Cheap NFL Jerseys From China Wholesale Jerseys

Headline Hukum Manggarai Barat

Senin, 6 Juli 2020 - 16:17 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Korban, Feliks Salut, saat ditemukan di TKP. (Foto: Ist)

Korban, Feliks Salut, saat ditemukan di TKP. (Foto: Ist)

Polisi Kembali Olah TKP Kematian Feliks Salut

Boleng, floreseditorial.com – Kepolisian Resort Manggarai Barat, Sabtu (4/7/2020), melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) atas tragedi kematian, Feliks Salut (61). Mantan Kepala SDN Terang, Desa Golo Sepang, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat itu diduga mati tidak wajar.

Sebelumnya, Jumat (5/6/2020) lalu, tim penyidik Polres Mabar telah melakukan olah TKP di lokasi kejadian. Jika olah TKP pertama dimulai dari rumah korban menuju TKP, maka olah TKP kali kedua ini dimulai dari rumah kediaman salah seorang saksi korban yang disebut-sebut saksi kunci berinisial KL.

Kegiatan olah TKP kali kedua, selain melibatkan tim identifikasi penyidik Kepolisian Resort Manggarai Barat, hadir pula tim Pengacara/Konsultan Hukum, Hendrikus Rema, S.H dan Ferdinandus Himan, S.H dan Partners, selaku pengacara hukum keluarga korban, Feliks Salut.

Lokasi korban, Feliks Salut, ditemukan dalam keadaan telanjang. (Foto: Ist)

Pengacara Hukum Keluarga Korban, Hendrikus Rema, S.H, mengatakan, kegiatan olah TKP yang kedua ini dilakukan untuk menyelaraskan keterangan saksi yang sudah di BAP penyidik dengan fakta-fakta lain di lokasi kejadian. Terutama memastikan jarak antara satu titik lokasi kejadian dengan titik lokasi kejadian lainnya.

“Kita ingin agar semua menjadi terang, jelas dan transparan dalam mengungkap kasus ini. Kasus ini tidak boleh main-main. Ini menyangkut nyawa manusia. Kami ikut membantu polisi dalam kegiatan olah TKP ini,” ujar Hendrik.

Sebelum ke rumah saksi berinisial KL, tim penyidik melakukan identifikasi di tempat pemakaman korban di samping rumah korban. Usai melakukan identifikasi, tim menuju kediaman saksi mata berinisial KL. Dari rumah KL, selanjutnya tim penyidik menuju TKP yang berjarak sekitar 400 meter.

Saksi KL menjelaskan secara detail setiap peristiwa yang Ia lihat dan ketahui. Saksi KL menguraikan, sekitar Pkl. 11.00 Wita, Ia bersama anaknya berangkat ke kebun untuk menyemprot rumput. Ia membawa tangki berisi air, sedangkan anaknya yang kala itu masih duduk di bangku SDN Terang, membawa baskom penampung air.

Tiba di kebun, saksi KL melakukan penyemprotan. Sedangkan anaknya mengambil air di sumber air yang jaraknya sekitar 150 meter dari kebunnya. Sekitar Pkl. 12.00, saksi KL beristirahat di bawah pohon jati sekitar 30 meter dari TKP.

Tiba-tiba Ia melihat terduga pelaku berinisial M berdiri tidak jauh dari TKP. M, memberikan isyarat kepada saksi KL dengan meletakan tangan kanan di leher sambil jari tangan diletakan tegak lurus di mulutnya semacam simbol ancaman atau peringatan kepada saksi KL agar diam.

Namun, saksi KL tidak menaruh curiga. Sebab Ia tidak tahu maksud dari isyarat itu. KL pun melanjutkan kegiatan penyemprotan. Sekitar Pkl. 15.00 Wita, KL mendengar seperti orang pukul anjing. Saat itu, Ia mulai merasa takut, curiga dan penasaran.

“Pokoknya saya merasa takut, curiga dan penasaran. Saya takut, tapi saya juga penasaran,” ujarnya.

Saksi KL, bersama anaknya pun bergegas pulang. Namun, sekitar 150 meter, Ia bersama anaknya berhenti di sebuah batu besar. KL meletakkan alat semprotnya di atas batu tersebut. Usai meletakan alat semprot itu, KL bersama anaknya kembali ke TKP untuk mencari tahu apa sesungguhnya yang terjadi.

Beberapa meter dari tempat KL meletakakan alat semprot, saksi KL melihat korban, Feliks Salut, dieksekusi secara sadis oleh empat orang masing-masing berinisial VD, DJ, MA dan OB. Mereka mengikat tangan korban ke belakang diduga menggunakan rantai. Korban sempat berontak, namun tidak berteriak atau mengeluarkan suara keras. Mulut korban kemudian diikat dengan sehelai kain yang kumal.

