Manggarai Timur

Minggu, 5 Januari 2020 - 19:20 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Pembangunan Tempat Penjualan Ikan (TPI) di Pota yang menelan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2012 sebesar 1,6 M Lebih (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Pembangunan Tempat Penjualan Ikan (TPI) di Pota yang menelan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2012 sebesar 1,6 M Lebih (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Kapolres Matim Diminta Buka Kembali Dugaan Korupsi Proyek Pembangunan TPI Pota

Floreseditorial.com, Borong – Pembangunan Tempat Penjualan Ikan (TPI) di Pota yang menelan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2012 di kabupaten Manggarai Timur hingga kini tak jelas peruntukannya.

TPI yang berada di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, hingga kini tidak terurus dan tidak dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Pota.

Hingga saat ini tidak, ada tanda-tanda perbaikan lagi terhadap bangunan yang menelan anggaran sebesar 1,6 Milliar lebih itu.

Naasnya, bangunan tersebut telah ambruk dihantam ombak itu. Kini bangunan senilai 1,6 Milliar itu cuma dijadikan kandang hewan dengan kotoran yang berserakan.

Sementara beberapa Tahun lalu, persoalan ini pernah di suarakan oleh aktivis dan Mahasiswa dan telah dilaporkan oleh masyarakat pota ke pihak aparat penegak hukum.

Akan tetapi tidak ada tanggapan serius dari aparat penegak hukum untuk menyelesaikan persoalan ini.

“Kami menilai bahwa pemerintah dan aparat penegak hukum yang ada di Manggarai Timur tidak serius menangani persoalan Pembangunan TPI yang menelan anggaran miliyaran rupiah ini,” kata Abdull syukur, ketua PB HAM NTT.

PB HAM NTT menilai bahwa pembangunan TPI tersebut dibangun atas kepentingan sekelompok orang yang hanya ingin meraib keuntungan dari anggaran pembangunan itu.

“Toh sampai pada saat ini TPI itu tidak difungsikan sama sekali.
Maka kuat dugaan kami, ada indikasi korupsi dalam pembangunan ini,” ungkapnya, Minggu (05/01/2020).

Pihaknya mendesak agar aparat penegakkan hukum untuk membuak kembali kasus tersebut dan menyusutnya secara tuntas.

“Kapolres Manggarai Timur kami minta untuk membuka kembali persoalan ini, dan selidiki semua orang-orang dan pihak terkait dalam proyek tersebut harus diproses secara hukum karena dianggap telah merugikan uang negara,” tutupnya.

Pantauan media di Lokasi, bangunan tersebut terpantau seperti sebuah bangunan tua yang tidak terawat. Selain dipenuhi kotoran hewan, bangunan dengan harga 1,6 Miliar itu kini menjadi tempat ternak berteduh usai merumput.

Laporan : Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 1246 kali

Baca Lainnya
x