Headline Manggarai News

Sabtu, 4 Juli 2020 - 01:39 WIB

1 bulan yang lalu

logo

Deno Kamelus (Foto:Media Indonesia)

Deno Kamelus (Foto:Media Indonesia)

Bupati Deno ‘Cuci Otak’ Anggota Dewan

Ruteng, floreseditorial.com – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai dari Partai Hanura mendapat asupan pengetahuan gratis dari Bupati Manggarai, Dr. Deno Kamelus, S.H., M.H di ruang rapat Dewan, Kamis (2/7/2020) siang. Pelajaran gratis tersebut disampaikan guna “mencuci otak” anggota Dewan itu agar santun dalam diksi politik. Hanya pilihan kata yang tepat berdampak pada pesan yang hendak disampaikan.

Bupati Deno, menyampaikan hal itu menanggapi pendapat, Paul Jemarus, salah seorang anggota DPRD Manggarai yang menilai, Bupati Deno, duduk manis saat kunjungan kerja ke desa-desa.

Sidang dipimpin Wakil Ketua DPRD Manggarai, Osi Gandut, didampingi Ketua DPRD, Mathias Nasir dan Bupati Manggarai, Deno Kamelus, S.H., M.H. Agenda pokok sidang berupa pandangan umum Fraksi-Fraksi DPRD Manggarai terhadap laporan keuangan tahun anggaran 2019. Usai menyampaikan pandangan fraksi yang pada intinya setuju dibahas lebih lanjut, diisi informasi-informasi aktual yang terjadi di tengah masyarakat.

Paul Jemarus, yang mendapat kesempatan bicara menyampaikan beberapa informasi aktual. Diantaranya, perda tentang larangan membangun fasilitas pribadi di lahan produktif seperti area persawahan di Reok. Selain itu, keluhan tentang Bantuan Langsung Tunai (BLT), terutama alur dan pihak yang bertanggung jawab atas keberatan BLT itu. Anggota Dewan, Paul Jemarus, menyatakan keberatan letak Patung Motang Rua di pinggir lapangan Motang Rua. Menurutnya letak patung itu secara psikologis mempengaruhi tafsiran publik seolah-olah membelakangi rakyatnya sendiri. Pihaknya meminta letak patung itu lebih representasi baik aspek psikologis maupun karakter masyarakat Manggarai. Tidak itu saja, anggota Dewan dari Partai Hanura ini menilai kinerja, Bupati Deno, selama berkunjung ke desa-desa hanya duduk manis.

Terhadap informasi aktual tersebut, Bupati Deno, menjelaskan detail demi detail dalam nada santai tapi menggigit.

Menurut Bupati Deno, diksi duduk manis hanya disematkan kepada pengantin. Sebagaimana pengantin, demikian Bupati Deno, harus dandan saraya duduk manis. Undangan datang menyapa dan mengelus manjakannya. Sedangkan pihaknya turun ke desa-desa bekerja untuk rakyat. Berkunjung dari desa yang satu ke desa yang lain, terangnya, dalam rangka menjemput kebutuhan masyarakat seraya mengulurkan bantuan dan kegiatan-kegiatan pembangunan lainnya. Karena itu, diksi duduk manis, hematnya, sangat tidak tepat.

Sebagai anggota Dewan, urai Bupati Deno, pokok pikiran, diksi dan narasi harus tepat sehingga tidak menimbulkan multi tafsir. Diksi yang tepat, jelas Bupati Deno, membuktikan kualitas intelektual seseorang. Karena itu, sebagai anggota Dewan terhormat, pinta Bupati Deno, hendaknya menempatkan narasi-narasi yang rasional dan objektif, bukan sebaliknya. Narasi yang tepat mencerminkan kapasitas dan kapabilitas seorang wakil rakyat. Sangat disayangkan jika diksi argumentasi tanpa melalui pertimbangan rasional. Padahal pesan akan terjangkau apabila dinarasikan secara tepat, cermat dan objektif. Sebaliknya, diksi sekadar digunakan menimbulkan ambigu dan tendensius.

“Sebagai anggota Dewan, diksi-diski politik harus tepat. Sangat disayangkan apabila bupati yang berkunjung ke tengah masyarakat ditafsir duduk manis. Bupati datang ke tengah masyarakat untuk melayani warganya. Bupati bukan pengantin yang datang duduk manis di tengah rakyatnya,” jelas Bupati Deno.

Terkait perda yang mengatur larangan bangun fasilitas di lahan produktif, pinta Bupati Deno, dapat baca lebih lanjut. Sementara tentang letak patung Motang Rua, jelas Bupati Deno, tidak bermasalah. Sebab rakyat Manggarai ada di wilayah utara, selatan, timur dan barat. Berdasarkan pertimbangan tersebut, terangnya, letak patung Motang Rua menghadap ke kantor Bupati Manggarai, sangat tepat.

Terhadap penjelasan itu, Paul Jemarus, hendak mengajukan keberatan. Namun pimpinan sidang, Osi Gandut, tidak memberi kesempatan dan langsung mengetuk palu tanda sidang berakhir. *(klb)

Artikel ini telah dibaca 1234 kali

Baca Lainnya
x