Hukum

Minggu, 22 Desember 2019 - 18:00 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Foto: Team YPF

Foto: Team YPF

Polisi Usut Proyek Tong Sampah di Kota Ruteng, Kuat Dugaan Terjadi Markup

Floresditorial.com, Ruteng – Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Nusa Tenggara Timur melakukan penyelidikan terhadap dugaan korupsi pengadaan tong sampah. Sejumlah orang telah diperiksa sebagai saksi.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Manggarai, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Satria Wira Yudha, membenarkan jika pihaknya telah memanggil sejumlah orang terkait proyek yang menelan biaya Rp1,6 miliar tersebut. Antara lain yang diperiksa adalah Pejabat Pembuat Komitmen (PPK).

“Yang sudah diperiksa itu dari pihak pengguna anggaran yakni beberapa orang dari Kantor Kecamatan Langke Rembong termasuk PPK,”  katanya dihubungi Sabtu malam 21 Desember 2019.

Kuat dugaan terjadi markup harga karena faktanya spesifikasi barang dalam kontrak tidak sesuai dengan yang dikerjakan. Seharusnya bahan tempat sampah terbuat dari plat acer tapi yang dilaksanakan oleh kontraktor malah menggunakan drum biasa.

“Kita hitung, dari Rp1 miliar lebih  pagu anggaran kira-kira hanya menghabiskan Rp300 juta rupiah tapi itu masih dugaan awal masih butuh pendalaman lagi ya. Kontraktor ini pakai drum bekas padahal seharusnya barang baru dari plat acer. Awal Januari 2020 kita lanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi termasuk kontraktornya” katanya dikutip mediaindonesia.com.

Dijelaskan Kasat Wira Yudha, penyelidikan kasus ini dilakuka setelah penyerahan hasil pekerjaan tahap pertama (PHO) awal Desember lalu.

“Kalau pulbaket proyek pengadaan bisa langsung setelah PHO, beda dengan proyek fisik yang masih memiliki masa pemeliharaan selama satu tahun. Sehingga untuk tempat sampah ini kita lanjutkan setelah liburan natal dan tahun baru,” imbuhnya.

Berdasarkan pengakuan pihak yang terlibat dalam proyek ini diketahui bahwa pengadaan tong sampah ini ditenderkan pada Juli 2019 dimana pemenangnya adalah CV. Patrada dengan nilai kontrak sebesar Rp1,6 miliar rupiah.

Dalam kontraknya, anggaran tersebut dipakai untuk pengadaan 1524 unit drum yang didatangkan dari Surabaya Jawa Timur.

“Pagunya segitu, Rp1,6 miliar. Paling banyak habis itu biaya angkutnya Rp13,5 juta per kontainer. Satu kontainer isi 80 drum, dipakai 20 kontainer kalo tak salah,” kata seorang sumber di Ruteng yang meminta agar namanya tidak dimediakan.

Narasumber itu juga menerangkan untuk 1 drum dibeli dengan harga Rp358 ribu rupiah ditambah biaya pemasangan di 762 titik.

“Kalau yang pasang itu oleh kelompok GMPS (Gerakan Masyarakat Peduli Sampah), saya tidak tahu kenapa mereka terlibat proyek ini apakah mendapat subkontrak dari CV Patrada, saya tak tahu persis,” tuturnya.

Di Kota Ruteng selama dua bulan terakhir memang banyak ditemukan drum warna biru di kiri dan kanan jalan protokol hingga di jalan kekurahan. Satu titik pemasangan terdiri dari dua drum yang di cor menyatu dengan besi medium 3 dim.

Laporan: Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 1494 kali

Baca Lainnya
x