Cheap NFL Jerseys From China Wholesale Jerseys

Headline News

Selasa, 27 Oktober 2020 - 13:53 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi Yoseph Tote danTerminal Kembur (FEC Media)

Ilustrasi Yoseph Tote danTerminal Kembur (FEC Media)

Terminal Kembur Peninggalan Yoseph Tote, Enam Tahun ‘Nganggur’

Manggarai Timur, Floreseditorial.com – Terminal Kembur yang berlokasi di Kembur, Kelurahan Satar Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT), sudah enam tahun tidak digunakan.

Padahal, mega proyek pembangunan terminal pada tahun 2014 silam itu, telah menelan anggaran daerah yang tidak sedikit.

Naasnya, meski sudah menelan anggaran daerah yang tidak sedikit, Pemerintah Daerah (Pemda) Matim terkesan masa bodoh dengan bangunan yang dibangun di masa kepemimpinan Bupati Yoseph Tote itu.

Pantauan Floreseditorial.com, Selasa (27/10/2020) pagi, kondisi bangunan terminal itu sangat tidak terawat. Pagar tembok yang mengelilingi lokasi itu pun nyaris ditutupi rerumputan yang semakin tinggi. Tak hanya itu, pintu di sebuah ruangan pada bangunan terminal itu pun rusak dan sudah terjatuh ke lantai. Beberapa bagian lantainya sudah retak. Di sekeliling bangunan itu pun ditemukan sisa-sisa botol minuman keras.

RK, salah seorang warga Kembur yang ditemui media ini, Senin (26/10/2020), mengungkapkan keprihatinannya perihal kondisi terminal tersebut yang ‘nganggur’ selama enam tahun.

“Beberapa bagian bangunan sudah rusak. Ini hambalang peninggalan, Pak Yoseph Tote. Bermiliaran uang daerah digelontorkan, tapi sama sekali tidak memiliki asas manfaatnya,” katanya.

Menurutnya, pemerintah tentu lebih mengetahui prioritas pembangunan di Kabupaten Matim. Sehingga, tahu pembangunan mana yang harus diprioritaskan.

“Berapa sih jumlah angkutan yang ada di Kabupaten Matim sehingga membutuhkan banyak terminal. Terminal di Pasar Borong saja tunggu hari Senin dan Selasa baru digunakan, sementara hari lain juga nganggur,” ungkapnya.

Ia menduga, di masa kepemimpinan Bupati Yoseph Tote, prioritas pembangunan terminal tidak melihat asas manfaat dan kegunaan.

“Saya menduga, terminal itu dipaksakan dibangun di situ. Karena di sekitar terminal ada banyak tanah pejabat,” bebernya.

Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Manggarai Timur, Gaspar Nanggar, mengakui, tak banyak Angkutan Kota (Angkot) yang beroperasi di Kabupaten Matim.

“Kalau di situ (Terminal Kembur, red) khusus hanya untuk terminal, itu susah. Kita Angkot tidak ada,” ujarnya saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Selasa (27/10/2020).

Menurutnya, pihaknya
telah berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Diskoperindag) agar di terminal itu dibukakan pasar atau tempat jual beli yang baru.

“Sehingga, lalu lintas ekonomi masyarakat di sekitar terminal bisa berjalan baik,” jelasnya.

Ia menambahkan, di Terminal Kembur perlu dibuka pasar, agar para pedagang tidak berjualan di sembarang tempat seperti di pinggir jalan menuju pusat Pemerintahan Kabupaten Matim.

“Kita sudah komunikasi dengan Diskoperindag. Hanya tinggal mau operasi. Karena pandemi covid-19, terpaksa kita tunda lagi,” ujarnya.

Mengakhiri pembicaraannya, Ia mengatakan, alasan lain yang menghambat proses pengoperasian terminal itu adalah infrastruktur jalan masuk menuju terminal itu.

“Jalan masuk menuju terminal itu baru dikerjakan tahun 2019 lalu,” tukasnya.

Untuk diketahu, proyek pembangunan  terminal Kembur ini telah menghabiskan dana sebesar Rp 1.177.864.000, tahun anggaran 2014. Pelaksana proyek oleh CV. Eka Putra dengan nomor kontrak 16/PPK/DISHUB/XI/2014. (igt)

Artikel ini telah dibaca 1545 kali

Baca Lainnya