Headline

Selasa, 9 Juli 2019 - 19:55 WIB

1 minggu yang lalu

logo

Ilustrasi (Net)

Ilustrasi (Net)

Begini Kronologis Dugaan Suap Izin Pembangunan Bandara di Manggarai Timur

Floreseditorial.com – Berdasarkan informasi yang diterima Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Bupati Manggarai Timur (Matim), Andreas Agas, diduga kuat terlibat kasus suap  izin pembangunan Bandara udara  di kabupaten Manggarai Timur.

Orang nomor satu di kabupaten Manggarai Timur itu disebut – sebut telah menyuap salah satu pejabat di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) saat dirinya menjabat sebagai Wakil Bupati Matim tahun 2015 lalu. 

Namun Agas Andreas Tidak Sendirian, Kasus dugaan suap tersebut juga disiyalir melibatkan mantan Bupati Manggarai Timur Drs.Yoseph Tote dan seorang kontraktor.

Kontraktor ini disebut – sebut sebagai pihak yang menyiapkan Dana senilai 3,8 Miliar untuk memuluskan rencana pembangunan Bandara di kabupaten Manggarai Timur.

Selain Bupati Manggarai Timur, Mantan Bupati Manggarai Timur dan juga kontraktor tersebut, sengkarut dugaan penyuapan pembangunan bandara di kabupaten Manggarai Timur juga dikabarkan melibatkan Sdri. Veronika Indak Karunia Mbalur, salah seorang Staff ahli kementerian direktorat Jenderal perhubungan darat perkeretaapian dan berkantor di Mess Aceh lantai 8 Jalan RP. Soeroso No.48 Menteng, Jakarta Pusat.

Loading...

Pertemuan awal atas kasus dugaan penyuapan tersebut terjadi pada tahun 2015 lalu yang dilaksanakan di Restoran China, Hotel Borobudur, Lantai 2, Jakarta Pusat.

Veronika Indak Karunia Mbalur, berperan sebagai orang yang manahkodai Pertemuan tersebut.

Pertemuan saat itu dihadiri oleh Wakil Bupati Matim, Andreas Agas, Kepala Suku Dinas Perhubungan Kab. Matim, Yulianus dan pihak Kemenhub, Pras Prasetyo Budi Cahyono berserta istri. 

Pihak Andreas Agas saat itu menerangkan kepada Pras Prasetyo Budi Cahyono bahwa syarat pembangunan Bandara sudah terpenuhi yakni sudah ada hasil studi kelayakan, izin prinsip, izin Amdal serta tanah seluas 100 Ha yang diklaim hibah dari tujuh kepada suku adat di Kecamatan Kota Komba. 

Tiga minggu pasca pertemuan itu, mereka kembali melakukan pertemuan di Hotel Mess Aceh pukul 23.00 WIB yang dihadiri Bupati Yosep Tote, Andreas Agas dan Yulianus dan pihak kementerian yakni Pras Presetyo Budi Cahyono berserta istri dan juga seorang eks karyawan PT. Waskita Karya.

Saat itu, Mantan Bupati Manggarai Timur Drs.Bupati Tote menyerahkan sejumlah dokumen asli terkait izin pembangunan Bandara kepada Prasetyo Budi Cahyono dan Mereka pun sepakat untuk ke lokasi untuk menentukan titik koordinat dan mengukur panjang run way. Namun tidak boleh diketahui oleh pihak media masa dan tak boleh foto-foto.

Saat survey pertama dilakukan, yang hadir saat survey tersebut adalah Sdr. Deddy dari Direjen Perhubungan Udara bersama beberapa anak buahnya dan juga Sdri. Veronika Indak Karunia Mbalur, sebagai penunjuk jalan dengan biaya akomodasi sebesar Rp. 300.000.000.

Dana sebesar Rp. 300.000.000 itu merupakan dana hasil patungan Bupati Manggarai Timur Agas Andreas dan Mantan Bupati Manggarai Timur Yoseph Tote.

3 Minggu pasca survey, Direktur Sarana dan Prasarana Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Perkereta Apian Kemenhub bernama Pras Prasetyo Budi Cahyono bersama istrinya Ernita dan beberapa orang lainnya kembali melakukan survey ke Lokasi pembangunan Bandara.

Survey kali ini kembali menelan biaya sebesar Rp. 200.000.000 yang juga merupakan dana dari hasil Patungan antara Bupati Manggarai Timur Agas Andreas dan Mantan Bupati Manggarai Timur Yoseph Tote.

Setelah Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Perkereta Apian Kemenhub yakni Direktur Sarana dan Prasarana Pras Prasetyo Budi Cahyono, Sdri. Veronika Indak Karunia Mbalur dipanggil oleh Sdri Ernita (Istri Pras Prasetyo Budi Cahyono) meminta dana administrasi pengurusan surat izin rekomendasi dari kementerian perhubungan sebesar Rp. 3.800.000.000 (Tiga Miliar Delapan Ratus Juta Rupiah) yang kemudian Veronika Indak Karunia Mbalur memberitahukannya kepada Mantan Bupati Manggarai Timur Yoseph Tote.

