News

Minggu, 19 Mei 2019 - 20:30 WIB

3 bulan yang lalu

logo

(Ist)

(Ist)

Akui Salah Ketik Surat, Dinas PK Matim Minta Maaf

Floreseditorial.com, Borong – Setelah mendapatkan kritikan tajam dari warga net dan dari kalangan akademisi. Dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Manggarai Timur (PK Matim) secara resmi menyampaikan permohonan maaf atas kesalah surat tersebut.

Permohonan maaf atas kesalah tersebut tertuang dalam surat dinas PK Matim No: 420/864/PK/V/2019.

Surat yang ditandatangani oleh Basilius Teto selaku kepala dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Manggarai Timur pada tanggal (16/05/2019) itu menjelaskan bahwa terdapat beberapa kesalah dalam surat kepala dinas P dan Ke no: 420/856/PK/V/2019 tanggal 15 Mei 2019.

Dinas PK mengakui beberapa kesalah dalam surat tersebut diantaranya kesalahan pada tujuan surat tertulis dan kesalahan pada preposisi dan konjungsi.

Surat dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Manggarai Timur (Foto: Facebook Mereka Perlu Editor)

Untuk diketahui, sebelumnya dosen Sastra dan Bahasa Indonesia STKIP St. Paulus Ruteng Stanislaus Hermaditoyo kepada floreseditorial.com menjelaskan bahwa ada beberapa kesalahan yang tertera dalam surat dinas PK kabupaten Manggarai Timur tertanggal 15 Mei 2019 lalu, jika dilihat dari unsur kebahasaan.

“Seperti penggunaan “di” sebagai kata depan dan sebagai imbuhan serta penggunaan huruf kapital,” kata Magister Sastra dan Bahasa Indonesia itu, Kamis (16/05/2019).

Menurutnya, sebagai kata depan kata “di” umumnya untuk menunjukkan “tempat melakukan aktivitas, tempat keberadaan”,

“Biasanya diikuti kata benda yang menunjukkan tempat, dan dipisahkan dengan spasi dengan kata benda tersebut, misalnya, Saya membaca buku di kamar, atau Ibu ada di dapur menanak nasi,” jelasnya.

Selain itu ada beberapa penggunaan kata “di” sebagai kata depan yang diikuti kata benda yang menunjukkan waktu.

“Misalnya, Memandangi bintang yang berkelap-kelip di malam hari. Atau Berjalan-jalan mengelilingi kota di sore hari bersama sahabat-sahabat tercinta,” kata dosen STKIP St. Paulus Ruteng mencontohkan.

Sebagai imbuhan, lanjutnya menjelaskan, “di” sebagai imbuhan yang berfungsi menunjukkan bentuk pasif.

Biasanya diikuti verba (kata kerja), atau kata benda yang sudah “diverbakan” yaitu kata benda yang dijadikan verba dengan diberi imbuhan, dan penulisannya disambung,tidak memakai spasi.

“Misalnya, Adik dikejar anjing.
Almarhum akan dimakamkan siang ini
. Kata “makam” pada kata “dimakamkan” di contoh kalimat tersebut itulah contoh kata benda yang “diverbakan” yang saya sebutkan tadi,” jelasnya.

Penggunaan kata depan dan imbuhan yang salah pada surat dinas yang dikeluarkan oleh Dinas PPO Kabupaten Manggarai Timur seperti; di lamar, di buat, ditempat. Bentuk kesalahan tersebut dapat dibetulkan sebagai berikut; dilamar, dibuat, di tempat.

Selain itu, tambah Stanislaus, ada beberapa kesalah lain dari penulisan surat yang ditandatangani oleh Basilius Teto sebagai Kepala dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Manggarai Timur.

“Misalnya penggunaan kata Memasukan, seharusnya ditulis Memasukkan,” jelasnya.

Ia berujar bahwa kesalahan-kesalah yang sederhana harus diperbaiki sebelum diumumkan ke publik.

“Apalagi dinas tersebut adalah dinas Pendidikan,” tukasnya.

Laporan : Yon Sahaja

Artikel ini telah dibaca 2885 kali

Baca Lainnya