Cheap NFL Jerseys From China Cheap Jerseys Wholesale Jerseys

Headline News

Kamis, 10 September 2020 - 19:50 WIB

2 minggu yang lalu

logo

Warga RT.10/RW.04, Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka menunjukkan umbi beracun yang mereka ambil dari hutan untuk dikonsumsi setiap harinya, selama satu bulan belakangan ini. (Foto: Yeremias Y. Sere)

Warga RT.10/RW.04, Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka menunjukkan umbi beracun yang mereka ambil dari hutan untuk dikonsumsi setiap harinya, selama satu bulan belakangan ini. (Foto: Yeremias Y. Sere)

Akibat Gagal Panen, Warga Desa Done Konsumsi Umbi Beracun

Sikka, floreseditorial.com – Sebanyak 27 Kepala Keluarga (KK) di RT.10/RW.04, Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) terpaksa mengkonsumsi umbi hutan beracun seperti ondo (bahasa Lio) sebagai pengganti makanan pokok selama sebulan terakhir, dikarenakan gagal panen sehingga membuat warga kelaparan.

Ketua RT.10/RW.04, Desa Done, Petrus Nanga, kepada floreseditorial.com, mengatakan, kelaparan akibat gagal panen ini sudah mereka alami sejak satu bulan terakhir. Dari 59 KK yang ada di RT.10, sebanyak 27 KK benar-benar mengalami kelaparan, sehingga mereka menggali umbi hutan beracun untuk dijadikan makanan.

“Selama ini, mereka bekerja di ladang menanam padi dan jagung demi memenuhi kebutuhan pangan. Namun, hasil yang mereka dapat tidak mencukupi kebutuhan, sehingga sebagian warga berusaha mencari cara menyambungi hidup dengan mengkonsumsi ubi hutan setiap harinya,” katanya.

Ia menambahkan, sebelum dikonsumsi, umbi beracun itu mereka bersihkan terlebih dahulu.

“Kami kalau mau pergi gali ubi, harus jalan kaki dengan jarak kurang lebih dua kilometer ke dalam hutan yang berada di atas bukit. Ubi itu beracun, jadi harus dibersihkan dulu sebelum dimakan”, tambahnya.

Senada, salah satu warga RT.10, Yeremias Juma, menyampaikan, tahun ini merupakan tahun yang terparah untuk mereka, akibat musim kemarau panjang yang menyebabkan kelaparan.

“Kami makan ubi hutan yang beracun karena kami lapar,” ungkapnya singkat.

Sementara, salah satu warga RT.10 lainnya, Bernadetha Baro, mengungkapkan, Ia sering menggali umbi beracun di hutan. Namun, satu minggu terakhir ini dirinya tidak pergi mencari umbi hutan lagi, karena telapak tangannya luka akibat nanah dari umbi tersebut.

“Saya ambil banyak memang umbi itu di hutan supaya bisa kami makan agak lama. Kalau ambil tiap hari, kami punya tangan ini luka semua karena nanah dari umbi itu,” jelasnya.

Menurutnya, agar umbi beracun tersebut bisa dikonsumsi, harus melalui proses yang sangat panjang. (ric)

Artikel ini telah dibaca 476 kali

Baca Lainnya
x