Manggarai Timur

Sabtu, 2 November 2019 - 09:05 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Mensi Anam,  Ketua  DPC Partai Hanura Kabupaten Manggarai Timur (Foto:Ist)

Mensi Anam, Ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Manggarai Timur (Foto:Ist)

Pilkades Usai, Mensi Anam: yang Menang Segera Memulai Rekonsiliasi

Floreseditorial.com, Borong – Pilkades serentak di Kabupaten Manggarai Timur sudah selesai dilaksanakan kemarin tanggal 31 Oktober 2019. Umumnya, pelaksanaan berjalan lancar, aman dan damai.

Pilkades adalah peristiwa istimewa, pelaksanaan demokrasi tingkat desa.

Mensi Anam, ketua DPC Partai Hanura Kabupaten Manggarai Timur kepada media ini menjelaskan bahwa dalam proses Pilkades tentu ada pendidikan politik, pendidikan demokrasi, belajar memahami perbedaan dan proses pembelajaran untuk menerima kekalahan dan kegagalan.

“Selain itu belajar mengekspresikan kemenangan dengan cara wajar dan tidak berlebihan,” kata Mensi Anam, Jumat (01/11).

Meski demikian, di beberapa tempat terjadi masalah karena Pilkades, bahkan ada yang ditunda seperti desa Benteng Raja Kecamatan Borong.

“Itulah cara-cara kita menghadapi pesta demokrasi. Kita bisa belajar dari kelemahan-kelemahan seperti ini,” imbuhnya.

Warga desa, kata ketua DPC Hanura Kabupaten Manggarai Timur itu, umumnya memiliki asal usul yang sama, berasal dari suku yang sama.

“Kalaupun berbeda pasti ada suku yang sebagai anak rona maupun sebagai anak wina. Rumah juga pasti berdekatan, bersebelahan,” tandasnya.

Dalam kondisi seperti ini, ungkap Mantan anggota DPRD itu, begitu ada PILKADES serentak, pesta demokrasi tingkat desa diselenggarakan tentu ada perbedaan politik, perbedaan pilihan dan perbedaan cara pandang dalam melihat visi misi dan program kerja dalam membangun desa yang ditawarkan oleh para calon.

“Perbedaan ini sulit dihindari, padahal sebelumnya satu kampung, satu suku, satu kelompok doa, satu kelompok arisan. Atas dasar itu, kepada warga desa di seluruh pelosok Manggarai Timur yang melakukan PILKADES serentak, bahwa hal yang paling pertama dilakukan adalah Lakukan Gerakan Rekonsiliasi Desa,” jelasnya.

Rekonsiliasi, kata Mensi, bersifat penting dan mendesak agar semua pihak kembali kepada kondisi semula yaitu aman dan damai, bersaudara dan bersahabat.

“Kedua, agar perbedaan pandangan dan pilihan politik tidak berdampak pada perpecahan atau anarkis tentunya,” imbuhnya

Kata dia, tentu ada begitu macam cara rekonsiliasi yang dilakukan.

“Salah satunya adalah ekspresi kemenangan. Jangan mengekspresikan kemenangan secara berlebihan karena pada saat yang sama ada calon dan timses lainnya bersedih, bahkan menangis. Apakah kita tega disaat kita berpesta ada yang bersedih? Tentu tidak. Hindari gengsi dan egoisme. Kita sudah menjadi pemimpin untuk semua warga desa, tidak hanya pemimpin bagi timses dan warga yang memilih pemenang saja,” jelas Mensi Anam.

Demikian halnya juga Elemen2 di desa, yang merasa dituakan atau komunitas orang muda yang ada di desa disarankan juga untuk menjadi motor penggerak untuk melakukan Gerakan Rekonsiliasi Desa.

“Lakukanlah, jangan tunggu lagi. Sebab akan begitu banyak hal yang dilakukan setelah pelantikan. Mari kita bergandengan tangan, bersatu kembali untuk desa sejahtera, mandiri dan maju,” tutup Mensi Anam.

Laporan : Yopie Moon

Artikel ini telah dibaca 884 kali

Baca Lainnya
x