News Olahraga

Kamis, 24 Oktober 2019 - 10:36 WIB

2 bulan yang lalu

logo

Pertandingan terhenti sekitar 10 menit dan dapat dilanjutkan kembali setelah Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Bony Hasudungan, turun ke lapangan menenangkan Agus dan kawan kawan (Ist)

Pertandingan terhenti sekitar 10 menit dan dapat dilanjutkan kembali setelah Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Bony Hasudungan, turun ke lapangan menenangkan Agus dan kawan kawan (Ist)

Agus Mengamuk, Pertandingan Perse Ende Vs Persematim Sempat Terhenti Akibat Buruknya Kepemimpinan Wasit

Floreseditorial.com, Ende – Partai Semifinal perebutkan tempat ketiga antara Perse Ende versus Persematim Manggarai Timur piala Soeratin Cup U 17 tahun 2019 di Stadion Marilonga Ende Rabu 23/10/2019 tercoreng buruknya kepemimpinan wasit  Asprov NTT yang diketahui bernama Sisko, warga yang berdomisili di Kabupaten Sikka.

Akibatnya, pertandingan sempat terhenti karena Pelatih dan Official Persematim mengamuk.

Untuk diketahui, partai Perse Ende versus Persematim Manggarai Timur memperebutkan tempat ketiga pada Soeratin Cup 2019 setelah masing masing kedua tim sebelumnya mengalami kekalahan dari Persab Belu dan PSK Kabupaten Kupang.

Sejak peluit kick off dibunyikan pertanda pertandingan mulai, kedua tim bermain dengan tempo rendah. Keliatan motivasi main kedua tim tidak semangat seperti sebelumnya. Para pemain kurang ngotot dalam bermain.

Pertandingan berjalan kurang lebih 20 menit, kejanggalan demi kejanggalan mulai bermunculan. Dimenit ke 31 babak pertama Perse berhasil mencetak gol kegawang Persematim lewat nomor punggung 11 atas nama Aliman.

Berbagai keputusan dalam peristiwa pelanggaran dinilai aneh. Banyak sangksi tendangan bola mati malah lebih banyak diberikan kepada pelaku pelanggaran bukan korban yang dilanggar.

Demikian juga pemberlakuan tiupan pelanggaran yang dinilai tidak adil. Banyak jenis peristiwa pelanggaran yang sama dilakukan oleh kedua tim, namun wasit lebih cenderung meniup peluit ketika itu dilakukan oleh Pemain Persematim, sedangkan tim lawan tidak ditiup.

Selain itu, wasit juga terkesan mengatur tempo atau mendikte permainan anak anak Persematim dengan cara meniup peluit terjadi pelanggaran ketika terjadi body cas biasa pemain yang terjadi di area main Persematim dan bola berhasil dikuasai anak anak Persematim dengan maksud agar menekan laju serang anak anak Manggarai Timur ke daerah pertahanan Perse. Dan sebaliknya ketika anak anak Persematim sudah memasuki wilayah pertahanan Perse, wasit sangat sensitif serta cepat sekali meniup peluit jika terjadi Body Cas biasa dan bola dimenangkan anak anak Persematim, wasit pasti dengan sigap meniup peluit. Hal itu kelihatan dilakukan agar bola yang sedang dikuasai anak anak Persematim tidak membuahkan gol.

Peristiwa aneh lainnya, kapten Persematim dilarang untuk bicara meminta penjelasan terkait keputusan aneh oleh sang wasit. Anak anak Persematim makin stres saat bermain. Pelanggaran demi pelanggaran terhadap anak anak Persematim diwilayah permainan Perse semakin tidak dipeduli oleh wasit. Sebaliknya kalau terjadi pelanggaran oleh anak anak Persematim untuk pemain Perse wasit dengan sigap dan tegas meniup peluit lalu diikuti dengan ucapan ancaman ancaman kepada anak anak Persematim untuk jangan teriak dan jangan banyak bicara, serta dengan cepat panggil medis untuk angkat pemain keluar lapangan. Sedangkan bila terjadi sama pemain Perse wasit minta rawat di tempat dan tidak perlu bawa keluar lapangan.

