Kesehatan Suara Redaksi

Rabu, 20 Mei 2020 - 23:05 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Foto: Ilustrasi (net)

Foto: Ilustrasi (net)

Menelisik Penyebaran Virus Corona di Flores

(Catatan Redaksi floreseditorial.com)

Kehebohan virus corona atau corona virus (Covid-19), bermula dari sebuah pasar makanan laut Huanan di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok. Sekitar 375 orang yang beraktivitas di pasar tersebut dikabarkan terserang infeksi virus, dengan gejala demam, lemas, batuk kering dan sesak nafas. Setelah diselidiki ahli kesehatan, ternyata penderita tersebut terserang virus corona.

Media massa melukiskan, pasar makanan laut Huanan seluas 50.000 meter persegi itu memang terkenal sebagai penjual bahan makanan dari hewan liar. Bahkan menyediakan ular, kelelawar, musang, ikan, kepiting dan udang. Sejak ditemukan pertama kali, tepatnya tanggal 31 Desember 2019, virus corona menyebar cepat ke penjuru dunia.

Bandingkan saja, hingga Selasa (28/1/2020), sudah 4.682 kasus yang terdeteksi di sejumlah negara. Rinciannya, China sebanyak 4.607 kasus dengan 106 orang meninggal, Hong Kong 8 kasus, Macau 7 kasus, Taiwan 7 kasus, Asia 38 kasus, Amerika Utara 6 kasus dan Australia 5 kasus.

Atas kondisi tersebut, organisasi kesehatan dunia (WHO) langsung menetapkan virus corona sebagai pandemi yang mesti diwaspadai. Bumi pun seolah berhenti berputar. Virus corona benar-benar menjadi monster menakutkan bagi umat manusia di seluruh penjuru dunia. Segala hiruk pikuk dan hingar bingar aktivitas manusia di seantero bumi seakan terhenti. Berbagai maklumat, himbauan dan larangan berkumpul dan bepergian, menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker dan tingggal di rumah pun gencar disosialisasikan kepada khalayak.

Meskipun berbagai upaya telah dikampanyekan secara masif, namun virus corona sulit dihentikan, penyebarannya hinggga menembus batas-batas negara termasuk hampir semua kabupaten se-daratan Flores-Lembata kini terpapar corona. Catatan redaksi berjudul “Menelisik Penyebaran Virus Corona di Flores” hanyalah sebuah catatan kaki sebagai gambaran kepada pembaca floreseditorial.com, tentang kronologis singkat penyebaran virus corona di wilayah Flores atau terkenal dengan sebutan Nusa Bunga ini.

Berasal dari klaster Gowa

Penyebaran virus corona di daratan Flores, pertama kali diketahui melalui hasil rapid tes terhadap puluhan orang asal beberapa kabupaten se-daratan Flores, yang baru kembali dari acara Ijtima Ulama Dunia 2020 di Gowa, Sulawesi Selatan. Acara Ijtima Ulama Dunia 2020 Zona Asia itu sendiri rencananya digelar selama empat hari, mulai tanggal 19 Maret 2020 hingga 22 Maret 2020 di Kecamatan Bontomarannu, Gowa, Sulawesi Selatan. Namun, acara tersebut kemudian dibatalkan karena digelar di tengah pandemi covid-19. Rencananya acara tersebut akan dihadiri sekitar 8.000 orang dari dalam negeri maupun luar negeri.

Beberapa hari sebelum acara tersebut dimulai, warga negara asing dari berbagai negara terlanjur datang ke Gowa. Tercatat ada 474 WNA yang berasal dari 12 negera di dunia telah tiba di Gowa. Peserta berasal dari berbagai daerah di Indonesia termasuk dari kabupaten-kabupaten di daratan Pulau Flores dan Lembata juga sudah tiba di sana.

Tak disangkal, kepulangan para peserta Ijtima membawa serta virus corona yang sedang menjadi pandemi bagi masyarakat dunia. Tercatat, dari 22 orang yang menjalani rapid test, 13 diantaranya terindikasi positif. Namun, untuk memastikan apakah mereka positif terpapar covid-19 atau tidak masih harus diuji lagi dengan swab. Demikian keterangan Juru Bicara Tim Satuan Gugus Tugas Pencegahan Covid-19 Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Ismail Surdi, dalam jumpa pers, Rabu 15 April 2020.