Saat itu Yoseph Tote dikabarkan Keberatan atas permintaan Dana Adminstrasi tersebut, namun beberapa saat kemudian, Veronika Indak Karunia Mbalur ditelepon oleh seorang kontraktor dari kabupaten Manggarai Timur yang dikabarkan bersedia menyiapkan dana tersebut hingga Veronika Indak Karunia Mbalur kembali menyampaikan hal itu kepada Istri Ernita.

Ernita kemudian menugaskan Veronika Indak Karunia Mbalur bersama seorang temannya yang diketahui bernama Siti berangkat ke Surabaya untuk menerima dana dari Kontraktor asal kabupaten Manggarai Timur sebesar Rp. 3.280.000.000 (Tiga Miliar Dua Ratus Delapan Puluh Juta Rupiah) Dana tersebut kemudian disimpan di rekening Prioritas Bank Mandiri Sidoarjo.

Pengisian data – data untuk kepentingan Adminstrasi Bank pun dipandu oleh Ernita dan diarahkan agar jika ditanya oleh petugas bank dari mana asal usul uang tersebut, Veronika Indak Karunia Mbalur diminta agar menjawab uang tersebut adalah dari hasil jual beli tanah agar pihak bank Mandiri tidak curiga.

Dari dana tersebut, sebesar Rp. 2.300.000.000 (Dua Miliar Tiga Ratus Juta Rupiah) masuk ke rekening Pribadi Sdr. Veronika Indak Karunia Mbalur dan sisanya sebesar Rp. 980.000.000 (Sembilan Ratus Delapan Puluh Juta Rupiah) yang kemudian dikonversi menjadi 70 Dolar Singapura, masuk ke rekening Sopir Pribadi Pras Prasetyo Budi Cahyono.

Keesokan harinya, Sdr. Veronika Indak Karunia Mbalur bersama Siti kembali ke Jakarta dan setibanya di Jakarta, Sdri.Veronika Indak Karunia Mbalur menyerahkan ATM Prioritas rekening Bank Mandiri Sidoarjo yang telah digunakan untuk transaksi kepada Istri Ernita (Istri Pras Prasetyo Budi Cahyono).

Uang tersebut kemudian ditarik dalam beberapa tahap. Tahap pertama uang tersebut ditarik sebesar Rp 300.000.000, keesokan harinya kemudian ditarik lagi Rp. 500.000.000 dan pada siang harinya kemudian ditarik lagi Rp. 500.000.000. Pada hari berikutnyanya lagi uang tersebut kemudian ditarik lagi Rp. 500.000.000 dan pada siang harinya kemudian ditarik lagi Rp. 500.000.000, hingga uang dalam rekening atas nama Sdri.Veronika Indak Karunia Mbalur yang dibuka di bank Mandiri Sidoarjo tinggal sebesar Rp. 1.500.000 (Satu Juta Lima Ratus Ribu Rupiah).

Namun hingga saat ini, uang yang di setor ke rekening A.n Sdri.Veronika Indak Karunia Mbalur dengan imbalan surat izin tersebut hanyalah tinggal janji dan sampai saat ini tak ada realisasinya.

Bupati Manggarai Timur Membantah

Saat dikonfirmasi wartawan melalui sambungan telepon, Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas membantah keras tudingan Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) terkait dugaan suap pembangunan bandara di Kecamatan Kota Komba pada tahun 2015 silam.

“Masa saya suap, sementara izin itu tidak keluar. Itu tidak masuk akal,” ujar Agas Andreas saat dihubungi wartawan melalui sambungan telepon, Selasa, 9 Juli 2019 siang.

Agas menuturkan bahwa, pihaknya tidak mungkin melakukan penyuapan sementara saat itu, pihak Kementrian Perhubungan RI tidak memberikan izin kepada Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur hingga sekarang. 

“Itu tidak benar. Sementara kami tidak diberikan izin sampai sekarang,” ungkap Agas.

Meskipun demikian, Agas tidak menampik soal pertemuan yang dilakukan pada tahun 2015 silam saat dirinya masih menjabat sebagai wakil Bupati Manggarai Timur.

Pertemuan tersebut, kata Agas, bertujuan hanya untuk menyerahakan dokumen studi kelayakan kepada staf Kementerian Perhubungan RI.

“Memang itu benar. Kami ada pertemuan di Jakarta pada tahun 2015. Tapi waktu itu kita hanya kasih dokumen. Mungkin karena tidak layak, makanya izin tidak keluar dan saat itu kami tidak suap,” tukas ketua DPD PAN kabupaten Manggarai Timur itu.

Laporan : Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 1814 kali

Baca Lainnya