Ilustrasi Kos-kosan (Foto:Flickr)

FLORESEDITORIAL.COM, BORONG – Mencuatnya dugaan sejumlah hotel dan kos-kosan di Borong yang kabarkan menjadi tempat prostitusi terselubung membuat sejumlah kalangan angkat bicara.

Kekhawatiran akan munculnya penyakit menular seperti HIV dan AIDS yang akan merebak dengan cepat jika praktik ini terus dibiarkan membuat beberapa pihak bersuara agar perlu adanya pengawasan secara ketat bagi para pengelolah hotel dan kos-kosan di pusat ibu kota kabupaten Manggarai Timur itu.

Akademisi Laurentius Ni, S.H., M.H., kepada media ini menjelaskan bahwa pemerintah perlu mengawasi secara ketat hotel – hotel yang ada di Borong, salah satunya dengan mendata setiap tamu yang masuk dan menginap di setiap hotel yang ada di Borong.

“Waktu checkin, management hotel bisa memberitahukan aturan-aturan yang ada di hotel termasuk larangan tidur sekamar bagi tamu yang bukan suami istri, sehingga pelanggan bisa tahu,” jelasnya.

Selain itu, Lanjut Laurentius, sebelum menginap, pemesanan kamar hotel harus mendaftarkan diri sebagai pengguna kamar hotel dengan menunjukan identitasnya agar pemilik hotel bisa mengtahui setiap tamu yang hadir di hotel tersebut,” kata Kandidat doktor hukum itu.

Akan tetapi, jelasnya, jikalau pemilik hotel hanya mengejar keuntungan semata tanpa mengedepankan administrasi perhotelan yang baik serta nilai-nilai moralitas, maka patut diduga penginapan tersebut sengaja membiarkan praktik tersebut terjadi.

“Untuk itu pemerintah daerah harus memberikan pengawasan yang ketat dengan melihat daftar nama tamu yang nginap di hotel tersebut selama ini dan semua hotel yang ada di Borong. Jika hotel tersebut tidak ada daftar tamu yang menginap (upaya untuk menghilangkan jejak orang-orang yang pernah menginap), maka ada indikasi hotel tersebut yang membiarkan bahkan turut bekerja sama serta memfasilitasi praktik prostitusi terselubung selama ini,” tegasnya.

Jika ada indikasi seperti itu, katanya melanjutkan, pemerintah daerah harus tegas untuk memberikan teguran kepada pemilik hotel.

“Bila perlu hotel tersebut untuk sementara waktu di tutup, jika tidak ada buku daftar tamu yang pernah menginap di hotel tersebut. Kalau ada pengaduan dari masyarakat ke polsek Borong, maka pihak kepolisian bisa mengambil langkah-langkah preventif terhadap pemilik hotel tersebut,” tuturnya.

Selain hotel, Laurentius berujar bahwa pengawasan serius juga harus diberlakukan bagi para pemilik kos-kosan yang ada di Borong.

“Misalnya dengan melibatkan pemerintah setempat seperti RT atau RW, sehingga mereka bisa mengawasi semua para pengguna kos-kosan termasuk jika ada indikasi terjadinya praktik Prostitusi di kos-kosan diwilayahnya tersebut” tukasnya.

Untuk diketahui, maraknya dugaan praktik Prostitusi tersembunyi di kabupaten Manggarai Timur memunculkan kekhawatiran serius masyarakat.

Pemerintah diharapkan untuk bersikap tegas dengan memantau secara serius praktik bisnis haram tersebut yang kini mulai terjadi di kabupaten yang baru berusia 11 tahun itu.

Laporan : Yon Sahaja

Komentar Anda?