Ekososbud Gaya Hidup

Senin, 14 Oktober 2019 - 15:35 WIB

2 bulan yang lalu

logo

seminar Hari Anak Perempuan International atau International Day of Girl Child

seminar Hari Anak Perempuan International atau International Day of Girl Child

“Stop Kekerasan Perempuan dan Anak” Tema dalam Seminar International Day of Girl Child

Floreseditorial.com, Ruteng – “Stop Kekerasan Perempuan dan Anak” begitulah tema seminar Hari Anak Perempuan International atau International Day of Girl Child yang diselenggarakan oleh Susteran Gembala Baik Ruteng NTT, RGS bekerja sama dengan JPIC St. Leonardus, paroki Kumba

Seminar ini berlangsung di Gereja stasi St. Leonardus, paroki Kumba, Keuskupan Ruteng, kabupaten Manggarai (Minggu, 13 Oktober 2019)

“kami akan terus memberikan pelayanan kasih kepada korban kekerasan yang merendahkan martabat manusia. Terlebih khusus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Memberikan perlindungan terhadap korban kekerasan perempuan dan anak. Mengapa anak? Karena anak adalah anugerah terindah, titipan Allah dari surga,”

Demikian disampaikan oleh suster Ryta RGS dalam pengantarnya tentang tujuan seminar selaku panitia dalam kegiatan seminar Hari Anak Perempuan International 2019.

“Bersama spirit semangat tahun diakonai keuskupan Ruteng dan setiap tanggal 11 Oktober setiap tahunya, dunia memberikan perhatian serius pada anak perempuan. Selamatkan anak perempuan dari segala bentuk kekerasan apapun. PBB telah menetapkan 11 Oktober sebagai Hari Anak Perempuan International (International Day of Girl Child, red).

“Kegiatan hari ini adalah momen penting agar remaja, orang tua, gereja dan masyarakat peka terhadap masalah yang dihadapi anak perempuan di paroki Kumba keuskupan Ruteng. Masalah terbesar kekerasan pada perempuan dan anak sebagai disebabkan salah penggunaan media sosial (medsos,red) yang tidak tepat guna. Kami juga bermitra dengan WVI dan Media Pendidikan Cakrawala NTT sebagai mission partner untuk membuka kesadaran dan pengetahuan tentang bermedia sosial yang bijak” kata Suster Ryta RGS.

Lebih jauh, solusi yang ditawarkan untuk mencegah penyalahgunaan media sosial yang berdampak pada kekerasan adalah dengan memperkenalkan kepada remaja dan anak muda tentang apa itu media sosial, prinsip-prinsip bermedia sosial, tips-tips praktis bermedia sosial dan bagaimana mengunakan media sosial secara bijak, demikian Ino Sengkang menjelaskan tujuan sebelum memulai materinya Literasi Media

Anak Muda dan Media Sosial

Hingga saat ini, perkembangan media sosial amat luar biasa. Hampir setiap harinya, bahkan separuh harinya sejak pagi hingga menjelang tidur malam orang tenggelam dalam genggaman media sosial.

“Lebih mengerikan lagi, anak-anak tanpa pengawasan orang tua bebas menggunakan media sosial. Selain itu, tidak dapat dibantah lagi bahwa percepatan teknologi komunikasi dan informasi telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia baik secara posistif maupun negatif yang berdampak pada kekerasan dan pelecehan melalui internet, informasi tidak benar (Hoax), pornografi melalui internet, perjudian, penculikan hingga human trafficking,” Jelas Ino, Formator Media Pendidikan Cakrawala NTT wilayah VII Manggarai Raya.

Menurut dia, anak-anak, remaja (laki-laki dan perempuan, red) perlu menggetahui batasan usia dalam menggunakan akun media sosial. Syarat batas usia memiliki akun media sosial, usia 13 tahun seperti twitter, facebook, Instagram, usia 16 tahun seperti whatsApp, usia 18 tahun seperti youtube, wechat. Setiap pengguna usia 13 tahun sampai 18 tahun tetap dalam pengawasan dan kontrol orang tua.

“saya menemukan ada anak-anak di bawah usia 13 tahun di sini (kelas 6,5,4 SD red) sudah memiliki akun media sosial. Ketika ditanya apa manfaatnya punya akun media sosial, jawaban adalah agar banyak teman. Apakah tahu dengan benar dampak negatif media sosial? Apakah tahu UU ITE Nomor 19 tahun 2016 pasal 45 ayat 3 dan pasal 45A ayat 2? Jawabanya adalah tidak tahu. Tantanganya adalah orang tua jangan merasa bangga anak kecil pegang handphone. Berharap orang tua perlu melakukan pengawasan dan kontrol dalam menggunakan media sosial,’’ pukas Ino

Dirinya mengajak remaja yang hadir dalam seminar itu untuk menggunakan media sosial sebagai sarana pewartaan kabar baik di tengah derasnya tsunami informasi, gunakan bahasa yang santun, tidak menyebarkan berita bohong, tidak provokatif, tidak melecehkan, tidak berbau sara dan pornografi.

“Bertanggungjawablah menggunakan media sosial, cerdaslah memanfaatkan media sosial dan bijaklah mengelola media sosial” tutup Ino

Seminar sehari ini berjalan dengan penuh antusias, semangat dan aktif. Peserta yang hadir berjumlah 100 remaja perempuan terdiri remaja SD, SMP, SMA/K, perwakilan komunitas Susteran Gembala BAik, utusan komunitas Susteran FMVI (putri-putri perawan Maria tak bernoda). Acara dibuka oleh dewan pastoral stasi St. Leonardus Kumba.

Laporan : Adrianus Paju

Artikel ini telah dibaca 382 kali

Baca Lainnya
x