Juru bicara Ismail, mengisahkan, sepulangnya dari Gowa pada 24 Maret 2020 lalu, para jemaah sempat dilakukan screening di Pelabuhan Laut Komodo Labuan Bajo. Namun saat itu mereka tidak mengalami gangguan kesehatan. “Mereka pulang dengan kapal PELNI dari Goa Makassar. Mereka sudah periksa waktu datang, tapi tidak ada gejala. Namun kemudian, ada berita kasus positif dari kegiatan tersebut makanya kita lakukan rapid test,” ungkap Ismail.

Keterangan tersebut diperkuat oleh Kepala Bidang Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Mabar, Paskalina Kusumawati, dalam jumpa pers, menjelaskan awalnya Satgas Covid-19 melakukan rapid test kepada 22 orang yang baru pulang dari Gowa. Rapid test dilakukan pada tanggal 9 April 2020 terhadap 7 orang berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP). Hasilnya 1 orang positif. Selanjutnya, tim covid-19 Mabar melakukan tracing kontak terhadap 1 pasien positif tersebut.

Dari hasil tracing, diketahui bahwa ada 22 orang lainnya dari Mabar yang mengikuti kegiatan Ijtima di Gowa Sulsel. Sehingga tim gugus tugas melakukan screening kepada 22 orang dengan rapid test, hasilnya ada 12 yang positif. Sehingga total yang positif hasil rapid test sebanyak 13 orang dengan status 1 Orang Dalam Pengawasan (ODP) dan 12 Orang Tanpa Gejala (OTG),” papar Paskalina.

Meskipun hasil rapid test menunjukkan 13 orang itu positif covid-19, namun untuk memastikan mereka pesitif covid atau tidak, harus melalui uji swab test. Sedangkan 10 orang lainnya yang negatif rapid test akan dilakukan rapid test tahap kedua terhitung 10 hari dari rapid test tahap pertama yakni tanggal 25 April.

Paskalina juga menjelaskan untuk warga yang positif rapid test tahap pertama akan langsung dilakukan pemeriksaan swab dan tidak perlu menjalani rapid test tahap kedua. Dan sesuai ketentuan, 13 orang yang terindikasi positif, langsung dikarantina di rumah karantina yang disiapkan pemerintah.

Berdasarkan data, tercatat jumlah ODP di Manggarai Barat hingga 15 April 2020 berjumlah 106 orang. Dari jumlah tersebut, yang sudah melewati masa pemantauan 14 hari berjumlah 27 orang sedangkan yang masih dalam pemantauan ada 79 orang. Warga yang berstatus PDP sebanyak 7 orang. Warga berstatus OTG sebanyak 22 orang dan 2 meninggal dunia.

Sementara itu, di Kabupaten Manggarai, dikabarkan sebanyak dua Orang Tanpa Gejala (OTG) yang juga berasal dari klaster Gowa. Kedua orang itu pun dinyatakan reaktif berdasarkan rapid test. Keduanya bahkan memiliki riwayat kontak erat dengan dua pasien terkonfirmasi positif covid-19 di Kabupaten Manggarai Barat.

Sementara itu, kabar kepulangan peserta Ijtima ulama dunia di Gowa juga datang dari Kabupaten Sikka. Para peserta tiba di Kabupaten Sikka pada tanggal 24 Maret 2020 melalui Pelabuhan Lorens Say Maumere. Mereka datang menggunakan KM. Lambelu dan dikabarkan mereka menjalani pemeriksaan kesehatan dengan melakukan cek suhu tubuh oleh tim gugus tugas covid-19 setempat. Pada tanggal 7 April 2020 mereka selesai menjalani karantina mandiri, namun para jamaah Ijtima diberitakan tak satu pun dari mereka yang melaporkan perkembangan kesehatannya kepada posko gugus tugas covid-19 Sikka.

(*)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

Baca Lainnya
x