangis dan hampir memutuskan untuk berhenti membuat roti, lantaran modal yang dikeluarkan sudah cukup bayak. Namun berkat dorongan ibunya, Ia tetap berjualan roti yang dihasilkannya sendiri.

Meskipun ditengah pandemi virus corona, Ia mengaku usahanya masih tetap berjalan dan penghasilannya masih tetap stabil. Omset yang dihasilkan dalam sebulan bisa mencapai Rp 5 juta hingga Rp 6 juta.

“Kalau sedang lagi rejeki, bisa lebih dari itu,” ujarnya tersipu malu.

Ia mengaku, penghasilannya cukup lumayan dapat memenuhi kebutuhan keluarga, selain gaji bulanan yang Ia terima sebagai tenaga kontrak daerah.

Ketika ditanya impian dan cita-cita yang hendak Ia gapai di masa mendatang, bidan lulusan Akbid Sandi Makassar ini berobsesi ingin punya toko roti sendiri, agar usaha rotinya tetap berjalan.

“Saya hanya punya satu impian, ingin punya toko roti sendiri dan tentunya dapat mempekerjakan lagi orang lain. Selama ini saya dibantu oleh mama dan adik-adik di rumah. Saya kewalahan jika pesanan cukup banyak,” katanya dengan nada optimistis.

Bekerja sebagai pelayan kesehatan sekaligus tukang roti memang bukan perkara gampang. Tentu membutuhkan waktu, tenaga dan fasilitas pendukung lainnya, namun bagi Mira itu bukan sebuah penghalang untuk terus berkarya bagi sesama.

Selain melayani pasien yang membutuhkan bantuan, Ia juga merasa perlu melayani para pelanggan atau pembeli yang ingin menikmati roti hasil karya tangannya.

Meskipun Ia sibuk menggeluti dua “dunia” yang berbeda yakni, sebagai perawat dan tukang roti, namun Mira mengaku tidak menghalanginya untuk terus berkarya termasuk mengurus suami dan anak-anaknya.

Penulis: Martin Lusi
Editor: Kornelius Rahalaka

Artikel ini telah dibaca 1560 kali

Baca Lainnya
x