Manggarai Barat

Kamis, 5 September 2019 - 20:14 WIB

1 minggu yang lalu

logo

Kutipan surat Dedimus Lembu (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

Kutipan surat Dedimus Lembu (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

Takut Preman di Sekolah, Dedimus Lembu Enggan Masuk Mengajar

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Dugaan kekerasan yang dilaporkan oleh seorang guru bernama Dedimus Lembu memunculkan temuan baru.

Dedimus yang merupakan guru SMPN 1 KUBAR itu sempat melaporkan beberapa rekan guru termasuk kepala sekolah.

Dalam laporan yang dilayangkan kepada kepolisian dan dinas PPO itu, Dedi menuntut pihak-pihak terlapor untuk dipecat atau dipindahkan dari sekolah.

Menindaklanjuti laporan tersebut, kadis PPO MABAR memanggil pihak pihak terkait yang tercantum dalam laporan Dedimus.

Pada kamis (05/09) para terlapor mendatangi kantor Dinas PPO MABAR untuk memberikan klarfikasi atas laporan guru PNS itu.

Pada kesempatan tersebut, pihak-pihak terlapor membantah semua laporan dan tuduhan yang disampaikan oleh Dedi Lembu sebagaimana floreseditorial.com pernah menampilkan berita kronologis peristiwa kekerasan berdasarkan aduan Dedimus.

“Semua laporan dan tuduham pak Dedi itu sama sekali tidak benar”, tegas Biata, kepala SMPN 1 Kuwus Barat yang dalam laporan Dedimus menjelaskan bahwa Biata melakukan kekerasan atas dirinya.

“Pengroyokan itu tidak benar sama sekali, saya ada di lokasi saat itu dan sempat merekam kejadian itu”, kata seorang guru yang menurut Dedi terlibat saat memerintah anak murid kelas III untuk memukulnya.

Namun, ada hal menarik yang terungkap bahwa laporan Dedimus merupakan sebuah pengalihan isu atas kelalaian pelapor terhadap tugasnya sebagai seorang PNS.

Hal itu disampaikan oleh Marselimus Jeramun, Calon Wakil Ketua DPRD Manggarai Barat.

“Saya melihat kasus itu adalah upaya pengalihan isu yang dilakukan oleh pelapor atas kelalaian dia sebagai seorang guru. Menurut laporan yang saya terima bahwa yang bersangkutan hampir satu bulan tidak melakukan tugasnya sebagai seorang guru”, kata anggota dewan dari dapil Mabar II itu.

Pada saat bersamaan, kepala SMPN 1 Kuwus juga mengungkapkan hal serupa.

“Sebetulnya ini hanya modus dari saudara Dedi. Supaya ada pengalihan isu karena dia sudah hampir satu bulan tidak pernah ke sekolah”, katanya.

“Saya sebagai kepala sekolah sudah pernah melakukan peringatan dan juga pemanggilan terhadapnya tetapi dia tidak pernah datang memberikan klarfikasi”, tandasnya.

Lebih lanjut Biata menuturkan bahwa Dedimus justru mengirim surat balasan kepada pihak sekolah yang isi suratnya tidak jelas.

Berikut isi surat Dedi Lembu ketika menanggapi surat panggilan dari pihak sekolah.

“Kepada Yth.
Ibu kepala SMPN 1 KUWUS BARAT di tempat.

Dengan Hormat
Bersama surat ini saya sampaikan kepada ibu kepala SMPN 1 Kuwus Barat, bahwa saya tidak hadir melaksanakan tugas seperti biasanya karena keselamatan nyawa saya terancan di dalam lembaga, seperti yang saya rasakan pada peristiwa hari kamis tanggal 15-08-2019 oleh seorang preman masuk lembaga.
Setelah diadakan rapat orang tua, tokoh masyarakat yang akan dibuat oleh ketua komite perosoalan selesai baru saya saya akan kesekolah.
Demikian pemberitahuan dari saya. Terima kasih.

Hormat Saya
Dedimus Lembu

Menanggapi surat itu, pihak sekolah justru merasa ada keanehan atas surat yang dilayangkan Dedimus, karena peristiwa terjadi pada tanggal 15 Agustus 2019 itu merupakan persoalan lain, sedangkan yang bersangkutan tidak kesekolah sudah terjadi pada hari-hari sebelumnya.

Laporan : Edison Risal

Artikel ini telah dibaca 1744 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya