Manggarai

Kamis, 29 Agustus 2019 - 18:57 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Pipa proyek air minum di desa Bea Mese, tidak dibenamkan di dalam tanah (Foto: TeamYPF/Hardy Sungkang)

Pipa proyek air minum di desa Bea Mese, tidak dibenamkan di dalam tanah (Foto: TeamYPF/Hardy Sungkang)

Dinas PU Manggarai Didesak Kaji Ulang Proyek Air Minum di Desa Beamese

Ruteng, floreseditorial.com- Pengerjaan proyek air minum bersih di Desa Beamese dinilai gagal. Pasalnya, warga mengeluh terhadap penjaringan pipa air yang sangat memperihatinkan dan tidak maksimal hasilnya. Pantauan floreseditorial.com, Kamis (29/19) semua pipa air yang dialirkan ke rumah-rumah warga tidak memenuhi kriteria pengerjaan yang efektif. Hampir semua pipa tidak satu pun yang terbenam dengan baik.

Bukan cuma tidak dibenamkan di dalam tanah, pipa pipa inipun bahkan dibiarkan melalui sawah milik warga (Foto: TeamYPF/Hardy Sungkang)

Namun, sebetulnya masyarakat merasa putus asa untuk mengeluh terhadap kondisi air yang ada. Tetapi, muncul reaksi warga ketika baru-baru ini ada alokasi dana Anggaran Pendapat Belanja Daerah tahun 2019 ini dialokasikan kembali untuk jaringan air yang lama, yang mana jaring air tersebut merupakan proyek lama yang nota bene usianya baru satu tahun lebih tetapi hampir tidak dimanfaatkan oleh sebagian warga, khususnya jaringan air menuju kampung Rii, Lale, Purus, Runtu dan Desa Lando.

Berkomentar tentang kebijakkan tersebut, salah seorang warga Desa Beamese Hilarius Harim, kepada floreseditorial.com mengungkapkan bahwa betapa lemahnya sasaran alokasi APBD Kabupaten Manggarai. Lantas, Bagi beliau mengapa pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai dalam hal ini pelaksanaan teknis dinas Pengerjaan Umum Kabupaten Manggarai mengiyakan saja permohonan sebagian warga tanpa melalui kajian yang mendalam.

“Saya sangat heran ketika proyek baru air minum bersih di Desa Beamese ini langsung saja dilakukan tanpa kajian mendalam terhadap kondisi air di lapangan. Sebetulnya keadaan yang terjadi dilapangan bukan hanya kondisi debit air, tetapi jaringan air yang sangat tidak efektif. Karena itu, saya mengharapakan Kepada Dinas terkait untuk segera menindaklanjuti survei ulang terhadap keadaan yang ada,” papar Hilarius.

Pipa proyek air minum di desa Bea Mese, tidak dibenamkan di dalam tanah (Foto: TeamYPF/Hardy Sungkang)

Mengingat kondisi itu, pada kesempatan yang sama Anggota Badan Permusyawarah Desa (BPD) Beamese turut berkomentar. Bagi beliau masalah yang terjadi terkait air minum di Desa Beamese dan Lando adalah bukan terletak pada debit air yang sangat minim. Tetapi, sebetulnya proyek pembenahan terhadap jaringan air yang dikerjakan pada tahun lalu itu sangat tidak profesional dan tidak berkualitas. Sehingga, sistem penjaringan air pun tidak maksimal.

“Pegerjaan proyek air minum tahun lalu untuk Desa Beamese dan Lando itu sangat tidak profesional. Terbukti bahwa begitu banyak pipa air yang bocor, sehingga terkadang pada titik tertentu air tersebut berkelimpahan. Lalu tidak hanya itu, pipa air yang dialirkan ke desa lando dan beberapa kampung di Desa Beamese tersebut tidak dibenamkan dalam tanah sehingga pipa cepat rusak”, terang Vinsen Ubah kepada Floreseditorial.com

Ubah juga juga menjelaskan bahwa beberapa hari belakangan muncul tim teknis untuk melakukan pengukuran terhadap proyek air minum baru untuk satu jaringan saja yakni pastoran Rii. Yang mana sebelumnya jaringan air ke titik tersebut bersamaan dengan beberapa kampung di Desa Beamese dan Desa Lando yang sangat susah mencari air minum bersih.

“Kami heran ketika tim teknis melakukan pengukuran terhadap proyek air minum tersebut, sementara belum melakukan kajian mendalam tentang keadaan air di sana. Karena kami tahu bahwa sebetulnya yang terjadi di lapangan selain debit air kurang pada satu titik sumber mata air tersebut, jaringan pipa air yang dialirkan ke rumah-rumah warga juga sangat banyak yang sudah putus dan rusak. Hal tersebut juga diakibatkan karena pipa air tidak tertanam dalam tanah,” tambahnya.

Tidak hanya itu, Vinsen Ubah juga menginformasikan bahwa proyek air minum bersih sebelumnya berusia baru satu tahun lebih, tiba-tiba muncul proyek air minum bersih yang baru untuk jaringan air yang lama. Lantas, karena tidak mengindahkan kebijakan tersebut warga Desa Bemese pun menolak untuk melakukan proyek baru dengan pertimbangan, bahwa mereka menginginkan ketika dinas terkait telah melakukan kajian yang mendalam, maka yang sebetulnya di lapangan itu hanya perlu melakukan perbaikan jaringan yang lama dan bila perlu menambah pengadaan bak tampung.

“Kami terima proyek air minum bersih yang baru, tetapi bukan melakukan penambahan jaringan baru atau hanya untuk satu jaringan saja. Alangkah baiknya melakukan perbaikan saja terhadap jaringan air yang lama,” terusnya

Warga Desa Beamese juga patut pertanyakan kepada pemerintah daerah Kabupaten Manggarai apabila benar alokasi anggran untuk proyek yang baru senilai 650 juta rupiah hanya untuk satu titik saja. Bagi mereka sesuatu yang tidak mungkin jika dana sebesar itu hanya untuk mengerjakan proyek air minum untuk satu titik saja dengan perkiraan jarak sumber mata air sampai titik tersebut ± 2 KM saja.

Karena itu, Melalui BPD Beamese, Vinsen Ubah mengharapkan kepada Dinas Pengerjaan Umum Kabupaten Manggarai untuk segera melakukan pengecekan dan peninjauan kembali terhada lokasi tersebut.

Sementara hingga saat ini, media masih berusaha untuk mengkonfirmasi dinas PU kabupaten Manggarai.

Laporan: Hardy Sungkang

Artikel ini telah dibaca 459 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya