Manggarai Barat

Selasa, 25 Juni 2019 - 12:50 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi : republik.okezone.com

Ilustrasi : republik.okezone.com

Bongkar Pasang Calon Pilkada Mabar

Floreseditorial.com-Labuan Bajo, Pesta demokrasi pemilihan umum tahun 2019 sudah usai. Namun, sebagai negara demokratis kontestasi politik masih akan berlanjut pada tahun 2020.

Menyambut tahun demokrasi pemilihan kepala daerah pada sejumlah kabupaten di NTT, Kabupaten Manggarai Barat juga merupakan salah satu daerah yang secara politisnya tampak memanas dan seringkali memantik suasana merebut kursi empuk orang nomor satu daerah.

Peristiwa politik semacam itu kerap kali menjadi momen bertempur menyerang idealisme dan strategi politik yang mapan dan kredibel. Momen tersebut terkadang sebagai sebuah peristiwa sosial yang menyatukan konsep antara penguasa dan masyarakat sebagai penentu demokrasi.

Sebelum berlabu pada momen di mana mereka bermain, sekarang sudah tampak di permukaan dunia sosial, bahwa respon para warganet sudah pelan-pelan mencair seperti es. Beberapa sosok yang menjadi desas desus beberapa kelompok komunal dalam suatu masyarakat sungguh dirasakan.

Moment ini juga tentunya menjadi moment terbaik bagi pemburu kekuasaan. Yang mana mereka sedang meracik strategi dan konsep mematangkan cara memperlemah lawan dan menarik simpatik masyarakat menjadi satu kesatuan konsep. Peran-peran seperti ini terkadang menjadi bagian dari sebuah sandiwara politik, karena mereka-mereka itu telah meracik sebuah asa dan ambisi untuk menjadi nomor satu daerah. Pertimbangan etika politik dan moralitas sosial seringkali mulai diselewengkan demi meraup kekuasaan dan keambisian diri. Lantas, serangan etika dan moral apa yang bisa mengendus era bombastik mafia dan ambisi politis seperti ini? Mari kita berpikir sejauh mungkin tentang persoalan ini.

Beberapa peran dan strategi partai politik sebagai mesin dan corong politik juga tampak serius memantik para kandidat kursi panas tersebut. Partai Politik juga tidak ketinggalan memainkan peranya. Takut ketinggalan kereta. Atau takut ketinggalan jatah? Dinamika politik di Kabupaten Manggarai Barat terus bergulir. Tiada hari tanpa bahas Pilkada MABAR. Demikianlah fenomena sosial politis yang terjadi di daerah wisata ini. Pemburu-pemburu EB 1 itu tidak main-main bermain dan terus menerus meracik konsep dan nalar untuk mematahkan cara dan strategi politik lawan di kemudian hari.

Beberapa bulan terakhir setelah Pileg, sebagian partai politik sudah blak-blakan mengusung kadernya. Ada pun di antaranya seperti Partai Nasem dan PBB telah sepakat mengusung Edi Endi (selanjutnya EE) sebagai Cabup MABAR periode 2020-2025. Sampai saat ini, setelah EE telah ditetapkan dan diusung oleh Parpol tersebut, namun sampai kini masih belum menemukan siapa yang menjadi wakilnya. Untuk sementara, isu terkait wakil dari EE masih simpang siur bagaikan angin yang berlalu menyimpan rindu akan sosok orang nomor dua yang bisa mengubah wajah MABAR pada era transparasi birokrasi ini.

Beberapa informasi atau kabar liar sampai saat ini adalah EE berpasangan dengan dr. Yulianus Weng, Kadis Dinkes Manggarai. Tidak hanya itu, ada pula yang menyebut EE berpasangan dengan Ferdi Pantas. Namun, Hingga yang terakhir dikabarkan bahwa EE akan berpasangan dengan salah satu kader dari Pdi Perjuangan. tentunya salah satu kader PDIP Perjuangan ini masih menjadi misteri di balik fenomena politis demokrasi MABAR.

Gejala seperti bongkar pasang dalam konstelasi perpolitikan di Indonesia bukan menjadi hal baru dalam peristiwa pesta demokrasi. Percaya atau tidak percaya, peristiwa tersebut adalah sebuah kebiasaan politis. Tentunya, sistem bongar pasang calon merupakan suatu gejala yang menarik dalam peristiwa perpolitikan di Indonesia. Tetapi, apapun hasil dari peristiwa bongkar pasang calon wakil tersebut pastinya hanya menjadi konsumsi dari kelompok partai politik itu sendiri. Mereka sendirilah yang mengetahui persis, langkah mana yang akan dimainkan. Toh, terima atau tidak, politik merupakan bagian dari seni memainkan akting.

Kembali kepada pemilu 2020 mendatang, nama yang mencuat kepermukaan itu tidak hanya EE saja. Tidak hanya partai Nasem dan PBB saja yang mau berburu kekuasaan. Tentu Partai lain juga menginginkan hal yang sama. Meskipun masih banyak tokoh maupun partai yang masih malu-malu kucing. Ketakutanya adalah jika masih malu-malu kucing, jangan sampai yang terjadi adalah memilih kucing dalam karung kata teman saya.

Jika EE sudah terang benderang menabuh gendang perang, maka siapakah sosok yang menjadi lawan EE? Ini tentu menjadi salah satu bahan pertimbangan semua kandidat mengingat Nasdem adalah partai pemenang pemilu 2019.
Tetapi jika EE hanya maju seorang diri, maka apalah arti dari sebuah demokrasi bila harus melawan kotak kosong?
Melihat fenomena kandidat yang malu-malu kucing dan partai yang belum bersikap dalam pilkada 2020 mendatang, Petinggi PDI Perjuangan pun angkat bicara.

“PDI Perjuangan adalah partai besar dan memiliki kader potensial di setiap daerahnya. Untuk pilkada Manggarai Barat, tentu kami akan mengusung kader terbaik kami yaitu Ibu Maria Geong, yang sekarang jadi wakil bupati. Beliau punya kinerja yang baik selama menjabat sebagai wakil bupati. Tetapi, proses pilkada masih panjang, dan tentu kami berikan ksempatan kepada ibu Maria untuk fokus menjalankan roda pemerintahan yang sekarang”, pungkas Andreas Hugo Pareira saat dikonfirmasi oleh floreseditorial.com beberapa waktu lalu.

Dilansir dari Poskupang.com, Senada dengan yang disampaikan oleh AHG, Maria Geong juga menyatakan bahwa Pilkada itu masih panjang walaupun terasa singkat. Saat ini saya masih dimandatkan oleh masyarakat untuk menjadi Wakil Bupati. Tidak etis, jika saya jadi wakil buapti lalu mengurus pilkada. Tetapi yang jelas, bahwa saya akan maju sebagai calon bupati, tegas Maria Geong.

Dengan adanya signal terkait majunya Maria Geong sebagai calon bupati Manggarai Barat, tentu perhelatan pilkada tahun 2020 mendatang menjadi putaran bola panas. Maria Geong bukan politisi kemarin sore. Keuletan dan sikap keibuanya tentu menarik simpatik tersendiri bagi para pemilih di Manggarai Barat.

Siapakah Bakal Calon Wakil Maria Geong?

Kalau EE, nama wakilnya sudah merujut pada satu atau dua figure. Lantas bagaimana dengan Maria Geong? Ketika Floreseditorial.com mencoba konfirmasi kepada Maria Geong soal wakilnya, tetapi beliau tidak memberikan jawaban. Meski demikian, ada beragam spekulasi di luar oleh kelompok-kelompok peminat politik. Ada yang berspekulasi jika Maria Geong akan berpasangan dengan putra pertama fidelis Pranda yaitu Anjar Pranda. Ada juga yang mengatakan Maria Geong cocok berpsangan dengan Maxmilian Adipari seorang anggota DPRD Privinsi NTT dari partai Golkar yang merupakan putra pertama Mateus Hamsi. Hingga terakhir, isunya adalah Maria Geong akan berpsangan dengan salah satu politisi muda dari dapil 3, tepatnya dari Kecamatan Lembor.

Nama-nama yang beredar merujut pada dua nama yaitu Makarius Paskalis Baut, salah satu kader PDIP Perjuangan yang juga 2019 lalu ikut menjadi peserta Caleg DPR RI NTT 1 dari PDIP. Nama kedua adalah Anselmus Jebarus, salah satu kader Golkar yang sedang dan akan menjadi DPRD Manggarai Barat peridoe 2019-2024.

Melirik dua nama bakal calon di atas jika salah satu dari mereka yakni Makarius Baut atau Ansel Jebarus digandengkan dengan Mari Geong, tentu menjadi kontestan yang berimbang bagi lawan. Bagaimana tidak, keduanya sama-sama memiliki basis massa yang kuat. Tetapi, apapun opini yang dilemparkan oleh publik, bola panas tetap kembai kepada keputusan Maria Geong dan Partai pengusung.

Laporan: Risal Edison
Editor : Hardy Sungkang

Artikel ini telah dibaca 2290 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya
x