Foto orang yang diduga Shana Fatina, kepala Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo saat mengikuti aksi 212, GNPF-MUI (Ist)

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Shana Fatina, kepala Badan Otorita Pariwisata atau BOP Labuan Bajo didesak untuk segera mengklarifikasi Beredarnya foto – foto dirinya di Medsos Soal Keberadaannya Dalam Aksi 212, Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI).

Selain itu, Shana Fatina juga didesak untuk mengklarifikasi terkait dirinya yang diduga terlibat aktif dalam kegiatan politik praktis dalam mendukung salah satu pasangan calon di Pilgub DKI beberapa waktu lalu.

Sebagai pejabat publik yang memimpin Badan Otorita Pariwisata atau BOP Labuan Bajo Flores yang merupakan Badan Pelaksana Satuan Kerja Kementerian Pariwisata yang secara struktur berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden, maka Shana Fatina harus mengklarifikasi foto-foto dirinya dan pesan-pesan WhatsApp yang beredar di Medsos yang menghubungkan Shana Fatina dengan aksi 212, GNPF-MUI.

“Karena foto-foto yang beredar tersebut telah mengganggu kohesivitas Masyarakat Labuan Bajo termasuk munculnya tuntutan untuk bubarkan BOP Labuan Bajo dan tarik Shana Fatina dari BOP Labuan Bajo Flores,” kata Petrus Salestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) pada Media ini, Sabtu (11/05/2019).

Sebagai Badan Pelaksana dari Kementerian Pariwisata yang secara struktur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden, maka seandainya “benar” Shana Fatinah adalah aktivis yang ikut serta dalam aksi 212, GNPF-MUI,  apakah sebagai panitia atau simpatisan atau ada misi lain dari GNPF-MUI, maka Shana Fatina bukanlah orang yang tepat untuk memimpin BOP Labuan Bajo, Flores.

“Karena visi dan misi GNPF-MUI jelas bertolak belakang dengan program dan visi pembangunan kepariwisataan yang menekankan pada aspek sosial budaya, lingkungan alam dan agama masyarakat setempat,” kata Petrus Salestinus.

Oleh karena itu, kata Petrus Salestinus, Shana Fatina harus segera mengklarifikasi foto-foto dan pesan WhatsApp-nya yang beredar di Medsos yang dikaitkan dengan aksi 212 GNPF-MUI.

“Tujuannya agar publik NTT dapat memperoleh informasi yang benar dan agar BOP Kawasan Pariwisata Labuan Bajo Flores steril dari kegiatan politik praktis yang partisan dan oposan terhadap Pemerintahan Jokowi. Publik tahu bahwa GNPF-MUI dalam sikap sosial politiknya selama ini selalu opisisi terhadap kepemimpinan Jokowi, terlebih-lebih beberapa tokohnya ikut dalam gerakan anti Pancasila,” tandasnya.

Foto dan pesan WatsApp yang menghubungkan Shana Fatinah dengan aksi 212 GNPF-MUI, tambah Petrus Salestinus, telah menimbulkan kecurigaan publik NTT.

“Bahkan publik NTT mulai menduga-duga jangan-jangan Shana Fatina menjadi bagian dari aksi 212, GNPF-MUI atau setidak-tidaknya Shana Fatina sudah terpapar Radikalisme dan Intoleransi dan saat ini sedang membuka ruang untuk berkembangnya Radikalisme dan Intoleransi melalui BOP Labuan Bajo, Flores NTT, sehingga klarifikasi itu menjadi sangat urgent demi BOP Labuan Bajo Flores dan Masyarakat NTT,” tandasnya.

BOP Labuan Bajo, kata koordinator TDPI itu, harus steril dari kepemimpinan yang memiliki loyalitas ganda yaitu loyal kepada Pancasila tetapi juga mendukung gerakan Radikalisme dan Intoleransi yang anti terhadap Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

“Klarifikasi tentang rekam-jejak Shana Fatina terkait beredarnya foto dan pesan WhatsApp tentang dirinya di medsos dalam aksi 212 harus diperjelas, karena dikhawatirkan jangan sampai BOP Labuan Bajo, Flores bisa disalahgunakan untuk kepentingan infiltrasi radikalisme, terorisme dan intoleransi,” tukasnya.

Sementara hingga saat ini, media belum berhasil menghubungi pihak Badan Otorita Pariwisata Labuan bajo untuk mengkonfirmasi hal ini.

Laporan : Jivansi Helmut

Loading...

Bijaksanalah dalam berkomentar. Komentar sepenuhnya menjadi tanggungjawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. Baca Kebijakan berkomentar disini