Headline

Rabu, 3 Juni 2020 - 19:59 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. (Foto: Ist)

Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat. (Foto: Ist)

Soal Covid-19, Gubernur NTT Tantang WHO

Kupang, floreseditorial.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Bungtilu Laiskodat menatang kebijakan Word Health Organisation (WHO) terkait covid-19. Pasalnya standar new normal penanganan covid-19 yang ditetapkan lembaga dunia itu, tidak bisa diterapkan seluruhnya di Indonesia, terutama di NTT. Apalagi pasien yang dinyatakan positif dan meninggal bukan murni covid-19, tapi karena penyakit bawaan lainnya.

“Kita tidak ikut standar WHO. NTT itu beda dengan WHO. Orang WHO tidak pernah berkebun, tidak pernah pegang linggis, tapi mereka hanya buat standar, dan itu tidak bisa diterapkan di seluruh negara,” tegas Gubernur Laiskodat dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Virtual, bersama Forkopimda Provinsi NTT dan para Bupati/Walikota, di Kupang, Rabu (27/5/2020) pekan lalu.

Menurutnya, covid-19 tidak pernah mematikan siapa pun di dunia. Penyakit yang lebih berbahaya di NTT adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) dan penyakit itu tidak ada batasan. Nyamuk, misalnya, tidak pernah dikarantina atau di-tracing.

Jika kita bandingkan skala keganasannya, lanjutnya, yang paling dikhawatirkan di NTT adalah DBD. Buktinya sampai saat ini, terdapat 55 orang di NTT yang meninggal dunia. Sedangkan positif covid-19 dan yang meninggal sampai saat ini hanya satu orang, dan itu pun karena penyakit tifus,” tegas Viktor.

Karena itu, pinta Gubernur Laiskodat, masyarakat diharapkan dapat beraktivitas seperti biasa. Sebab jika hidup dalam ketakutan sangat berbahaya dan lebih berbahaya dari virus covid-19 itu sendiri. Untuk itu mulai 15 Juni 2020, aktivitas pemerintah mulai normal dan tidak ada lagi work from home. Karena itu tidak ada bupati yang menutup wilayahnya, baik antar RT dan RT, kelurahan dan kelurahan, desa dan desa maupun antar kota dan kabupaten.

“Normal untuk kita di NTT itu bukan hal baru. Normal bagi kita itu seperti biasa. Kesehatan kita Tuhan sudah berikan. Dengan tidak meremehkan protokol kesehatan, saya lebih memilih mati karena virus itu, tapi rakyat saya tetap bisa makan. Dari pada saya kurung diri di dalam rumah, tapi rakyat saya mati kelaparan,” tegas Viktor.

Menurutnya, program khusus tahun 2020-2021 adalah pemberdayaan masyarakat. Salah satunya, Pemerintah NTT telah menyediakan lahan jagung 10.000 hektar. Tetapi persoalan, jelasnya, petani tidak dapat menjual hasil panennya.

Kondisi ini harus segera diatasi agar pemberdayaan masyarakat bisa berjalan dengan baik. Karena itu, ungkapnya, anggaran yang telah disiapkan dari refocusing, akan disampaikan kepada Kementerian Keuangan, agar di wilayah NTT harus fokus pada program-program di daerah seperti pertanian, perikanan dan perkebunan.

“Para pimpinan di setiap kabupaten jangan lakukan tanda tangan fiktif. Bodoh tidak apa-apa, tapi kalau penakut itu salah,” katanya.

Lokasi Wisata Dibuka, Sampah Harus Bersih

Pada bagian lain, Gubernur Laiskodat, mengingatkan, tempat-tempat wisata boleh dibuka lagi. Demikian perayaan keagamaan di rumah-rumah ibadat dapat menjalankan perayaan keagamaan sebagaimana mestinya. Hanya saja, tetap mematuhi protokol kesehatan. Kecuali di Labuan Bajo, Pulau Komodo sebagai tujuan wisata dunia boleh dibuka, asal sampah-sampah sudah dibersihkan. *(obe)

Artikel ini telah dibaca 883 kali

Baca Lainnya
x