Cheap NFL Jerseys From China Wholesale Jerseys

Headline Hukum Manggarai Barat

Senin, 8 Juni 2020 - 20:32 WIB

6 bulan yang lalu

logo

Olah TKP oleh aparat penyidik Polres Mabar, diperagakan oleh seorang saksi. (Foto: Tim Redaksi)

Olah TKP oleh aparat penyidik Polres Mabar, diperagakan oleh seorang saksi. (Foto: Tim Redaksi)

Membongkar Tabir Misteri, Kematian Feliks Salut

Boleng, floreseditorial.com – Kabut duka masih menyelimuti keluarga besar almarhum, Feliks Salut (61). Kepala SD Golo Sepang itu ditemukan mati mengenaskan, di tengah semak belukar, sekitar 500 meter dari rumahnya. Ia diduga jadi korban pembunuhan berencana, oleh sekelompok orang tak dikenal, tanggal 13 Januari 2017 silam.

Setelah tiga tahun berlalu, kini keluarga korban mencoba berjuang untuk menguak tabir dibalik misteri kematian almarhum Feliks Salut. Keluarga menilai, almarhum meninggal secara tak wajar dan penuh rekayasa.

Untuk menelusuri kematian almarhum, Jumat (5/6/2020) pekan lalu, sejumlah penyidik dari Reskrim Polres Manggarai Barat bersama keluarga korban dan penasihat hukum keluarga korban, menjejaki kembali kasus dugaan tindak pidana pembunuhan berencana, terhadap almarhum Feliks Salut (61) itu. Penyidik datang melakukan penelusuran, sekaligus olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang tidak dilakukan oleh kepolisian pada awal kematian korban.

Flavianus Katu, anak korban, mengisahkan peristiwa naas yang menimpa Ayahanda mereka. Sebagai seorang guru dan kepala sekolah, korban seperti biasa menjalankan tugas kesehariannya sebagai seorang guru, di SD Golo Sepang. Selain berprofesi sebagai guru, almarhum punya aktivitas lain di luar sekolah, yakni beternak babi.

Seperti biasanya, setelah pulang sekolah, korban mencari pakan ternak berupa daun lamatoro atau batang pisang di lokasi TKP. Maklum, pakan ternak untuk babi memang hanya ada di lokasi itu. Selain daun lamatoro, korban kerap kali meminta batang pisang milik pemilik kebun di sekitar TKP.

Waktu itu, tak ada satu pun keluarga yang mengetahui keberangkatan korban mencari pakan di lokasi tersebut. Korban biasanya pulang ke rumah sekitar pukul 16.00 sampai 17.00 WITA. Tetapi, di hari naas itu, hingga pukul 18.00 WITA, korban belum juga pulang ke rumah. Keluarga pun tidak menaruh curiga. Anggota keluarga menduga, korban sedang ke rumah tetangga, meminta bantuan tenaga untuk menanam padi di sawah mereka esok harinya.

”Sampai jam enam, Bapak belum pulang. Kami berpikir, mungkin Ia sedang pergi mencari tenaga untuk tanam padi di sawah, esok harinya,” tuturnya.

Namun, hingga pukul 20.00 WITA, belum juga ada tanda-tanda korban kembali ke rumah. Saat itu, keluarga mulai penasaran dan curiga. Mereka mulai mengontak anggota keluarga terdekat dan mencari ke rumah para tetangga. Namun, hasilnya nihil. Malam itu, anggota keluarga langsung bergegas mencari korban. Mereka menyebar ke beberapa lokasi, tempat korban biasa mencari pakan untuk ternak peliharaannya.

Malam kian larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, di kala hujan turun dengan derasnya. Puluhan warga kampung yang ikut dalam pencarian itu, terpaksa membubarkan diri mencari perlindungan. Mereka kembali ke rumah masing-masing. Keesokan harinya, Sabtu tanggal 14 Januari 2017, keluarga bersama warga kembali melakukan pencarian.

Sementara itu, Petrus Pantur, Ipar kandung korban Feliks Salut, mencoba melaporkan peristiwa kehilangkan korban kepada aparat kepolisian setempat.

“Saya langsung ke kantor pospol, untuk melaporkan peristiwa kehilangan anggota keluarga,” ujarnya.

