Bisnis Featured Hukum Manggarai Timur

Senin, 18 Mei 2020 - 19:37 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Gabriel Mahal. (Foto: Ist)

Gabriel Mahal. (Foto: Ist)

Polemik Berlanjut Perlu Advokasi Warga Pro Pabrik Semen

Floreseditorial.com, Jakarta – Polemik rencana pembangunan pabrik semen PT Istindo Mitra Manggarai dan PT Singa Merah (SM) di Kampung Luwuk dengan warga Kampung Lengko Lolok di Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur masih berlanjut. Friksi terjadi bukan hanya kelompok masyarakat di dua wilayah kampung itu, tetapi termasuk elemen masyarakat di Manggarai Raya dan warga diaspora. Karena itu butuh advokasi terus-menerus dan berkelanjutan, baik bagi masyarakat pro tambang maupun warga tolak tambang.

Gabriel Mahal, salah seorang advokat kenamaan asal Manggarai menyampaikan hal itu kepada floreseditorial.com, Senin (18/5/2020). Dia menyampaikan hal itu agar advokasi tidak hanya diberikan kepada kelompok tolak pabrik semen, tetapi pendampingan juga diberikan bagi warga pro pabrik semen.

Menurut Gabriel, pro-kontra pabrik semen di Luwuk sangatlah normal dalam era demokrasi. Sebab sebagaimana pengalaman sebelum-sebelumnya, masyarakat Manggarai Raya selalu memberi penilaian dan catatan kritis terhadap pertambangan, baik dari sisi positif maupun sisi negatif. Tetapi, meski terjadi friksi dan perbedaan pendapat, tetapi selalu menghargai pilihan warga Kampung Lengko Lolok dan Kampung Luwuk.

“Saya sendiri menolak rencana pembangunan pabrik semen tersebut dan ikut pula menandatangani petisi penolakan rencana tersebut. Saya pendukung Gubernur NTT VBL dan Wakil Gubernur NTT JNS, sejak masa pencalonan dan kampanye dulu. Salah satu alasan penting dukungan saya itu adalah misi pembangunan pariwisata NTT sebagai prioritas dan penggerak utama ekonomi NTT, dan tidak diizinkannya lagi usaha pertambangan di NTT. Jadi, penolakan saya tersebut merupakan bentuk konsistensi dukungan saya terhadap misi Gubernur dan Wagub NTT,” ungkap Gabriel Mahal.

Meski demikian, terang Gabriel Mahal, pihaknya tetap menghargai pilihan warga masyarakat di kampung Lolok dan Kampung Luwuk yang menerima rencana pembangunan pabrik semen di kawasan itu. Sebab pilihan dukung pabrik semen itu merupakan hak warga atas tanahnya. Namun yang menjadi keprihatinan, lanjut Gabriel, ketika warga masyarakat kampung itu mendukung pabrik semen, artinya masyarakat setempat tidak hanya menjual tanah kebunnya atau lingkonya, tapi juga nilai-nilai sejarah, nilai kultural transendental yang tidak bisa dinilai dengan uang, berapapun besarnya rupiah yang bakal mereka terima.

Karena itu, lanjutnya, terhadap sikap yang masih pro-konta tersebut, pihaknya menghargai pilihan sikap orang-orang yang mau memberi advokasi kepada warga masyarakat Kampung Lengko Lolok dan Luwuk. Sebab warga dua anak kampung itu adalah para petani sahaja, saudara-saudara kita, umat gereja juga. Mereka, tandas Gabriel, masyarakat yang masih lugu dan polos ketika berhadapan dengan korporasi besar.

Sejauh pengalaman dan pengamatan, tambah Sekretaris ILC TV-One ini, warga masyarakat di lingkar tambang selalu termakan rayuan ‘janji-janji sorgawi korporasi’, namun faktanya tidak terpenuhi. Namun warga masyarakat tidak berdaya. Sebab mereka tidak punya “access to justice” yang merupakan suatu prinsip dasar negara hukum, rule of law. Tidak adanya akses kepada keadilan itulah, tegas Gabriel, mengakibatkan suara mereka tidak terdengar, hak-hak mereka tidak dapat diperjuangkan, dan mereka jadi korban ketidakadilan.

Dalam konteks itu, jelasnya, sangatlah penting advokasi atau pendampingan bagi warga masyarakat yang pro rencana pembangunan pabrik semen tersebut untuk memastikan ‘paket janji surgawi’ dari korporasi kepada warga masyarakat untuk dipenuhi. Jika tidak dipenuhi, maka kesepakatan dan rencana pembangunan pabrik semen dapat dibatalkan.

Gabriel Mahal, mengatakan adanya pendampingan dan advokasi dari Justice, Peace dan Integrity of Creation (JPIC) Keuskupan Ruteng, JPIC SVD, dan JPIC OFM bagi kelompok warga yang menolak pabrik semen merupakan hal yang baik. Sebab melalui pendampingan itu ada jaminan terpenuhi access to justice bagi kelompok warga yang menolak itu. Tetapi pertanyaan kemudian, tambah Gabriel Mahal, bagaimana dengan kelompok warga masyarakat yang menerima pabrik semen Luwuk ketika berhadapan dengan korporasi besar itu. Apakah ada yang mendampingi dan mengadvokasi para petani sahaja dan lugu itu ketika berhadapan dengan korporasi besar itu dalam memastikan hak-hak dan kepentingan mereka terpenuhi. Karena itu, saran Gabriel Mahal, kelompok pro pabrik semen Luwuk itu harus diberikan access to justice yang sama, baik sebagai warga negara maupun sebagai umat gereja. Karena itu pihaknya mengapresiasi kehendak baik dari siapapun yang mau mendampingi dan mengadvokasi warga masyarakat di kampung Lolok dan Luwuk yang menerima rencana pembangunan pabrik semen tersebut.

“Ini bisa bikin korporasi tidak happy. Semoga dengan ada advokasi tersebut, tidak hanya tiga pilar Corporate Social Responsibility (CSR), yakni Planet, People, Profit (3P’s) benar-benar dapat dipastikan, tetapi juga dan terutama semua ‘janji-janji surgawi’ korporasi itu dapat dituangkan dalam dokumen perjanjian yang benar-benar melindungi hak-hak dan kepentingan warga masyarakat. Apabila tidak dipenuhi oleh korporasi, perjanjian itu batal, dan rencana pembangunan pabrik semen itu pun gagal diwujudkan,” katanya.

Untuk kepentingan pendampingan atau advokasi kelompok pro pabrik semen itu, jelas Gabriel Mahal, tentu tidak bisa lagi mengandalkan Justice, Peace dan Integrity of Creation (JPIC) Keuskupan Ruteng, JPIC SVD, dan JPIC OFM. Sebab tiga JPIC di Manggarai itu sudah mendapat kuasa mendampingi warga masyarakat yang menolak rencana pembangunan pabrik semen tersebut.

“Di situlah peran dari orang-orang yang berkehendak baik untuk mendampingi dan mengadvokasi masyarakat yang menerima rencana pabrik semen tersebut dalam berhadapan dengan korporasi besar yang hendak bangun pabrik semen itu,” katanya.

*(Kanis Lina Bana)

Artikel ini telah dibaca 456 kali

Baca Lainnya
x