Featured

Selasa, 18 Juni 2019 - 16:51 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Etus Saldena

Etus Saldena

Kisah Perjuangan Etus Saldena, Seorang Aktivis Muda Alor

Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, Perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri (Soekarno).

Persoalan pembodohan terhadap kemiskinan dan rancunya pemikiran yang belum atau secarah sadar menciptakan kegaduhan yang mematikan harkat dan martabat manusia seolah telah menjadi makanan empat sehat, lima sempurna yang siap di santap dan tempatnya berada NTT, ucap Etus Saldena pria asal Alor ini.

Setelah sekian tahun berlalu ia yang pada dasarnya memiliki seorang Ayah dan ibu kini berubah identitas menjadi anak yatim. Ayah nya yang keseharian berprofesi sebagai guru telah pergi menghadap Tuhan, meninggalkan Etus dan Ibu nya yang hanya seorang rumah tangga.
Ia tidak putus asa dan terus berjuang mengarungi nasip, pesan ia pada ibu nya, ” ibu sayang jaga basodara dan rumah, mohon doa dan berkah”.

Bermodalkan ijazah tamatan sekolah menengah kejuruan Kalabahi Alor, Etus mengarungi nasip ke pusat kota Provinsi Nusa Tenggara timur tepatnya di Kota Kupang untuk menambah pengetahuan biar kelak bisa menjadi guru seperti almarhum ayah nya.

Saat tiba di Kupang ia mendaftarkan dirinya sebagai seorang mahasiswa baru PGRI Kupang dan ketika sudah lama menempu pendidikan di Universitas tersebut. Suatu persoalan politik dan sosial datang menderu antara rektor PGRI Samuel Haning dan pihak yayasan PGRI membuat kepengatan otak dan pikiran, sembari pusing tujuh keliling ia pun berkata menggunakan bahasa melayu Kupang, “Adoh, kita shu semerter tua bagini, baru dong bakalai ni, kasian basodara yang berasal dari seluruh pelosok NTT, mereka punya orang tua ada yang petani, utang piutang untuk sekolah anak, apalagi seperti saya yang hanya tinggal ibu”, ujar Etus degan wajah yang berusaha senang untuk menutup kesedihan yang sungguh menghayat hati kala itu.

Namun serasanya kesedihan dan impian untuk menjadi seorang sarjana mulai memiliki tanda kehidupan, sekarang dia sudah mengerjakan tugas akhir di perguruan tinggi Unasdem Kupang.
Carut marut dunia kampus di hari kemarin membuat dia untuk belajar turun mengabdi masyarakat melalui berbagai aksi untuk memperjuangkan ketidak adilan. Salah satu yang dilakukan dan juga di kenal sebagai awal dia masuk di dunia aktivis yaitu ikut bagian dalam melakukan aksi penuntutan terhadap gelar palsu doktor Samuel Haning pada tahun 2013.

Hal seperti ini membuatnya semakin jatu cinta terhadap memperjuangkan kebenaran. Mulai dari pergerakan dan terpilihnya Etus menjadi ketua umum orgasasi Serikat Mahasiswa Tatakata Pureman, Alor Timur, Hingga menjadi salah satu kabid dalam organisasi yang menghimpun seluruh mahasiswa kabupaten Alor yaitu organisasi Kerukunan Mahasiswa Kenari ( KEMANHURI ), serta organisasi Front Mahasiswa Nasional Cabang Kupang ( FMN).

Menjadi seorang mahasiswa yang beraktivis dalam memperjuangkan manusia hamba buangan penguasa adalah pekerjaan yang sungguh cerdas nan bijaksana, kata Etus. Tambahnya, saya bersama rekan yang tergabung dalam aliansi peduli kemanusiaan seperti FMN Kupang, SEMATA dan KEMENHURI kabupaten Alor merupakan anugrah yang terindah di beri sang pencipta, sambil senyum indah saat ia berbicara padaku dikediamannya Naikoten Kupang.

