Manggarai Timur

Senin, 20 Januari 2020 - 23:29 WIB

4 bulan yang lalu

logo

Tu’a Gendang bersama tu’a-tu’a adat dan masyarakat adat Gendang Ara Pesek menyelenggarakan ritual adat “takung” di compang (mezbah) Lingko Lehong (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Tu’a Gendang bersama tu’a-tu’a adat dan masyarakat adat Gendang Ara Pesek menyelenggarakan ritual adat “takung” di compang (mezbah) Lingko Lehong (Foto: TeamYPF/Andre Kornasen)

Masyarakat Gendang Ara Pesek Gelar Ritual Adat ‘Takung’ di Lingko Lehong

Floreseditorial.com, Borong – Tu’a Gendang bersama tu’a-tu’a adat dan masyarakat adat Gendang Ara Pesek menyelenggarakan ritual adat “takung” di compang (mezbah) Lingko Lehong di desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Senin (21/01/2020).

Mereka juga mendirikan pondok di dekat compang tersebut bagi warga Gendang Ara Pesek untuk menjaga tanah ulayat Lehong tersebut dan compang tersebut.

Mateus Lapur, Tu’a Gendang Ara Pesek kepada media ini menyampaikan bahwa ada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang membongkar compang di Lingko Lehong itu. Compang yang sudah ada sejak zaman leluhur mereka.

“Kami tidak tahu siapa yang membongkar compang itu. Kami hanya bisa serahkan kepada Tuhan lewat para leluhur untuk menemukan dan memberikan setimpal kepada siapapun yang telah membongkar compang di Lingko Lehong ini. Itu kami sampaikan lewat doa adat dan ayam persembahan yang darah kami tumpahkan di atas batu-batu compang yang sudah kami bangun kembali,” kata Mateus Lapur.

Gendang Ara Pesek adalah gendang tertua di Desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai. Di Desa Gurung Liwut ini terdapat 5 (lima) Gendang, yakni: Gendang Ara Pesek, Gendang Rehes, Gendang Ratung, Gendang Mendang Lidi, dan Gendang Mendang Tuwa. Setiap Gendang memiliki tanah ulayat lingko-nya masing-masing.

Gendang Ara Pesek memiliki 3 (tiga) lingko, yakni: Lingko Ara, Lingko Sengang, dan Lingko Lehong. Gendang Rehes memiliki 2 (dua) lingko, yakni: Lingko Golo Koe dan Lingko Wae Nuling. Gendang Ratung memiliki 2 (dua) lingko, yakni: Lingko Mbaling dan Lingko Ngalas. Gendang Mendang Lidi memiliki 2 (dua) lingko, yakni: Lingko Cewe dan Lingko Kerok. Dan Gendang Mendang Tuwa memiliki 2 (dua) Lingko, yakni Lingko Tobang dan Lingko Tingo.

Menurut Gabriel Mahal, penasehat hukum Masyarakat Hukum Gendang Ara Pesek, Pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Manggarai Timur, harus mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat adat Gendang dengan segala hak ulayat atas tanah yang merupakan hak tradisional masyarakat adat Gendang itu.

“Itu kentuan Konstistitusi UUD 1945. Pasal 18 B ayat (2) UUD 1945 menetapkan bahwa Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang,” kata Gabriel Mahal.

Beberapa UU mengakui, menghormati, dan melindungi hak-hak masyarakat hukum adat dan/atau masyarakat lokal, seperti ketentuan Pasal 21 ayat (4) huruf be UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.

Soal dasar hukum hak ulayat itu, menurut Gabriel Mahal, sangat jelas ditetapkan dalam Pasal 2 ayat (4) UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (“UUPA”) yang mengatur bahwa hak menguasai dari Negara, pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah Swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat, sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional, menurut ketentuan-ketentuan peraturan pemerintah. Pengaturan inilah yang menjadi dasar bagi pengaturan tanah ulayat.

Kemudian dalam Pasal 3 UUPA ditetapkan bahwa dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan 2 pelaksanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa itu dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan Undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi.

“Gendang dan lingko dalam masyarakat hukum adat Manggarai, khususnya masyarakat hukum adat Gendang Ara Pesek itu, nyata-nyata masih ada, dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara, serta tidak bertentangan dengan undang-undang dan peraturan-peraturan lain yang lebih tinggi”, ungkap Gabriel Mahal.

Lebih lanjut, Gabriel Mahal menegaskan bahwa Pasal 6 ayat (2) UU No.39 Tahun 1999 menyatakan bahwa identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman.

“Hal ini berarti ketika Bupati/Pemda Matim mengabaikan pengakuan dan perlindungan terhadap masyarakat Gendang Ara Pesek dengan hak-hak ulayatnya atas tanah Lingko Lehong, hal tersebut merupakan suatu pelanggaran hak asasi manusia. Dan ini sekaligus merupakan pelanggaran terhadap the U.N. Declaration on the Rights of the Indigenous Peoples” yang disahkan pada tanggal 13 September 2007 dalam Sidang Umum PBB,” kata Gabriel Mahal.

Karena itu, Gabriel Mahal minta Bupati, Pemda Manggarai Timur jangan main-main dengan masalah hak ulayat Masyarakat Hukum Gendang Ara atas tanah Lingko Lehong itu.

“Saya dapat informasi Bupati Manggarai Timur mulai cari Dalu untuk menjustifikasi apa yang sudah dilakukan selama ini yang tidak mengakui hak ulayat Masyarakat Hukum Adat Gendang Ara Pesek di Lingko Lehong. Semoga informasi ini salah. Jika informasi itu benar, saya minta Bupati tidak melakukan hal itu. Karena, urusan Lingko di Desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong itu, merupakan urusan yang berada di bawah ototoritas masing-masing Tu’a Gendang. Bukan Dalu. Jangan sampai Dalu-nya nanti terseret dalam masalah hukum, karena bertindak melampaui kewenangannya atau melakukan perbuatan melawan hukum,” ungkap Gabriel Mahal.

Laporan : Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 2086 kali

Baca Lainnya
x