Headline

Rabu, 9 Oktober 2019 - 08:08 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Ayam tak layak konsumsi dari Bima yang direncanakan akan dipasarkan di Labuan Bajo (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

Ayam tak layak konsumsi dari Bima yang direncanakan akan dipasarkan di Labuan Bajo (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

Tim Pengawas Pasar dan Pelabuhan Mabar Gagalkan 1 ton Ayam Tidak Layak Konsumsi Dari Bima

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Tim Pengawasan Pasar dan Pelabuhan Produk Hewan dan bahan Asal Hewan pada selasa malam (08/10/2019) melakukan investigasi terhadap Karkas Ayam yang berasal dari Luar Kabupaten Manggarai Barat terutama yang dimasukan melalui jalur laut. Investigasi dilaksanakan di atas Kapal, sebelum Karkas Ayam itu dijual di pasar-pasar yang ada di Kota Labuan Bajo.

Dari hasil investigasi, Tim yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Manggarai Barat, Abidin, menemukan 925 kg Ayam tidak layak konsumsi. Karkas Ayam diamankan oleh Tim, selanjutnya akan dilakukan Uji Laboratorium dan pemeriksaan dokomen.

Ketika melakukan uji laboratorium di lab veteriner dinas peternakan Mabar, ditemukan ratusan ayam tersebut tidak layak komsumsi dengan melihat standar kesehatan komsumsi daging.

Salah seorang dokter hewan yang melakukan pemeriksaan menyatakan bahwa pengujian tersebut untuk mengetahui kelenturan daging, bentuk fisik, awal pembusukan, uji bau dan penggunaan bahan awet.

“Dari beberapa sample yang diambil dari tiap karungnya, kita menemukan bahwa ayam-ayam ini tidak layak dikonsumsi karena telah berbau, dagingnya hancur, tulang-tulang telah menghitam dan terutama penyimananya sangat tidak higenis”, terang dokter tersebut.

Ditempat yang sama, Idil Lar Kabid Kesehatan Masyarakat veteraner (kesmavet) pengolahan dan pemasaran menjelaskan bahwa pasokan daging yang mereka tangkap tersebut telah melanggar regulasi kerjasama antar Pemprov NTT dan Para pedagang.

“SK Gubuernur NTT menjelaskan bahwa menerima pasokan daging dari daerah luar seperti bima tetapi harus memenuhi standar yang kita rekomendasikan seperti higenis, segar, tidak berbahan pengawet”, jelasnya.

“Jika seperti ini kondisinya maka akan berdampak pada kesehatan masyarakat Mabar yang akan mengonsumsi daging ini karena berpotensi mengandung bakteri jika dilihat dari bentuk fisik dan kemasan yang sangat tidak layak yaitu menggunakan karung pakan ternak. Karena itu saya mengajak kita yang di Labuan bajo ini harus berhati-hati dalam membeli daging”, lanjutnya.

Sedangkan salah satu pemilik karkas ayam tersebut menyampaikan bahwa daging-daging yang mereka bawa itu adalah daging baru yang dipotong pada subuh sebelum dipasok ke Labuan Bajo.

“Subuh jam 4 semua ayam ini dipotong, lalu sekitar jam 8 pagi dimasukan kedalam kapal untuk dibawakan ke Labuan. Perjalanan dari Bima hingga Labuan sekitar 6-8 Jam”, ungkap Sarjan.

Salah satu pedagang, Yohanes menyayangkan penyitaan itu karena menurut dia bahwa mereka telah mengikuti prosesdur badan karantina peternakan bahkan membayar izinan masuk sebesar lima ribu rupiah persatu dokument sertifikat sanitasi pruduk hewan.

Perihal kemana karkas ayam ini akan dibawah, Yohanes menjelaskan akan dipasarkan ke warung-warung langganan restoran dan pasar.

“Kita punya pelanggan banyak disekitar kota Labuan Bajo, warung, restoran dan pasar. Harganya kami pasarkan empat puluh dua ribu rupiah perkg”, kata Yohanes.

Mendengar pengakuan itu, Abidin geram karena tindakan tersebut melanggar kesepakatan dinas apalagi dalam sertifikat sanitasi tersebut hanya memperbolehkan maksimal karkas sebesar 15kg perorang. Tetapi yang terjadi, ada pedagang yang memiliki ratusan kg.

“Diaturanya hanya boleh membawa karkas sebesar 15 kg perorang, itu terlihat dari dokument yang mereka miliki. Hasil sitaan kami, hanya terdapat enam dokumen dengan isi dokumen menerangkan 15 kg karkas tetapi faktanya bahwa terdapat 925 kg karkas. Ini menunujukan bahwa ada karkas yang ilegal”, tutup sekretaris dinas peternakan dan kesehatan hewan tersebut.

Laporan : Edison Risal

Artikel ini telah dibaca 437 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya
x