Puncak amarah pemain dan official Persematim luap ketika salah satu pemain Persematim Dorintus A. Sebatu dihukum kartu merah hanya karena bertanya kepada wasit saat pelanggaran. Anak anak Persematim mogok main dan keluar lapangan karena tidak puas dengan sang hakim lapangan hijau.

Bak gayung bersambut, official dan semua para pemain cadangan Persematim berhamburan keluar dari banch melakukan protes dan teriak keras keras mengecam sang wasit.

Tidak puas dengan itu, Pelatih Kepala Persematim, Agus Supraman mendatangi banch panitia dan melakukan protes dengan pengawas pertandingan.

“Bagaimana ini pak. Wasit pemimpin pertandingan sangat tidak berlaku adil. Wasit sangat buruk sekali. Kenapa pakai wasit seperti ini. Wasit ini sangat buruk. Kepemimpinan wasit ini merusak citra sepak bola NTT”, kata Agus dikutip dalam video siaran langsung youtube untuk pertandingan itu.

Dalam video siaran langsung itu, Agus mencak mencak, dan marah besar dan sesekali berjalan mendekat ke arah wasit serta menunjuk nunjuk sang wasit yang kebetulan saat itu sedang berada di pinggir lapangan depan banch panitia. Agus mengucapkan kata kata bernada keras ke arah sang wasit.

“Kalau tidak mampu stop jadi wasit. Jangan orientasi uang, lalu tutup mata dengan dengan kemampuan sendiri. Rusak semua niat anak muda NTT yang merawat sikap sportif dalam dunia bola akibat prilaku buruk wasit tua bangka seperti ini. Kau berhenti saja jadi wasit daripada suatu saat akan terjadi hal yang tidak wajar sama kamu. Kamu tidak pantas jadi wasit lagi, kau pensiun saja”, teriak Agus dengan nada melengking keras.

Pertandingan terhenti sekitar 10 menit dan dapat dilanjutkan kembali setelah Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Bony Hasudungan, turun ke lapangan menenangkan Agus dan kawan kawan. Usai berdiskusi di banch Persematim, nampak pemain kembali ke lapangan permainan dan pertandinganpun berlanjut.

Kisah aneh sang wasit terus berlanjut. Disisa waktu babak kedua, wasit berbalik cenderung bela Persematim. Sampai sampai aksi konyol sang wasit sempat memposisikan dirinya sebagai tenaga medis di lapangan saat pemain Persematim jatuh tergeletak akibat dilanggar pemain Perse. Wasit bukannya panggil medis tim atau medis panitia, malah ambil alih lakukan sendiri tindakan oertolongan pertama kepada pemain. Wasit terkesan lebay istila ABG kini dan mau perbaiki kesalahannya dengan ingin menjadi pahlawan kesiangan ditengah malam biar tarik simpati dari pemain dan official Persematim.

Sampai peluit panjang ditiup tanda pertandingan berakhir, Perse unggul 1 – 0 untuk Persematim. Perse berhak di tempat ketiga dan Persematim diurutan 4 terbaik.

Kepada wartawan Agus menjelaskan bahwa saat ini wasit Asprov NTT semuanya sudah tua.

“Mohon ini menjadi catatan bagi Asprov NTT untuk berbenah diri. Sudah tidak seimbang lagi, anak muda yang kuat lari dipimpin wasit tua. Tentu berbagai peristiwa didalam lapangan tidak dapat disaksikan secara dekat sehingga keputusan di ambil merugikan salah satu pihak,” kata Agus.

Dari tahun ke tahun, katanya menambahkan, setiap even bola level provinsi selalu kelujan di wasit. Bila nanti Asprov PSSI NTT tidak segera ambil tindakan akan hal ini maka tibalah saatnya juga Askab PSSI Kabupaten Kota se NTT tidak ambil bagian atau tidak kirim Atlit pada turnamen bola yang di buat Asprov PSSI NTT

Laporan : Wahyu

Artikel ini telah dibaca 2002 kali

Baca Lainnya
x