Nasional

Sabtu, 24 Agustus 2019 - 09:48 WIB

3 minggu yang lalu

logo

Patrisia Laura Wohedone (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

Patrisia Laura Wohedone (Foto: TeamYPF/Edison Risal)

MGI Papua dan Aceh Tolak Rasisme

Floreseditorial.com, Labuan Bajo – Kegiatan Karantina Miss Grand Indonesia (MGI) 2019 dilakukan di Labuan Bajo yang berlangsung selama 3 hari, mulai tanggal 23-25 agustus 2019 dan Ajang kecantikan MGI ini didukung oleh Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Flores.

34 peserta yang mewakili 34 Propinsi di Indonesia akan menunjukan kemampuan masing masing dengan mengauasai materi di bidang pariwisata, sosial dan perdamaian. Sebagaimana yang disampaikan oleh Rezki Mealina perwakilan panitia penyelenggara kegiatan MGI.

“Tema MGI 2019 adalah Beauty in Diversity. Sebagamana kita ketahui bersama bahwa Indonesia memiliki kekayaan yaitu keberagaman. Keberagaman itu merupakan Kekayaan yang akan kita jadikan sebagai bagian dari icon pariwisata indonesia”, ungkapnya.

Lebih lanjut reski menyampaikan bahwa “selain menunjukan keberagaman, MGI juga akan menyuarakan isu sosial, isu perdamaian dan toleransi”.

Setara yang disampaikan rezki, MGI perwakilan Papua juga ingin menyerukan perdamaian, tolerasnsi dan penolakan terhadap rasisme yang selalu menjadi isu sensitif dan menyebabkan perpecahan.

“Saya patut bersyukur bisa menjadi perwakilan dari papua yang akan menyuarakan persoalan sosial, persoalan perdamaian, toleransi dan rasisme yang sedang trend di tanah pertiwi ini”, ungkap Patrisia Laura Wohedone saat diwawancarai oleh media ini.

“Indonesia adalah negara yang beragam, yang memiliki kekayaan kultur sebagai perekat persatuan. Tetapi apabila masih ada yang ingin perpecahan dengan menyebarkan rasisme, tentu sangat disayangkan. Kita mesti menjaga kekayaan ini”, katanya.

Ketika ditanyai pendapat mengenai peristiwa rasisme yang sedang terjadi di Indonesia, khususnya rasisme terhadap Papua, ia mengaku bersedih dan menyayangi peristiwa yang telah meruntuhkan perdamian itu.

“Saya bersedih dan menyesalkan peristiwa itu. Seharusnya kita saling mencintai, mencintai keberagaman, mencintai perbedaan agar kita mampu menghormati Hak Asasi Manusia”, tutupnya.

Sedangkan MGI perwakilan Propinsi Aceh juga memiliki komitmen untuk menyuarakan perdamaian, toleransi dan penolakan terhadap rasisme yang mengancam kedamaian generasi masa depan.

“Aceh dikenal sebagai propinsi yang menjalankan syadat islam tetapi kami juga menginkan kedamian di bumi pertiwi”, ujar Nadine Cutkatia.

“Rasisme itu adalah hal yang tidak baik yang tidak seharusnya lagi disoalkan oleh warga NKRI karena kemerdekaan bangsa ini merupakan perjuangan dari semua suku, agama, ras dan daerah. Oleh karena itu, saya menyayangkan rasisme yang terjadi di papua”, katanya ketika ditanyai mengenai rasisme.

Lebih lanjut Nadine mengajak agar semua peserta MGI 2019 juga untuk bersama menyuarakan penolakan rasisme di ajang kecantikan ini.

“Saya berharap rekan rekan saya yang menjadi peserta MGI juga turut menyerualan penolakan rasisme dan bersama kita menjaga keutuhan dan perdmaian Indonesia”, tutupnya.

Laporan : Edison Risal

Artikel ini telah dibaca 349 kali

Vidio Populer
Baca Lainnya