Pihaknya bertemu dengan Polisi Samsi, aparat keamanan yang bertugas di Terang. Saat itu, Polisi Samsi sedang berada bersama babinsa. Ia menyampaikan kronologis kejadian yang menimpa korban. Namun, Polisi Samsi mengatakan, laporan itu belum bisa ditindaklanjuti, karena kejadian tersebut belum sampai 1 x 24 jam. Jika kehilangan korban sudah sampai 1 x 24 jam, baru laporan dapat diterima. Polisi Samsi malah mengarahkan Ia, untuk melaporkan peristiwa tersebut kepada kepala desa setempat.

Mendengar jawaban Polisi Samsi, Ia pun kembali ke rumah, dan bersama keluarga melanjutkan upaya pencarian ke beberapa tempat. Proses pencarian hari itu, melibatkan banyak orang. Mereka menyebar ke beberapa lokasi. Sebagian, menelusuri kawasan persawahan dan lahan pertanian. Sebagian lainnya, memasuki kawasan perkebunan hutan jati.

Proses pencarian dipandu oleh seorang warga, yang belakangan diduga sebagai salah satu eksekutor korban. Saksi berinisial V, seolah mengetahui lokasi kejadian perkara.

“Oknum itu yang memandu kami dan seolah Ia mengetahui secara pasti keberadaan korban,” ujar salah seorang anggota keluarga korban.

Ketika tiba di hutan jati, saksi V mengarahkan beberapa warga untuk mencari ke bagian selatan dan beberapa warga lainnya diarahkan untuk menyebar ke utara, dan ke arah barat.

Sekitar pukul 13.00 WITA, korban berhasil ditemukan di tengah semak belukar, tidak jauh dari kebun warga. Menurut saksi mata, korban ditemukan dalam posisi tengkurap dengan kaki terlibat beralaskan sandal dan sabit. Saksi mata menyebutkan, tangan korban ada bekas ikatan tali atau rantai, dan di pelipis bagian kanan tampak luka bekas tusukan benda tajam. Mulut korban tampak berdarah dan di mulut korban terdapat pasir tanah.

Sekitar satu meter dari mayat korban, ditemukan remah-remah nasi. Situasi di TKP pun tidak menampakkan tanda-tanda yang mencurigakan, seperti jejak kaki manusia atau tumbuhan tak beraturan karena bekas injakkan kaki manusia. Maklum, malam itu hujan turun cukup lebat dan rerumputan di sekitar TKP juga masih basah. Namun anehnya, pakaian yang dikenakan korban tampak bersih dan kering. Padahal, semalaman hujan turun sangat deras.

Kesaksian keluarga korban, diperkuat oleh saksi mata lainnya, berinisial KL. Dalam kesaksiannya, KL mengaku, melihat langsung kejadian penganiayaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh sedikitnya empat orang. Kesaksian KL, disampaikan kepada para penyidik di lokasi TKP.

Ia mengisahkan, pada hari kejadian, Ia sedang semprot rumput di kebunnya, tidak jauh dari TKP. Sekitar pukul 12.00 WITA, saat sedang semprot rumput, tiba-tiba Ia melihat sejumlah orang melintas di tengah semak belukar. Ia mengaku mengenal orang-orang itu, dan Ia merasa curiga dengan kehadiran mereka, karena orang-orang itu tidak punya kebun di sekitar lokasi tersebut.

“Saya lihat beberapa orang lewat di antara semak-semak, di bawah hutan jati, saya curiga. Karena, orang-orang itu tidak punya kebun di sekitar sini,” ujar KL.

Selang beberapa saat, KL istirahat di bawah pohon jati, hanya beberapa meter dari TKP. Waktu itu, sekitar pukul 17.00 WITA. Saat hendak pulang ke rumah, Ia mendengar bunyi pukulan, seperti orang yang memukul anjing.

Jarak saksi mata dengan sumber datangnya bunyian tersebut, hanya sekitar 20 meter. Ia kemudian mengintip di antara semak-semak, dan terlihat sekitar 4 orang bersama korban. Korban tampak diikat dengan tali atau rantai, dan mulut korban diikat pula dengan kain yang sudah kumal.

“Saya melihat mereka mengikat Dia dan saya dengar bunyi, seperti orang pukul anjing. Saya lihat Pak Feliks dipukul. Saya ketkutan,”ujar KL dengan nada tegas.

