• Kamis, 26 Mei 2022

Ritual Pepo Re’a, Upacara Tolak Bala Orang Rongga di Manggarai Timur

- Jumat, 13 Mei 2022 | 19:08 WIB
Ritual ini dihelar oleh teua adat masing-masing suku  (Marselino Ando/Congkasae.com)
Ritual ini dihelar oleh teua adat masing-masing suku (Marselino Ando/Congkasae.com)
 
Floreseditorial.com - Melahirkan anak dengan selamat dan sehat secara fisik tentunya jadi dambaan setiap calon ayah dan ibu. Pasalnya, anak merupakan citra dari orang tua yang nantinya akan menjadi penerus dan kebanggaan keluarga.

Namun begitu pilu hati calon Ayah dan Ibu ketika mereka harus menerima kenyataan pahit karena calon bayi meninggal dalam kandungan.

Sebagai umat yang beriman, tentunya kita mengamini bahawa semua insiden ini merupakan kehendak Maha Kuasa yang menciptakan langit, bumi dan segalah isinya.
 
Baca Juga: Keng Agu Kinda, Doa Penyerahan Orang Manggarai

Orang Rongga di Kisol, Kelurahan Tanah Rata, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur juga mempunyai persepsi yang sama kalau semua kejadian ini merupakan rencana sang Khalik.

Akan tetapi, mereka memiliki cara tersendiri agar kejadian serupa tidak terulang lagi di masa depan ketika si Ibu mengandung yang kedua kalinya.

Namanya Pepo Re'a yakni sebuah ritual tolak bala, terkait kejadian pahit sebelumnya agar tidak terjadi lagi di masa depan.

Seperti biasanya, acara sesakral ini harus dilakukan dalam rumah adat, warga sekitar menyebutnya dengan istilah Sa'o.

Mengitip congkasae.com, ritual ini tidak sembarangan digelar, hanya  tetua adat dari suku yang bersangkutan saja yang boleh memimpin ritual adat ini.
 
Baca Juga: Toto Kopi, Cara Orang Manggarai Timur Meramal Masa Depan

Sudah menjadi pengetahuan umum bahawa setiap ritual harus dilakukan melalui sebuah sarana dan mengorbankan hewan yang diyakini sebagai perantara ke Embu Nusi (roh leluhur).
masukkan script iklan disini Ritual Pepo Re'a ini bisa dilaksanakan pada siang hari, asalkan kedua unsur keluarga dan yang terpenting seperti orang tua dari calon Ayah dan Ibu hadir.

Pasalnya, pada acara puncaknya setelah penyembelihan Manu Sepang (ayam jantan berukuran sedang), masing-masing orang tua mengoles punggung kaki bagian kanan anaknya dengan darah ayam.

Pengolesan darah ayam pada kaki diyakini sebagai bentuk pemutusan terhadap kejadian sebelumnya, sembari berharab mereka dikaruniai anak yang sehat.

Konon, berdasarkan cerita para sesepuh tradisi ini sudah dilakukan oleh nenek moyang orang Rongga di Kisol sebelum mereka mengenal dan menerima agama.
 
Baca Juga: Mengenal Cear Cumpe, Upacara Pemberian Nama Bayi dalam Kebudayaan Suku Manggarai

Di era moderen seperti sekarang ini, kendati melalui ritual ini mereka memohon kepada Embu Nusi (roh leluhur), namun mereka tidak menampik kalau terwujudnya semua harapan yang baik itu berkat campur tangan dan restu yang Maha Kuasa.

Uniknya hampir  semua tetua adat di masing-masing Sa'o (rumah adat) memiliki kemampuan untuk melakukan ritual ini.

Jika usia sudah benar-benar senja, mereka akan menurunkan dengan cara mengajarkan ritual ini pada orang yang tepat sebagai bentuk regenerasi.

Editor: FEC Media

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Intip Resep Chinese Pickles Berikut

Sabtu, 21 Mei 2022 | 18:32 WIB

Lirik Lagu Maumere : Gemu Fa Mi Re

Sabtu, 21 Mei 2022 | 08:55 WIB

Lirik Lagu Maumere : Maumere da gale kota Ende

Sabtu, 21 Mei 2022 | 08:52 WIB

Lirik Lagu Maumere : Maumere E

Sabtu, 21 Mei 2022 | 08:47 WIB

Lirik Lagu Maumere : Wineng Megu

Sabtu, 21 Mei 2022 | 08:44 WIB

Lirik Lagu Maumere : Kasih Ami Lau Ata Nian

Sabtu, 21 Mei 2022 | 08:41 WIB

Lirik Lagu Maumere : Wolon Kubang

Sabtu, 21 Mei 2022 | 08:38 WIB
X