Cheap NFL Jerseys From China Cheap Jerseys Wholesale Jerseys

Manggarai Timur

Rabu, 9 September 2020 - 20:40 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Foto: Ilustrasi (net)

Foto: Ilustrasi (net)

Pondok ‘Esek-esek’ Pasar Borong

Borong, floreseditorial.com – Segudang persoalan terkait penataan Pasar Borong, membuat Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur (Matim) harus ‘putar otak’ untuk menemukan win win solution bagi semua pihak. Mulai dari perencanaan pembangunan pagar pembatas yang menuai penolakan dari masyarakat pengguna Pasar Borong, hingga masalah kebersihan pasar yang terus mendapat sorotan.

Belum tuntas penanganannya, masalah lain yang lebih kompleks pun muncul. Kali ini, bisnis urusan selangkangan mulai berseliweran di sekitar pasar tersebut. Saat ini, cukup mudah menemui gadis-gadis belia yang siap melayani para pelanggan yang datang dari berbagai penjuru. Sebagian diantaranya bahkan masih di bawah umur.

Gadis belia Pekerja Seks Komersial (PSK) menjajakan dirinya setiap malam. Jumlahnya semakin banyak saat malam Minggu dan malam Senin. Meskipun dengan cara yang lebih elegan dengan pura-pura duduk di pojokan terminal atau di lorong-lorong pasar yang cahayanya remang-remang, menunggu pelanggan yang umumnya sudah membuking melalui, KR, mucikari yang konon katanya sudah malang melintang dalam mencari pelanggan bagi gadis berusia belasan tahun itu.

Sebut saja, Boni (bukan nama sebenarnya, red), salah seorang warga yang berprofesi sebagai tukang ojek, saat ditemui tim FEC Media, Selasa (8/7/2020), menceritakan perihal bisnis ‘esek-esek’ yang menurutnya sudah berlangsung lama.

“Sudah lama ini, Om. Apalagi kalau malam Minggu dan malam Senin, mudah ditemui,” kata Boni.

Menurutnya, tarif sekali kencan berkisar antara Rp 150.000 hingga Rp 400.000.

“Biasanya mereka melihat siapa calon pelanggannya. Kalau pelanggan baru, mereka minta sedikit mahal. Tapi kalau sudah sering seperti kami, itu cuma seratus lima puluh ribu, kadang gratis kalau sudah sering,” cerita Boni, yang diketahui sering menggunakan jasa para PSK tersebut.

Ia menuturkan, awalnya Ia mengetahui adanya praktik bisnis selangkangan di Pasar Borong melalui, KR, seorang warga setempat.

“Awal-awalnya dulu, kalau sudah deal, gadis-gadis ini dibawa ke sebuah rumah, lebih mirip pondok di pinggiran Pasar Borong. Tetapi belakangan, biasanya langsung ‘buat’ saja di dalam lorong-lorong pasar. Kalau sudah agak larut, baru ke rumah itu,” ungkapnya.

Frans, salah seorang pedagang di Pasar Borong, menceritakan perihal pondok ‘esek-esek’ di Pasar Borong yang sering menjadi tempat kumpul para lelaki yang diduga ingin membeli jasa para PSK tersebut.

“Kalau malam hari, biasanya tempat itu ramai, didominasi lelaki yang datang. Apalagi, pondok itu berada di tempat yang cukup sepi. Di situ, kami liat ada anak kecil juga, mungkin umurnya belum 15 tahun,” kata Frans.

Biasanya, kata Frans, para pelanggan yang ingin datang ke pondok tersebut, mematikan lampu kendaraan mereka dari jauh.

“Mungkin supaya tidak ada yang liat,” tutup Frans. (*)

Artikel ini telah dibaca 3649 kali

Baca Lainnya
x