Hukum

Selasa, 26 November 2019 - 06:18 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Surat kuasa hukum Nicolaus Naput yang mengklaim memiliki tanah seluas 40 Ha di Kawasan Karangan (Dok.Istimewa.Foto: Andre Kornasen)

Surat kuasa hukum Nicolaus Naput yang mengklaim memiliki tanah seluas 40 Ha di Kawasan Karangan (Dok.Istimewa.Foto: Andre Kornasen)

Nicolaus Naput Klaim Pemilik 40 Ha Tanah Kerangan

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Ternyata bukan H. Adam Djudje saja yang mengklaim punya hak milik atas tanah di Toroh Lemma Batu Kalo yang saat ini luasnya tinggal kurang lebih 24 Ha dari luas kurang lebih 30 Ha (300.000 m2). Sebagaimana diberitakan sebelumnya, BPN telah menerbitkan 6 (enam) Sertifikat Hak Milik (SHM) sehingga jadi hak milik pribadi dari pemegang SHM.

Hasil investigasi Flores Editorial, Nicolaus Naput ternyata memilki tanah jauh lebih luas daripada yang diklaim H. Adam Djudje. Luas tanah yang diklaim sebagai hak milik Nicolaus Naput di Kerangan 40 Ha (400.000 m2). Kemungkinan luas ini mencakup tanah di Toroh Lemma Batu Kalo.

Hal ini terungkap dalam Surat Kuasa Hukum BPN No. Ref: 19/IMYBS/IV/2017, tertanggal 8 Desember 2017, Perihal: Penolakan setiap Permohonan Hak atas Tanah di atas tanah yang merupakan tanah Milik IR. NICOLAUS NAPUT yang terletak di Karangan, Kelurahan Labuan Bajo, Kec. Komodo.

Tanah seluas 40 Ha yang diklaim sebagai hak milik Nicolaus Naput tersebut berbatasan dengan: Sebelah Utara, tanah milik Ir. Nicolaus Naput dan Beatrix Seran Ngebu; Sebelah Timur, Jalan; Sebelah Selatan, tanah milik Haji Nasir Ridwan dan tanah ulayat dan laut; Sebelah Barat, Laut Flores.

Menurut sumber informasi Flores Editorial yang tidak mau disebutkan namanya, tanah yang diklaim tersebut berasal dari tanah ulayat.

“Jadi, dibandingkan luas tanah yang diklaim H. Djudje itu, ya tidak seberapa dibandingkan tanah yang diklaim Pak Nico Naput,” kata sumber tersebut.

Jika luas ini ditambahkan dengan tanah-tanah yang telah terbit sertifikat Hak Milik atas nama Nico Naput, istri, dan anak-anaknya, jumlahnya pasti jauh lebih besar lagi.

“Kalau tidak salah yang sudah diajukan permohonan sertifikat Hak Milik ke BPN Manggarai Barat seluas 26 Ha (260.000 m2). Yang sudah terbit Sertifikat Hak Milik, kalau tidak salah, 15 Sertifikat Hak Milik atas nama Nico Naput dan anak-anaknya. Anda hitung sendiri berapa besar tanah yang dimiliki keluarga Nico Naput di Karangan itu.” tuturnya.

Terkait dengan hal tersebut Florianus Adu selaku juru bicara H. Djudje, mengatakan bahwa
Jika beberapa mempersoalkan besarnya tanah Toroh Lemma Batu Kalo yang diserahkan Fungsionaris adat pada tahun 1990 kepada H. Djudje selaku Penata Tanah Adat di Labuan Bajo, mengapa tidak mempersoalkan tanah-tanah yang jauh lebih besar yang diserahkan Fungsionaris Adat kepada Keluarga Pak Nico Naput.

“Padahal pak Niko Naput inikan tinggal di Ruteng,” tutur Florianus Adu.

Dari pantauan Flores Editorial, selama ini salah satu hal yang banyak dipertanyakan dalam diskusi di Medsos adalah soal kenapa H. Djudje mendapat penyerahan tanah di Toroh Lemma Batu Kalo dari Fungsionaris Adat seluas 30 Ha yang faktualnya sekarang kurang lebih 24 Ha. Sementara tidak pernah yang mempersoalkan tanah yang dimiliki Nico Naput berasal dari penyerahan tanah adat yang jauh lebih besar/luas daripada yang diklaim sebagai hak milik H. Djudje.

Laporan: Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 897 kali

Baca Lainnya
x