Sebagaimana mengatasi wacana atau persoalan yang di rasah memiliki kejanggalan dalam kehidupan masyarakat yang tidak manusiawi, tiga organisasi ini selalu bersatu untuk menyatukan persatuan yang besar.

Setelah setiap persoalan pada tahun 2013 pernah mereka lakukan, tiba saat nya mereka bergerak melakukan aksi terhadap kekecewaan terhadap pemerintah berkaitan degan meninggalnya TKI oleh majikan di Malaysia yang turut mengorbankan Dolvina Abuk, Yufrinda Sean dan Adelina Sau asal Timur Tengah Selatan pada tahun 2016. Sedangkan di tahun 2017 mereka melakukan aksi degan berbagai banyak kasus seperti merongrong dan menuntut untuk menyelesaikan persoalan konflik Kepemilikan Tanah Hutan Adat Pubau bersama Pemprov NTT tepatnya di kecamatan Amanuban Selatan, TTS. Melakukan aksi tuntutan berkaitan degan kurangnya upah guru dan tentang peraoalan medis di Alor. Kasus dugaan kejanggalan penetapan tersangka yang di lakukan oleh Polsek Amabi Oefeto Timur pada dua orang petani, (dua suami istri yang tidak pasif dalam berbahasa indonesia ) dalam komflik kepemilikan tanah antara Pemda Kupang melawan masyarakat Oehaen Kabupaten Kupang, hingga kasus dugaan korupsi pasar Lipa, jalan Tarmata Alata Pido, serta persoalan proyek air bersih di desa Lendola dan kelurahan Kolana Utara di Alor.

Sebelum melakukan aksi protes terhadap dugaan pasar Lipa Alor yang di lakukan di Kupang, malam sekitar pukul 11: 44 Etus dan rekannya di tikam oleh orang tak dikenal di Bundaran Penghijauan Kupang yang menyebapkan Erwin Atamau di tikam dan segera di evakuasi ke rumah sakit Kartini Kupang.

Sungguh saat itu ada perestiwa yang memilu hati, ketika Erwin atamau di sela rasa sakitnya mengungkapkan, “Etus, kita sudah berjanji untuk tidak takut dalam memperjuangkan kebenaran. Ancaman dan teror adalah sahabat seorang aktifis, besok tetap lakukan aksi” , Ujar Etua yang meyaksikan pernyataan itu.

Sedangkan pada tahun 2018 Etus bersama aliansi peduli kemanusiaan melakukan aksi terhadap persoalan penembakan Poroduka di Sumba Barat. Hingga pada tahun 2019 melakukan aksi dalam menangani PHK sepihak oleh perusahaan PT Ombay terhadap karyawan atas nama Nicodemus Oko di Alor.

Ketika di tanya di Kediaman Etus Naikoten Kupang berkaitan degan perjuangannya degan terang benderang melakukan aksi terhadap pihak pemerintah maupun swasta. Apaka anda tidak takut masadepan anda hancur?, degan suara yang begitu santai dan sejuk Etus pria Kelahiran Lengkuru Alor ini menjawab, ” tidak ada rasa takut bagi saya untuk berjuang melawan ketidak adilan yang pada prinsip nya setiap perjuangan ada konsekuensinya sekalipun masadepan hancur, asalkan idealisme saya tidak ikut mati, kata Etus.

Kata terakhir untuk menutup kisah yang di lontarkan mulut Etus, ” organisasi FMN Kupang, SEMATA dan KEMENHURI tidak sedang melawan pihak pemerintah maupun swasta, atau mengkudeta negara, kita sedang melawan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat”. Dan untuk ibu saya di Alor jagan terlalu berpikir untuk lebih bagus mendukung anak mu, “saya berpikir kiriman ibu sudah lebih dari cukup dan sekarang di sela waktu kesibukan tugas akhir maupun turun jalan, saya bekerja menjadi salah satu buru sawah di belakang kantor Gubernur biar bisa menambah menafkai diri, terang Etus.

Penulis: Will

Artikel ini telah dibaca 1903 kali

Baca Lainnya
x