Hukum

Jumat, 1 Maret 2019 - 18:22 WIB

5 bulan yang lalu

logo

Laporan perzinahan yang dilakukan oleh Bripka YSA, oknum polisi di polres Manggarai hingga kini tak jelas penanganannya (Foto: Istimewa)

Laporan perzinahan yang dilakukan oleh Bripka YSA, oknum polisi di polres Manggarai hingga kini tak jelas penanganannya (Foto: Istimewa)

Terkait Lambannya Penanganan Kasus Perzinahan Oknum Polisi di Polres Manggarai, Keluarga Akan Surati Kompolnas

Floreseditorial.com, Ruteng – Empat bulan sudah penangan kasus Perzinahan yang dilakukan oleh Bripka YSA, oknum polisi di polres Manggarai tak jelas penanganannya oleh pihak kepolisian polres Manggarai.

Dilaporkan sejak 26 November lalu, kasus yang melibatkan oknum polisi beristri berpangkat Bripka itu mengendap di meja kepolisian.

MSD, wanita berusia 21 tahun asal kampung Golo Ara, Desa Compang Wesang, Kabupaten Manggarai Timur kepada media ini menjelaskan bahwa penanganan atas kasus tersebut sudah tak jelas.

“Sudah sejak empat bulan sejak saya melaporkan kasus ini, setiap saya ke kantor polisi mereka selalu bilang masih tunggu sidang. Sidang kog sampai empat bulan,” kata MSD saat ditemui wartawan pada Jumat (01/03/2019)

Menurutnya, dirinya dan keluarga kini berencana menyurati komisi kepolisian Nasional (Kompolnas) di Jakarta terkait lambannya penanganan atas kasus yang menimpa dirinya.

Loading...

“Kami sudah capek menunggu, kalau kapolisian di Manggarai tak bisa tangani, dalam waktu dekat kami akan menyurati Kompolnas terkait lambannya penanganan kasus ini di polres Manggarai” tutur MSD.

Untuk diketahui, MSD melaporkan YSA seorang anggota polisi berpangkat BRIPKA ke Propam Polres Manggarai karena tidak mau bertanggung jawab setelah menghamili.

Warga Dusun Golo Ara, Desa Compang Wesang RT01/RW01, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Manggarai, itu melapor pada Senin (26/11) lalu setelah mengetahui dirinya hamil tiga bulan. MSD mengaku sering ditiduri YSA, anggota polisi di Polresta Manggarai. Namun saat dia hamil, polisi itu malah tidak mau bertanggungjawab.

MSD menceritakan, perkenalannya dengan YSA terjadi sejak awal 2018 lalu. Karena merasa ada kecocokan mereka pun kemudian berpacaran. Sejak saat itu, hampir setiap kali bertemu mereka selalu melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri.

“Awalnya saya sempat menolak ketika diajak berhubungan intim karena takut hamil. Tapi dia (YSA) merayu saya, dan meyakinkan saya katanya kalau hamil akan dinikahi,” ucapnya.

MSD mengatakan, dia dan YSA pertama kali melakukan hubungan intim di kontrakan YSA yang berada di kelurahan Pitak, tidak jauh dari Polres tempat YSA bertugas.

Mulai dari saat itu, mereka sering melakukan hubungan intim. MSD sering menginap di rumah kontrakan YSA dan sebaliknya YSA pun sering datang kerumah orangtua MSD di kediaman MSD di Golo Ara.

“Saking seringnya, saya sudah tidak ingat lagi berapa kali berhubungan intim dengan YSA, karena kami sudah seperti suami dan istri,” ujarnya.

Saat pertama menjalani hubungan, kata MSD, Bripka YSH ini menunjukan itikad sebagai orang baik-baik. Apalagi di hadapan Laurentius Jehono dan Lusia Ladus orangtua korban.

“Dia berani menginjak rumah saya ini. Selama ini dia (Bripka YSA) menunjukan keseriusan dalam berhubungan. Dia selalu bilang sabar sabar kalau saya tanya kapan keluarganya akan datang,” kata MSD.

Karena YSA dinilai tidak bertanggungjawab atas perbuatannya, kemudian MSD bersama keluarganya melaporkan kasus tersebut ke Propam Polres Manggarai.

Lusia Ladus (51), ibu korban mengaku, sebelum melaporkan kasus tersebut, keluarga pernah beritikad baik menyelesaikan permasalahan itu secara kekeluargaan.

Namun, polisi berpangkat Bripka tersebut enggan bertanggungjawab atas janin yang dikandung MSD.

Dihubungi terpisah, Humas Polres Manggarai IPDA Daniel Djihu menjelaskan bahwa hingga kini penanganan kasus tersebut menunggu jadwal persidangan.

“Kasus nya tinggalmenunggu jadwal sidang di propam,” tukas Daniel.

Laporan : Yon Sahaja

Artikel ini telah dibaca 17 kali

Baca Lainnya