Ia mengaku, melihat langsung korban dieksekusi secara sadis oleh empat orang itu. Kejadian tersebut disaksikan pula oleh Anaknya, yang kala itu masih duduk di bangku kelas lima SD. Setelah kejadian itu, Ia bersama Anaknya pulang ke rumah. Namun, karena penasaran dan ingin tahu lebih lanjut peristiwa itu, saksi KL kembali lagi ke TKP. Di lokasi tersebut sudah tidak ada orang.

Ia lalu mencoba mendekati lokasi kejadian dan menyaksikan secara langsung, korban sedang dalam posisi telanjang atau tanpa mengenakan busana. Ia menyaksikan kaki korban masih bergerak. Rupanya korban belum meninggal dunia. Kemudian, Ia pun bergegas kembali ke rumahnya dan tidak menceritakan peristiwa tersebut, karena dihantui perasaan takut. Belakangan, KL berani menceritakan peristiwa tersebut, kepada keluarga korban ketika kasus ini mulai diusut oleh kepolisian.

“Saya takut sekali. Saya takut dibunuh oleh mereka, sehingga saya tidak menceritakan kejadian ini. Baru sekarang saya berani ceritrakan,” ujar KL di hadapan penyidik saat olah TKP.

Para penyidik, Reskrim Polres Mabar bersama saksi keluarga korban dan pengacara hukum, sedang menuju ke lokasi TKP. (Foto: Tim Redaksi)

Korban Tidak Divisum

Sebelum korban dibawa pulang ke rumah, menurut saksi PP, sempat terjadi perdebatan antara pihak keluarga dengan polisi dan kepala desa di TKP. Keluarga korban meminta polisi mendatangkan dokter untuk melakukan visum, sebelum jasad korban dibawa ke rumah.

“Waktu itu, kami minta polisi datangkan dokter untuk melakukan visum, karena kami yakin, korban mati tidak wajar. Apalagi, mati di hutan dan ada tanda-tanda kekerasan,” ujar saksi PP yang juga Ipar kandung almarhum.

Namun, karena pertimbangan situasi dan kondisi korban, maka diputuskan, korban dibawa ke rumah dan pemeriksaan korban dilakukan di rumah. Korban pun dibawa ke rumah. Sekitar pukul 18.00, keluarga korban melaporkan peristiwa itu kepada Kapolpos Dominikus Hetong di Lando. Keluarga meminta polisi, agar mendatangkan dokter untuk melakukan visum.

Permintaan keluarga korban baru dipenuhi oleh polisi dan dokter, pada hari ketiga, yakni hari Senin, 16 Januari 2017. Perdebatan antara pihak kepolisian dan keluarga korban pun, berlangsung tegang dan cukup lama di rumah almarhum Feliks Salut, sebelum korban dimakamkan. Hadir saat itu, Kanit Reskrim Polsek Komodo, Polisi Nanang dan dokter S.

Anehnya, meskipun polisi dan dokter sudah ada di rumah korban, namun tidak ada tindakan medis seperti visum et repertum terhadap korban.
Dokter S beralasan, pihaknya belum dapat melakukan visum, karena belum ada perintah dari pihak kepolisian.

Perdebatan antara keluarga korban dan Polisi Nanang pun berlangsung tegang, di ruang tengah rumah korban. Menurut pengakuan keluarga korban, saat itu Polisi Nanang meminta uang Rp 100 juta sampai 150 juta kalau ingin jasad korban divisum atau diotopsi. Polisi Nanang bahkan menyatakan, uang tersebut harus diserahkan oleh keluarga korban saat itu juga, sebelum korban divisum atau diotopsi.

Terhadap permintaan itu, keluarga korban sempat menawarkan kepada Polisi Nanang agar korban tetap dilakukan visum dokter, sedangkan soal uang akan diurus kemudian oleh keluarga korban. Namun, Polisi Nanang tetap pada pendiriannya.

“Waktu itu, Polisi Nanang meminta agar uang sebesar itu harus diserahkan kepadanya, saat itu juga, sebelum korban divisum,” ujar Fian, anak korban.

Permintaan uang oleh Polisi Nanang, disaksikan oleh banyak anggota keluarga yang hadir. Polisi Nanang juga mengatakan, jika keluarga tidak mampu memenuhi permintaan uang tersebut, maka keluarga wajib membuat surat keterangan, yang menyatakan bahwa kematian korban adalah kematian yang wajar dan keluarga harus menerima kematian korban, sebagai kematian yang wajar.

