Ekososbud News

Rabu, 29 Mei 2019 - 16:47 WIB

6 bulan yang lalu

logo

Ilustrasi

Ilustrasi

13 Orang di KMT Meninggal Karena Rabies

Floreseditorial.com, Borong – Kasus gigitan hewan penular rabies di Kabupaten Manggarai Timur dari tahun 2009 s/d 2018 mengungkapkan fakta yang cukup mengejutkan.

Bagaimana tidak, tercatat sebanyak 4.311 kasus dan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 13 orang.

Bupati manggarai Timur Agas Andreas, SH,M.Hum dalam sambutannya yang dibacakan Sekda Ir. Boni Hasudungan saat memimpin rapat Komisi Pengendalian Zoonosis yang berlangsung di ruang rapat Bupati Matim. Rabu, (29/05/2019) mengatakan bahwa, Zoonosis adalah penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia atau sebaliknya yang dalam kondisi tenentu dapat berpotensi menjadi wabah atau pandemic bagi masyarakat di wilayah Kabupaten Manggarai Timur.

“Untuk itu kita berkewajiban untuk melindungi masyarakat dan daerah yang kita cintai ini dari ancaman penyakit zoonosis. Kita berkewajiban memelihara ketentraman hidup masyarakat kita,” kata Sekda Hasudungan.

Kondisi saat ini Kabupaten Manggarai Timur dan pulau Flores umumnya merupakan daerah endemik rabies, maka untuk pengendalian zoonosis lebih difokuskan pada upaya menanggulangi penyakit Rabies.

Strategi pengendalian zoonosis dilakukan dengan. Pertama, mengutamakan prinsip pencegahan Penularan kepada manusia dengan meningkatkan upaya pengendalian zoonosis pada sumber penularan.

Kedua, penguatan koordinasi lintas sektor dalam rangka membangun sistim pengendalian zoonosis, sinkronisasi, pembinaan, pengawasan, pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan, strategi dan pelaporan.

Ketiga, perencanaan terpadu dan percepatan pengendalian melalui surveilans, pengidentifikasian, pencegahan, tata Iaksana kasus dan pembatasan penularan, penanggulangan kejadian luar biasa/wabah dan pandemi serta pemusnahan sumber zoonosis pada hewan apabila diperlukan.

Rabies adalah penyakit hewan menular yang akut bersifat zoonosis (dapat menular dari hewan ke manusia ) dan sulit diberantas, sekali muncul gejala klinis penyakit Rabies pada penderita, baik pada hewan maupun manusia selalu diakhiri dengan kematian. Bahaya rabies ini akan mengakibatkan timbulnya rasa cemas, rasa takut serta keresahan masyarakat pada umumnya.

Memperhatikan data kasus gigitan hewan penular tersangka rabies yang semakin meningkat dan telah menyebar di seluruh wilayah Kabupaten Manggarai Timur, maka diperlukan adanya kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak untuk memberantasnya.

“Kegiatan eliminasi pernah dilaksanakan mulai tahun 2009 sampai tahun 2013 dengan jumlah anjing yang dieliminasi sebanyak 5.550 ekor, sejak tahun 2014 sampai dengan sekarang kegiatan eliminasi dihentikan dan hanya dilaksanakan melalui vaksinasi masal setiap tahun,” tandasnya.

Pertumbuhan populasi hewan penular Rabies di Kabupaten Manggarai Timur kurang terkendali ditambah dengan pola pemeliharaan yang kurang tertib merupakan potensi yang besar bagi penyebaran penyakit Rabies.

“Beberapa masalah dalam upaya penanggulangan Rabies di Kabupaten Manggarai Timur antara lain, Pertama, Kesadaran masyarakat dalam mendukung upaya penanggulangan Rabies masih rendah . Kedua, pola pemeliharaan HPR yang kurang tertib. Ketiga, kasus gigitan HPR tersangka Rabies cukup tinggi sementara persediaan VAR terbatas.

Ia menegaskan bahwa salah satu program yang dikedepankan adalah tingkatkan vaksinasi dan pendekatannya melalui pihak gereja dengan membentuk satu Paroki sebagai pilot proyek percontohan untuk setiap Kabupaten di daratan Flores dan Lembata.

“Pada waktu itu untuk Kabupaten Manggarai Timur pilot proyeknya adalah Paroki Borong sekaligus menjadi contoh untuk wilayah lainnya. Namun sejak tahun 2017 pilot proyek percontohan dipusatkan di Desa/Kelurahan,sebagai contoh tahun 2017 dilaksanakan di Kelurahan Nggalak Leleng dan Kelurahan Bangka Leleng Kecamatan Poco Ranaka dan Desa Nanga Labang Kecamatan Borong, demikian juga tahun 2018 dan selanjutnya pilot proyek akan dipusatkan di Desa/Kelurahan di wiayah Kecamatan yang ditentukan,” tuturnya.

Kata dia, rapat tersebut diharapkan dapat menghasilkan point-point penting bermanfaat untuk selanjutnya dipakai sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.

“Dalam rangka membebaskan kembali wilayah Kabupaten Manggarai Timur dari penularan penyakit Rabies dan terciptanya rasa hidup aman di masyarakat kedepan, maka dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak sangatlah diperlukan,” tukasnya.

Laporan : Andre Kornasen

Artikel ini telah dibaca 655 kali

Baca Lainnya
x