Featured

Minggu, 28 Juli 2019 - 14:27 WIB

10 bulan yang lalu

logo

Di Nanga Mbaur, masih banyaknya ditemukan pemukiman warga tak layak huni (Foto: TeamYPF/Yopie Moon)

Di Nanga Mbaur, masih banyaknya ditemukan pemukiman warga tak layak huni (Foto: TeamYPF/Yopie Moon)

Lirih Dari Nanga Mbaur

Floreseditorial.com, Manggarai Timur – Jika saat liburan tiba , janganlah lupa anda mengunjungi daerah pantai selatan Manggarai Timur, di sanalah segala keindahan dan kesejukan alam akan di jumpai.

Nanga Mbaur adalah sebuah desa yang berada di kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

Di Nanga Mbaur, masih banyak ditemukan pemukiman warga yang tak layak huni (Foto: TeamYPF/Yopie Moon)

Beberapa waktu lalu, bersama rombongan Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Manggarai Timur floreseditorial.com diajak mengunjungi daerah pantai selatan Manggarai Timur yang terdiri dari beberapa desa pesisir Pantai.

Hari itu (22/7/2019), suasana pagi yang cerah menjadi penyemangat awal keberangkatan kami bersama rombongan.

Perjalanan dengan rute Borong – Watunggong – Lengko Ajang – Pota – Nanga Mbaur – Nampar Sepang memang melelahkan. Maklum saja disana sini masih banyak ditemui jalan berlubang.

Dari perjalanan inilah saya sadar kalau jalan jelek bukan saja Mamba tetapi masih banyak daerah lainnya di Manggarai Timur termasuk ke desa ini, yang memiliki jalur infrastruktur yang buruk dan memprihatinkan.

Semobil bersama Kadis PMD Yoseph Durahi dan Seorang Kabid PemDes Marsel Manggas serta Kasi PemDes dan seorang juru mudi handal asal Elar Kaka Ferdi, tentunya banyak suasana baru kami jumpai di perjalanan.

Jalan berlubang dan bebatuan serta tanjakan kami lewati.

Pantai Nanga Mbaur (Foto: TeamYPF/Yopie Moon)

Tidak terasa sampailah kami pada sebuah Desa Pinggir Pantai sambirampas, Desa yang indah berkabut debu jalanan , tidak di jumpai Rabat Beton ataupun telford apalagi Lapen dalam wilayah desa ini.

Namanya Desa Nanga Mbaur , desa dengan penduduk mayoritas Muslim ini terdiri dari enam Dusun dan sebagian besar penduduk bermata Pencarian Nelayan.

Semua jalanan yang di lalaui dalam wilayah desa dipenuhi debu , “saya tidak tau, di kemanakan DD dalam wilayah ini, kok tidak pernah dijumpai rabat beton dalam wilayah desa, padahal luas wilayah tidak seluas desa-desa yang ada di daerah pegunungan,” gumam ku dalam hati.

Bertolak dengan rasa penasaran , akhirnya saya berpamit dengan rombongan untuk mampir sedikit di Nanga Mbaur , saya mencoba masuk dengan berjalan kaki menuju setiap sudut anak kampung di wilah Desa ini.

Semuanya begitu muda di jangkau karena wilayah dan topografi rata khas daerah pantai, pengalaman yang begitu menarik bertemu dalam senyum sapa bersama penghuni Kampung.

Di samping kiri- kanan jalan menuju kampung satu dan yang lainnya , masih begitu banyak di jumpai rumah-rumah tak layak huni warga yang semestinya diperhatikan oleh pemerintah , mereka adalah kaum yang terlupakan dari berbagai bantuan yang berserakan di republik ini.

Diskusi bersama warga Nanga Mbaur (Foto: TeamYPF/Yopie Moon)

Tibalah saya pada sebuah Rumah Panggung Ibu Fatimah, seorang ibu Rumah Tangga yang sedang asik membersihkan bawang untuk dimasukan dalam jinjing.

Untain kata salam dalam memulai dialog saya dan berlangsung seru dalam sendu, Ibu Fatimah dengan nada sedih menguraikan kata dalam bahasa risau.

“Inilah keadaan kami di sini nak, dengan keadaan rumah seperti ini dan jalanan berdebu. Saya tidak tau lagi, kenapa tidak dibangunkan jalan rabat beton seperti di Nampar Sepang (desa tetangga), padahal saya dengar banyak uang tuh yang turun ke Desa, tapi keadaan Kami seperti ini terus,” tutur Ibu Fatimah

Terbawa asik dalam suasan ngobrol, ibu Fatimah berpamit sedikit menuju ke dapur, selang beberapa menit kemudian saya disuguhkan oleh segelas Kopi Hitam.

Ngobrolpun terus berlanjut, tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 17: 00 WITA, seketika saya berpamit menuju bibir pantai, untuk menikmati senja di sore itu, sayapun terhanyut dengan indahnya susana laut kala itu.

Kondisi Jalan menuju Kampung Ranjang, Desa Nanga Mbaur yang nyaris tersapu aliran sungai (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Saya mencoba untuk sedikit tenang dalam suasana , miris dan sedih rasanya berada di situ kala itu, ingin rasanya berteriak biar laut akan menjadi saksi dari dangkalnya hati para pemimpin untuk melihat Nanga Mbaur.

Dana Desa untuk apa dan di kemanakan, dalam hatiku bergumam, masih saja banyak warga yang tidak memiliki rumah layak huni, dan debu jalanan memberikan polusi mengundang penyakit.

Nanga Mbaur Desa berkabut Debu , ada rindu untukmu, salam sapa dari jauh semoga lain Waktu bertemu sudah lebih baik.

Tim Flores Editorial

1

Artikel ini telah dibaca 512 kali

Baca Lainnya
x