Karena tidak ada titik temu dan mempertimbangkan kondisi korban yang mulai membusuk, keluarga korban akhirnya menyetujui permintaan Polisi Nanang untuk membuat surat pernyataan. Namun anehnya, surat tersebut tiba-tiba sudah disodorkan oleh Polisi Nanang untuk ditandatangani beberapa anggota keluarga. Rupanya, surat tersebut sudah disiapkan oleh Polisi Nanang. Surat itu berisikan pernyataan, bahwa kematian korban adalah kematian yang wajar.

“Kami keluarga tidak buat itu surat. Tiba-tiba, kami disodorkan surat oleh Polisi Nanang dan meminta kami untuk tanda tangan,” ungkap keluarga korban.

Meskipun tidak puas dan mempertanyakan asal usul dan maksud surat tersebut, namun karena situasi duka dan kondisi korban yang sudah tidak memungkinkan, maka keluarga akhirnya rela menandatangani surat keterangan tersebut, dan almarhum dikuburkan tanpa dilakukan visum atau otopsi oleh dokter.

Bagi keluarga korban, kasus ini harus diungkap, karena kematian korban bukan kematian wajar. Sekitar sembilan bulan kemudian, kasus itu dilaporkan oleh keluarga korban kepada polisi. Atas laporan itu, pada tanggal 4 Januari 2018, aparat kepolisian dan tim forensik melakukan otopsi, dengan menggali makam korban.

Namun, keluarga korban mengaku, hingga kini mereka belum mendapatkan penjelasan yang pasti dan memadai, terkait hasil outopsi yang telah dilakukan tim forensik.

“Sampai sekarang, kami belum mendapatkan hasil outopsi secara resmi dari dokter forensik. Kami hanya mendengar secara lisan saja, bahwa tidak ditemui tanda-tanda kekerasan,” ujar Heri, anak kedua korban.

Makam almarhum Feliks Salut, korban pembunuhan. (Foto: Tim Redaksi)

Keteledoran Aparat Kepolisian

Pengacara hukum korban, Hendrikus Rema, S.H, menyatakan, sebagai pengacara korban, pihaknya meminta kepolisian agar bekerja serius, mengungkap kasus kematian Feliks Salut.

“Kita minta aparat kepolisian untuk mengungkap tuntas kasus kematian ini. Karena, ada indikasi kematian korban tidak wajar dan ada unsur kekerasan,” tandasnya.

Ia menilai, korban tidak divisum, merupakan bentuk keteledoran oleh oknum polisi. Ia menyebutkan, dari kesaksian para saksi, baik saksi keluarga maupun saksi mata atau saksi fakta yang dihadirkan di TKP, mengindikasikan kematian almarhum Feliks Salut adalah kematian yang tidak wajar. Foto-foto kondisi korban, merupakan petunjuk bagi polisi untuk mengusut tuntas kasus ini.

Selain itu, dari olah TKP, terkesan kuat ada upaya manipulasi-manipulasi oleh para pelaku, seperti pakaian yang digunakan oleh korban masih tampak bersih dan kering, padahal pada malam itu terjadi hujan lebat. Ada pula beberapa petunjuk lain, yang bisa dijadikan penyidik untuk mengusut tuntas kasus ini.

“Kita melihat ada keteledoran aparat kepolisian, dalam menangani korban. Mereka tidak melakukan visum et repertum, padahal waktu itu ada dokter dan polisi di rumah korban. Bahkan, korban terpaksa disemayamkan selama tiga hari, hanya untuk menunggu pemeriksaan dari dokter. Tapi hal itu tidak dilakukan,” tegasnya.

Sebagai pengacara hukum korban, Ia meminta kepolisian untuk mendalami kasus ini dan mengusutnya sampai tuntas. Olah TKP yang dilakukan Jumat pekan lalu, sebut Dia, merupakan bagian dari tahapan proses penyelidikan, untuk menguak kasus kematian korban yang di duga tak wajar. Ia meminta penyidik polisi, agar sebelum gelar perkara, polisi perlu menghadirkan saksi ahli untuk memberikan keterangan. *(tim redaksi)

Artikel ini telah dibaca 18380 kali

Baca Lainnya