Manggarai

Kamis, 29 Agustus 2019 - 16:34 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Rumah panggung dengan ukuran sekitar 3 × 4 setengah meter milik Raimundus Hamid, salah seorang warga kampung Lengo Desa Toe Kecamatan Reok Barat kondisinya sungguh sangat memprihatinkan (Foto: TeamYPF/Adrianus Paju)

Rumah panggung dengan ukuran sekitar 3 × 4 setengah meter milik Raimundus Hamid, salah seorang warga kampung Lengo Desa Toe Kecamatan Reok Barat kondisinya sungguh sangat memprihatinkan (Foto: TeamYPF/Adrianus Paju)

Potret Kemiskinan di Manggarai, Masih Ditemukan Warga Diami Rumah Tak Layak Huni

Floreseditorial.com, Ruteng – Kemiskinan adalah problem utama bangsa Indonesia sejak awal mula merdeka hingga saat ini.  Berbagai upaya telah dilakukan oleh setiap era pemerintahan mulai dari kepemimpinan Presiden Sukarno, hingga masa pemerintahan Joko Widodo untuk mengentaskan kemiskinan. Namun angka kemiskinan hingga kini tidak juga menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Tanpa data statistik itupun, sangat mudah bagi kita untuk memotret kemiskinan di sekitar kita. Apakah itu di perkotaan ataupun di pesedaan. Secara vulgar, tak sulit warga yang tinggal di gubuk atau yang hidup dengan rumah tak layak dan lahan yang sangat sempit.

Demikian dialami salah satu warga kabupaten Manggarai. Sebuah Rumah panggung dengan ukuran sekitar 3 × 4 setengah meter milik Raimundus Hamid, salah seorang warga kampung Lengo Desa Toe Kecamatan Reok Barat kondisinya sungguh sangat memprihatinkan.

Pantauan wartawan Floreseditorial.com di lokasi tersebut, rumah dengan kondisi struktur atap yang koyak serta beberapa bagian tiang yang rapuh, saat ini masih didiami oleh tiga orang anggota keluarga.

Kepada wartawan media ini Senin 26/8/2019, warga yang sehari-harinya bekerja sebagai petani itu mengaku, bahwa pemerintah daerah kabupaten Manggarai tidak pernah peduli nasibnya.

“Saya mendengar bahwa selama ini pihak pemerintah memberi bantuan bangun rumah untuk masyarakat, saya sendiri belum pernah mendapat bantuan itu,” kata Hamid.

Kata dia, ada beberapa warga yang mendapat bantuan rumah beberapa tahun terakhir ini, sementara ia dan keluarga hanya bisa menonton saja.

“Sebagai masyarakat biasa, saya berharap agar pemerintah saat ini bisa memberikan bantuan kepada masyarakat yang  seharusnya layak mendapatkan bantuan tersebut,” tuturnya.

Terkait kondisi itu, dihubungi via telephone, Pelaksana Tugas Kepala Desa Toe Ahmad menjelaskan, bahwa semua bantuan masyarakat tergantung musyawarah dusun. (Musdus)untuk meregistrasikan siapa yang layak dapat bantuan”
.
“Bantuan untuk masyarakat bertahap, setiap tahun hanya ada 10 sampai 12 bantuan rumah layak huni, itupun hanya bantuan rehap, dan biasanya masyarakat minta bangun baru,” ungkapnya, Rabu (29/08).

Ia menjelaskan bahwa, Tahun 2019, semua anggaran bantuan perumahan sudah berjalan.

“Kalau Raimundus siap untuk dapat bantuan, tahun depan (2020) kita akan prioritaskan,” tutupnya.

Tonton berita TV Floreseditorial terkait liputan ini disini

Laporan: Adrianus Paju

Artikel ini telah dibaca 312 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya