Cheap NFL Jerseys From China Wholesale Jerseys

Headline

Jumat, 20 November 2020 - 12:21 WIB

1 minggu yang lalu

logo

Warga Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka lakukan aksi penolakan terhadap penambangan batu dan tanah yang dilakukan oleh PT. CRI (Foto: Ist)

Warga Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka lakukan aksi penolakan terhadap penambangan batu dan tanah yang dilakukan oleh PT. CRI (Foto: Ist)

Warga Desa Watuliwung Tolak Tambang

Sikka, Floreseditorial.com – Puluhan warga Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Tumur (NTT) melakukan aksi penolakan aktivitas tambang di wilayah tersebut, dengan melakukan pemblokiran di tempat penimbunan material (Quari), pada Kamis (19/11/2020). Diketahui, aktivitas tambang itu dilakukan oleh PT. CRI.

Hal ini dilakukan, sebab sebagian warga Desa Watuliwung mengaku merasakan dampak dari aktivitas tambang, berupa pengambilan batu dan tanah tersebut. Dampak tersebut yakni gangguan pernapasan akibat debu yang ditimbulkan, rusaknya situs adat, rusaknya jalan rabat desa dan hubungan sosial kemasyarakatan antar warga menjadi renggang.

Sebelum melalukan aksi pemblokiran, warga Desa Watuliwung telah melakukan Musyawarah Desa Khusus, yang digelar oleh Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Watuliwung. Musyawarah tersebut dihadiri oleh Pemerintah Desa Watuliwung, BPD, Tokoh Adat, Tokoh Perempuan, Tokoh Muda, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas), para Kelapa Dusun, Ketua RT dan RW, serta beberapa kelompok masyarakat lainnya.

Hasil musyawarah tersebut menghasilkan tiga point kesepakatan, yakni:

  1. Menolak segala aktivitas proyek tambang oleh PT. CRI dan pihak manapun dalam wilayah Desa Watuliwung.
  2. Pihak PT. CRI bertanggung jawab untuk merehabilitasi lingkungan yang sudah rusak dan dampak yang dirasakan hari ini serta akan datang, akibat dari aktivitas tambang yang sudah dilaksanakan.
  3. Pihak PT. CRI menindaklanjuti dan merealisasikan kesepakatan yang tertuang dalam Berita Acara pada Senin, 9 November 2020 lalu.

Setelah melakukan musyawarah dan mencapai tiga point kesepakatan itu, warga Desa Watuliwung bergerak menuju lokasi penambangan yang berada di RT.07/RW.03, Dusun Watuliwung dan melakukan pemblokiran area penambangan sekitar pukul 14.20 Wita.

Selain menghasilkan tiga point kesepakatan, mereka juga melakukan penandatanganan petisi di atas kain putih yang bertuliskan “Kami Warga Desa Watuliwung Menolak Segala Aktivitas Tambang”. Kain itu kemudian dipasang di jalan, tepat di depan Kantor Desa Watuliwung.

Quari, tempat penimbunan material penambangan di Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka. (Foto: Ist)

Kepada floreseditorial.com, Ketua BPD Desa Watuliwung, Antonius Yakob Nino, pada Kamis (19/11/2020) mengatakan, aksi tersebut merupakan tuntutan masyarakat Desa Watuliwung yang menolak adanya aktivitas tambang. Sehingga, pihaknya menggelar Musyawarah Desa Khusus.

“Dalam musyawarah khusus yang digelar tersebut, juga membahas tentang rusaknya salah satu Situs Adat Desa Watuliwung, dan telah disepakati untuk dilakukan pemulihan terhadap situs adat yang rusak itu,” ungkapnya.

Senada, Wakil Ketua BPD Desa Watuliwung, Gunarson, pada kesempatan itu juga menjelaskan, aksi yang dilakukan itu merupakan rentetan dari keresahan warga Desa Watuliwung terhadap aktivitas pengambilan batu di wilayah tersebut.

“Mulai dari aktivitas di bagian bawah, sampai situs juga rusak, sehingga suara-suara masyarakat ini kemudian kami dari pihak BPD menggelar rapat internal dan gelar Musyawarah Desa Khusus hari ini. Jadi untuk situs adat itu, ritual pemulihannya nanti akan dilakukan oleh para Tokoh Adat,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu Tokoh Pemuda Desa Watuliwung, Gabriel Ferdiantonis, mengatakan, aksi penolakan terhadap aktivitas tambang itu merupakan wujud nyata kepedulian warga Desa Watuliwung terhadap keberlangsungan alam dan relasi sosial antar warga.

“Penolakan ini murni karena dampak aktivitas pengambilan batu dan pengurukan tanah, hal itu betul-betul dirasakan. Dan warga yang terdampak langsung juga tadi sempat hadir menyampaikan keresahan mereka,” bebernya.

Terpisah, pihak PT. CRI, Alfons Tjin, yang dikonfirmasi media ini melalui telepon selulernya, pada Jumat (20/11/2020), mengatakan, seharusnya penolakan terhadap aktivitas pengambilan batu tersebut dilakukan dari awal kegiatan.

“Jadi, Kepala Desa Watuliwung harus membuat penolakan dari awal. Kepala Desa sudah keluarkan surat-surat itu dan saya sudah masukkan semuanya ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH),” sebutnya.

Ia menjelaskan, izin aktivitas pengambilan batu di wilayah Desa Watuliwung tersebut dilakukan oleh PT. Dua Putri, yang merupakan anak perusahaan PT. CRI. Menurutnya, pihaknya mengantongi semua dokumen perizinan tambang sesuai mekanisme yang berlaku.

Terkait beberapa dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas pengambilan batu seperti yang dikeluhkan warga Desa Watuliwung, dirinya menyampaikan akan memenuhi kesepakatan yang telah dimuat dalam berita acara pada 9 November 2020 lalu.

“Saya siap untuk menunjukkan semua dokumen izin tambang di wilayah Desa Watuliwung,” tegasnya.

Informasi yang dihimpun floreseditorial.com, proses penyelesaian masalah aktivitas penambangan tersebut rencananya akan dilanjutkan ke Bupati Sikka dan DLH Kabupaten Sikka. (ric)

Artikel ini telah dibaca 1389 kali

Baca Lainnya