Pengacara hukum keluarga korban, Hendrikus Rema, S.H, sedang membantu polisi mengukur jarak di TKP. (Foto: Ist)

Sebelum dieksekusi, VD, sempat mengeluarkan kata-kata, “Pak jangan marah, pengaruh kami mabuk,” demikian saksi KL menirukan kata-kata VD serempak VD menusuk pelipis bagian kanan korban dengan sepotong besi.

Setelah korban tidak berdaya, lalu menggotong korban dan meletakan di bawah rimbunan pohon pisang, sekitar enam meter dari TKP. Saksi KL dan anaknya lalu pulang. Namun beberapa menit kemudian, saksi KL bersama anaknya kembali lagi ke TKP untuk melihat apa yang terjadi.

Setibanya di TKP para pelaku sudah kabur atau sudah tidak ada lagi di TKP itu. Saksi KL bersama anaknya kemudian melihat di tengah rumpun pisang, namun korban tidak ada. Tetapi, sekitar 6 meter dari rumpun pisang, saksi melihat kaki korban sedang bergerak-gerak di tengah semak belukar di tutupi rerumputan yang sebagian masih tampak kering. Saksi KL, mendekat dan menyaksikan korban dalam keadaan telanjang. Saksi bersama anaknya pun langsung pulang ke rumah mereka.

Pernah terjadi keributan di sekolah

Saksi KL yang ditemui floreseditorial.com menyebutkan, pihaknya mengenal para terduga pelaku sebagai warga sekampung. Ia juga menyebut, terduga VD masih ada hubungan keluarga dengan KL karena dalam setiap acara keluarga, seperti dalam urusan adat istiadat maupun urusan keluarga lainnya, VD biasanya hadir.

“Kalau VD, saya tahu kami masih ada hubungan keluarga karena setiap acara keluarga dia selalu hadir,” ujarnya. Sedangkan hubungan saksi KL dengan terduga pelaku lainnya hanya sebatas sebagai sesama warga kampung. “Kalau pun bertemu, paling bertemu di gereja karena kami satu paroki,” tambahnya.

Saksi KL bercerita, sebelum almarhum meninggal, pada suatu waktu pernah terjadi keributan di sekolah, tempat almarhum bekerja sebagai kepala sekolah. Pada waktu itu, ada kegiatan pembagian Bantuan Langsung untuk Siswa Miskin (BLSM). Saat itu, orang tua siswa bersama pihak sekolah sepakat untuk memotong uang Rp 50.000 per siswa untuk transportasi.

Kesepakatan bersama menurut saksi KL, disetujui orang tua siswa bersama pihak sekolah. Namun, tiba-tiba terduga pelaku OB, bereaksi dengan berteriak sambil menunjuk-nunjuk ke arah korban. Situasi berubah memanas dan korban diamankan beberapa rekan guru ke ruangan kantor. Sedangkan OB, setelah melakukan aksinya langsung beranjak pergi. Saksi KL mengatakan, saat keributan itu, OB sempat keluarkan kata-kata, “Nanti kau lihat”.

Saksi KL mengaku, waktu kejadian itu, Ia hadir bersama orang tua siswa lainnya untuk menerima BLSM. Ia mengaku, tidak banyak mengetahui situasi di sekolah, tempat korban mengabdikan diri sebagai Kepala Sekolah hingga peristiwa kematian menimpa korban.

Keteledoran oknum polisi

Secara terpisah, Kuasa hukum keluarga korban, Hendrikus Rema, S.H, menyatakan salah satu titik krusial yang harus diungkap yakni, mengapa polisi tidak melakukan visum setelah korban ditemukan di TKP dan ketika korban sudah dievakuasi ke rumah duka. Padahal sesuai keterangan, keluarga korban menyebutkan, saat jenazah korban disemayamkan, polisi dan dokter hadir di rumah duka.

“Kita melihat ada keteledoran aparat kepolisian dalam menangani korban. Mereka tidak melakukan visum et repertum, padahal waktu itu ada dokter dan polisi di rumah korban. Bahkan korban terpaksa disemayamkan selama tiga hari hanya untuk menunggu korban di-visum. Tapi hal itu tidak dilakukan. Visum et repertum sangat penting dan wajib dilakukan sesuai amanat pasal 133 KUHP,” tegasnya.

Ia menyatakan, selaku kuasa hukum, pihaknya akan terus berjuang bersama polisi guna mengungkap kasus ini hingga tuntas. Dan semua pihak yang terlibat dalam kasus ini baik pelaku maupun pihak-pihak lain yang sengaja menutup-nutupi kasus tersebut harus diusut tuntas. Sebab, kematian Feliks Salut bukan sekadar pelanggaran hukum, tapi sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan. *(Tim Redaksi)

Artikel ini telah dibaca 21331 kali

Baca Lainnya
x