Cheap NFL Jerseys From China Cheap Jerseys Wholesale Jerseys

Manggarai Timur

Minggu, 13 September 2020 - 11:53 WIB

1 minggu yang lalu

logo

Masyarakat Lingkar Tambang hadiri Konsultasi Publik Rencana Tambang Batu Gamping Lengko Lolok di Lingko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Matim, Sabtu (12/9/2020). (Foto: Ist)

Masyarakat Lingkar Tambang hadiri Konsultasi Publik Rencana Tambang Batu Gamping Lengko Lolok di Lingko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Matim, Sabtu (12/9/2020). (Foto: Ist)

Masyarakat Lingkar Tambang Hadiri Konsultasi Publik Rencana Tambang Batu Gamping Lengko Lolok

Manggarai Timur, floreseditorial.com – Konsultasi Publik menjadi suatu tahapan awal dalam penyusunan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal). Hal tersebut, diatur jelas dalam Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2012 tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat dalam Proses Amdal dan Izin Lingkungan.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama PT. Istindo Mitra Manggarai (IMM) membuka Sosialisasi Konsultasi Publik dalam rangka Penyusunan Dokumen Amdal Penambangan Batu Gamping di Lingko Lolok, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Matim, Sabtu (12/9/2020).

Kegiatan Konsultasi Publik tersebut, menghadirkan Tim Peneliti Lingkungan Hidup, Sumber Daya Alam dan Agro Ekologi dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Pada kesempatan tersebut, Bupati Matim, Agas Andreas, menyampaikan, Lengko Lolok merupakan lokasi untuk penambangan batu gamping. Sedangkan di Luwuk sebagai lokasi pabrik.

Karena itu, lanjut Bupati Agas, Pemda Matim dan Tim Amdal menggelar Sosialisasi Konsultasi Penyusunan Dokumen Amdal. Kegiatan konsultasi ini, bertujuan untukmendengar dan menyampaikan saran dari masyarakat yang terkena dampak.

“Saya minta Tim Amdal harus mengkaji secara benar. Agar dampak positiflah yang dirasakan oleh masyarakat lingkar pabrik dan Manggarai Timur umumnya. Bahkan, harus meminimalisirkan dampak negatifnya. Karena pembangunan itu ada dampak positif ada juga dampak negatifnya. Tidak mungkin hanya dampak negatif saja. Pasti ada positifnya juga,” tegas Bupati Agas saat membuka kegiatan itu.

Menurutnya, izin yang dikeluarkan oleh pemerintah, merupakan media untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perusahan itu. Sehingga, pemerintah berhak untuk mencabut izin, apabila dalam proses pelaksanaan, perusahaan tersebut tidak mengikuti Amdal.

“Karena izin ialah media pengawasan pemerintah terhadap pelaksanaan perusahan ini. Sehingga, apabila Amdalnya sudah selesai, maka kami akan mengawasi itu. Misalnya, suatu saat nanti perusahaan ini pelaksaannya tidak sesuai Amdal, maka pemerintah berhak untuk mencabut izin. Karena apa yang telah disepakati oleh masyarakat dan perusahan itulah yang kami awasi. Dan Itu pasti,” tandas Bupati Agas.

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Undana Kupang, Herry Zadrak Kotta,  menyampaikan, pihaknya akan melakukan kajian Amdal secara profesional di Lokasi Penambangan Batu Gamping di Lengko Lolok.

“Saya apresiasi kepada masyarakat Lengko Lolok dan sekitar yang sudah menyampaikan saran. Sehingga memperkayakan kami untuk menjadi bahan masukan yang nantinya akan dibawa ke Komisi Penilaian Amdal. Karena yang menilai bukan kami. Ada komisi penilaiannya,” kata Herry.

Selain itu, Ia juga menjelaskan tentang karst. Menurutnya, karst kering itu seperti Batu Gamping yang memiliki topografi. Namun, fungsinya bukan sebagai penampung, tetapi sebagai penyalur air. Sedangkan karst basah, harus memiliki mata air yang permanen.

“Jadi, karst kering itu adalah batu gamping. Memiliki karst topografi. Tetapi fungsinya bukan sebagai penampung air, hanya sebagai penyalur saja. Jika ada air yang masuk, air itu akan langsung keluar. Jadi, seperti pipa saja. Ada air hujan turun, masuk ke dalam retakan itu tapi akan langsung keluar. Karena indikatornya jelas. Kalau berdasarkan karst, karst kering dan karst basah. Karst basah itu harus ada mata air yang permanen. Sehingga itu menjadi bahan diskusi intens dengan Badan Geologi,” jelasnya Herry.

Ia menambahkan, berdasarkan peta, karst di Lengko Lolok itu adalah karst level satu. Dengan begitu, sebagian di wilayah itu, bukan karst.

“Kalau dari peta yang ditetapkan, termasuk karst level satu sebagiannya. Sebagiannya lagi tidak. Bahkan, sebagian di Lengko Lolok ini bukan karst,” ungkap Herry.

Hadir dalam kegiatan tersebut Bupati Matim, Agas Andreas, Ketua LP2M, Umbu Lily Pekuwali, Ketua Tim Amdal, Herry Zadrak Kotta, Ahli Sosial dan Ekonomi, Johanna Suek, Ahli Pertanian, Toni Basuki, Dekan Pertanian Undana, Dami Adar, Ahli Hukum, Simplexius Asa, Ahli Biologi, Dr. Paulus Bhuje, Kapolres Matim, AKBP Nugroho Arie Siswanto, Dandim 1612 Manggarai, Kejari Manggarai, Camat Lamba Leda, Forkompinda Matim, Tokoh Agama serta masyarakat lingkar tambang. (*)

Artikel ini telah dibaca 1913 kali

Baca Lainnya
x