Hukum

Rabu, 6 Maret 2019 - 11:02 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Fransisko Besi SH, MH

Fransisko Besi SH, MH

Kuasa Hukum Sebut Ada Rakayasa Penyidik Polda NTT Dalam Kasus WN India di Kupang

Floreseditorial.com, Kupang – Kuasa Hukum Shreejit Warga Negara India yang diberitakan media terlibat tindak pidana penipuan terhadap warga dan pengusaha jambu mette di NTT akhirnya angkat bicara soal tudingan yang disampaikan oleh Penasihat Hukum DC Commodity, Dr.Tommy Singh,SH,LL.M terkait warganegara India yang diduga menipu dan merusak perekonomian petani Jambu Mette di NTT.

Kepada media ini, tim kuasa hukum warga negara India tersebut diantaranya Petrus Bala Pattyona SH, MH dan Fransisko Besi SH, MH, membantah dan ingin meluruskan berita-berita yang beredar di Medsos dan Media lainnya terkait kliennya yang disebut – sebut telah menipu dan merusak Ekonomi Petani jambu mette di NTT.

“Berita-berita sepihak tersebut tak pernah dikonfirmasi kepada kami dan oleh karenanya telah sangat merugikan Klien kami,” kata Fransisko Besi SH, MH Selasa (05/03/2019).

Menurutnya, selain karena faktanya tidak seperti yang diberitakan media, Shreejit adalah korban penipuan yang dilakukan Pelapor Ramachandran Nair Daroji Amma Dinesh Chandra WN India.

“Dalam transaksi jual beli mette justru klien kami yang belum dibayar penuh atas mette yang telah dikirim ke Surabaya untuk selanjutnya dikirim ke India dan Dubai,” jelasnya.

Loading...

Selain itu, kata Bala Pattyona, antara kliennya dengan Pelapor tidak terdapat hubungan hukum

“Karena dalam jual beli mette klien membuat kontrak jual beli dengan 6 CV yang diciptakan oleh Johanes Hamenda di Surabaya agar dapat menerima transferan uang dari Pembeli di Dubai yaitu DC Commodity FZCO tanpa alamat yang jelas hanya dengan PO Box 371377 Dubai,” ungkapnya.

Selama penyelidikan, tambahnya, tidak terdapat bukti-bukti yang kuat dan petunjuk.

“Tetapi atas muslihat dan kerjasama Pelapor dengan Penyidik Polda NTT telah memaksa Klien kami untuk mendatangani pengakuan hutang yang bahan-bahan perjanjian dikonsep oleh penyidik dan pelapor untuk dituangkan dalam Akta Perjanjian Nomor 78 tanggal 8 Mei 2018 dihadapan Notaris Zantje Mathilda Voss Tomasowa,” ungkapnya.

Dalam perjanjian tersebut, katanya lebih lanjut, Kliennya dipaksa untuk menandatangani perjanjian bahwa mempunyai hutang dalam jual beli mette sebesar USD 317.000 dan apabila hingga Agustus 2018 belum dibayar maka dianggap sebagai Penipuaan.

“Sejak penandatanganan perjanjian di Notaris tersebut setiap Minggu Penyidik Polda dan Pengacara Pelapor melakukan teror kepada Klien kami agar segera membayar hutang-hutangnya dan apabila tidak membayar maka akan diproses, ditangkap dan ditahan dan terbukti akhirnya, karena Klien kami tidak memenuhi permintaan Penyidik dan Pengacara Pelapor,” tandasnya.

Hingga menjelang dilakukan penahanan penyidik masih menekan Klien kami agar segera membayar hutang kepada Pelapor baik langsung ke Pelapor atau melalui Penyidik namun tekanan-tekanan Penyidikan tidak dituruti Klien kami karena justru Klien kami adalah korban Penipuan yang dilakukan oleh Pelapor.

“Adanya frasa bahwa Klien kami merusak ekonomi petani mette NTT tak ada korelasi dengan bisnis mette dengan Johanes Hamenda karena Klien kami tidak pernah melakukan kontrak jual beli dengan Pelapor. Para Petani Mente selama Klien kami berbisnis tidak pernah mengalami keluhan apalagi masalah, serta dalam berita tersebut tak ada statement dari siapapun tentang hal itu. Kalimat tersebut hanya kesimpulan dan pikiran tak berdasar dari Penulis Berita,” tuturnya.

Saat ditanyai media tentang Kliennya yang pernah dihukum atas kasus penipuan atau pemalsuan Surat, Petrus Bala Pattyona dengan tegas membantah tudingan tersebut.

“Itu tidak benar, karena kasus yang dilaporkan oleh Ramapaneker Rajmohan bersama Pengacaranya terbukti dalam persidangan bahwa Klien kami tidak bersalah dan dinyatakan bebas murni walau sebelumnya PN Larantuka menyatakan bersalah dan dihukum 6 bulan tetapi di tingkat PT dan MA dinyatakan tidak bersalah, dibebaskan dan dipulihkan harkat martabatnya,” jelasnya.

Sebagai Pengacara dari Tersangka Strejith, dirinya sangat menyesalkan cara kerja Penyidik yang merekayasa bukti-bukti Surat, tak dapat membedakan Legal Standing Pelapor, karena seharusnya yang dilaporkan adalah Johanes Hamenda dan kalau pun Johanes merasa dirugikan maka Johannes lah yang melaporkan tetapi karena Johannes pun merasa adanya kurang pembayaran ke Klien kami sehingga tidak melaporkan Klien Kami.

“Kami juga menyesalkan tindakan Penyidik dan berbuat seolah-olah sebagai Debt Colector dan oleh karena itu mohon Kapolda menindak Penyidik-Penyidik tersebut atau setidak-tidaknya melakukan gelar perkara,” tutup Fransisko Besi.

Untuk diketahui, sebelumnya kepada wartawan Penasihat Hukum DC Commodity, Dr.Tommy Singh,SH,LL.M mengatakan Pengusaha Jambu Mette warganegara India diduga menipu dan merusak perekonomian petani Jambu Mette di NTT.

Tommy mengatakan Shreejit,warga India, bersama istri Emily Siberu, diduga menipu Ramachandran Dinesp, Direktur DC Commodity, Perusahaan yang berbasis di Dubai,UEA, sebesar Rp.5 Milyar.

“Penipuan dilakukan dengan cara menawarkan kacang mette berkualitas super dan memberitahukan kepada kepada klien saya, bahwa Ia memiliki gudang penampungan di beberapa kota seperti Larantuka, Lembata, Maumere dan Lombok,” jelas Dr.Tommy Singh,SH,LL.M

Selain itu juga, Shreejit, mengatakan kepada Dineshp bahwa dirinya juga membina banyak petani jambu mette untuk menyuplai perusahaanya.

Untuk lebih meyakinkan Ramachandran, Shreejit, warga negara India itu menyiapkan kontrak kerja yang belakangan diketahui bukanlah Perusahaan miliknya tapi milik Johannes Hamenda asal Surabaya.

Laporan : Wahyu

Artikel ini telah dibaca 68 kali

Baca Lainnya